Berbicara kepada surat kabar The Financial Times, Reinhard Mitschek mengatakan, konflik tersebut `tidak berpengaruh` terhadap rencana pemasangan jalur pipa yang didukung oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa itu, yang diperkirakan akan selesai pada 2013.
Jalur pipa sepanjang 3.300 kilometer itu melintang melalui Turki dan negara-negara Balkan ke Austria, dan Mitschek mengatakan kepada harian bisnis itu bahwa survei pasar telah menunjukkan `permintaan yang tinggi` atas komoditi tersebut.
"Konflik Georgia tidak berdampak terhadap Nabucco atau perencanaannya, yang rencananya pengiriman pertama akan dilakukan pada 2013," katanya.
"Kami sedang memfokuskan pada pembangunan proyek. Nabucco tetap jalan dan semua mitra memutuskan sepenuhnya berkomitmen untuk mewujudkan proyek itu."
Dia menambahkan bahwa rencana jalur pipa Rusia, yang dijuluki South Stream, yang akan menempuh tujuan sama ke Eropa tidak membuat Nabucco kekurangan minat.
"South Stream dan Nabucco bukanlah proyek-proyek persaingan," ujarnya.
"Eropa menghadapi peningkatan kuat dalam permintaan gas dalam 20 tahun mendatang. Sedangkan produksi gas kami di Eropa menurun, karena itu kami memerlukan proyek-proyek lainnya serta tambahan jalur," katanya.
"Itu bukan masalah bagi South Stream atau Nabucco: kami akan memerlukan keduanya." (*/bee)