"Bila pengurus hanya mengandalkan APBD Pemkot Tangerang tentu tim ini sulit untuk berkembang, padahal petinggi kesebelasan lain mampu menggali dana," kata pemerhati sepak bola Abdul hamid dihubungi di Tangerang, Jumat (5/9).
Dia mengatakan, banyak tim lain yang mengikuti kompetisi Liga Indonesia (LI) 2008 menggali dana di luar APBD, karena pengurusnya mampu mendatangkan sponsor.
Menurut dia, pihaknya merasa heran bahwa banyaknya perusahaan yang beroperasi di wilayah ini mencapai 1.080 pabrik dengan skala ekspor dan lokal, namun tidak sanggup memberikan kontribusi kepada tim sepak bola.
Hal ini sungguh ironis, beberapa pabrik sepatu skala ekspor seperti perusahaan penghasil ban dengan standar dunia, perusahaan makanan, dan aneka produk elektronika berada di daerah ini dengan merekrut ribuan karyawan, tapi tidak mau bertindak sebagai sponsor.
Menurut dia, tentu harus ada pendekatan khusus yang dilakukan pengurus agar pimpinan perusahaan memberikan dana segar. Salah satunya dengan kompensasi pemasangan sponsor.
Sebelumnya diberitakan, Persikota kesulitan keuangan sehingga menyebabkan tim terancam tidak bisa melanjutkan kompetisi LI 2008, akibatnya manajer H. Achmad Dasuki tidak sanggup mengelola dan menyerahkan sepenuhnya kepada Ketua Umum H. Wahidin Halim yang juga Walikota Tangerang.
Sedangkan kontrak pemain asing dan lokal sudah dua bulan tidak dibayar, sehingga mereka hampir tiap hari menagih agar dapat dilunasi.
Ketua Umum Persikota, H. Wahidin Halim enggan mengucurkan dana akibat Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah yang hingga saat ini belum juga direvisi sehingga khawatir terjerat hukum.
Jika payung hukum penggunaan dana itu belum juga direvisi oleh Mendagri, maka pihaknya tidak mau menanggung risiko pidana karena dianggap bertindak korupsi.
Padahal setiap tahun pengurus Persikota harus mengeluarkan dana segar berkisar Rp12 miliar hingga Rp14 miliar yang sumbernya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemkot Tangerang. (kpl/rif)