"Banjir sekarang sudah mulai surut dan sudah tidak masuk rumah lagi dibandingkan waktu sahur tadi," kata seorang warga Petogogan, Firman (37) di Jakarta, Senin.
Firman memaparkan, hujan lebat yang muncul setelah tengah malam benar-benar membuat dirinya dan keluarganya cemas karena daerah tempat tinggalnya merupakan area rawan banjir.
Pada pukul 03.00 air setinggi 20 cm sempat masuk ke rumah Firman sehingga ia dan keluarga mempercepat santap sahur karena khawatir air akan semakin meninggi.
Dibanding Firman yang rumahnya berada di deretan Jalan Nipah dekat dengan Jalan Raya Wijaya I yang posisinya relatif tinggi, warga di Jalan Pulo Raya dan Jalan Wijaya Timur terkena dampak banjir lebih parah. Ketinggian air di daerah tersebut mencapai lebih dari 50 cm pada Senin (8/9) dini hari.
Hal itu karena dua deretan jalan tersebut dekat dengan Kali Krukut yang kerap meluap bila hujan deras turun.
Menurut seorang warga yang rumahnya dekat dengan Kali Krukut, Yatno, saat hujan deras genangan air di rumahnya bisa mencapai hingga 1 meter.
Ia menyalahkan antara lain minimnya program pengerukan dan pembersihan bantaran Kali Krukut yang dilakukan oleh pemerintah.
Sedangkan warga lainnya, Syiah, warga di daerah ini telah terbiasa menaruh sejumlah peralatan rumah tangganya di lantai atas rumah setiap hujan mulai turun, guna menyelamatkannya dari genangan air.
Seorang warga lain mengatakan, daerah Petogogan mulai kerap tergenang oleh luapan air kali sejak awal tahun 1990-an antara lain diduga terjadi karena pesatnya pembangunan di kawasan itu. (*/bee)