Bagian evaluasi dan pelaporan program kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Eko Rahman Setiawan, Senin, memaparkan, pada 2006 tercatat 17.077 kelahiran, terdapat 24 kasus bayi lahir mati, 200 kasus bayi mati, dan 98 kasus balita mati.
Dia mengatakan, angka kematian bayi yang relatif cukup tinggi itu, antara lain disebabkan oleh faktor pendidikan dan pengetahuan orang tua, yang dapat mempengaruhi perilaku ibu dalam merawat kehamilan, berikut pemilihan terhadap perawatan persalinan yang akan dipakainya.
Tingkat pendidikan penduduk masih sangat rendah. Masyarakat dengan pendidikan rendah, yakni yang hanya tamatan SLTP, SD atau tidak lulus SD,jumlahnya masih mencapai 83,55%, katanya.
Selain itu, jauhnya akses pelayanan kesehatan dari pemukiman warga, serta faktor gizi yang memungkinkan rentannya penyakit pada bayi, juga menjadi salah satu pemicu masih tingginya angka kematian bayi di wilayah itu.
Sebagai contoh, lanjut dia, penyakit diare, yang merupakan penyakit infeksi bayi yang tercatat dalam jumlah yang cukup besar, yakni sebanyak 19.154 kasus, dengan jumlah kematian 29 kasus.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Suhardi M. Nur, belum lama ini, memaparkan prediksi dampak pembangunan kesehatan di Provinsi Gorontalo, yaitu pada 2007 dan 2008, pihaknya berencana akan menekan naiknya angka kasus kematian bayi, menjadi 24.3 hingga 24 per seribu kelahiran hidup.
"Setidaknya ke depan, terdapat satu orang bidan, di setiap desa siaga, atau 100 orang bidan dari per seratus ribu penduduk di Provinsi Gorontalo, katanya. (kpl/rif)