"Jadi salah kalau ada yang mengatakan WRC Indonesia batal atau dihapus, karena yang pasti ditunda untuk kepentingan yang realistis," kata Jeffrey, direktur utama PT Bloedus Management Indonesia (BMI) sebagai promotor reli nasional dan internasional di Tanah Air.
Jeffrey yang sedang berada di Malaysia untuk kepentingan yang berkaitan dengan reli Asia Pasifik (APRC) di negara itu, mengatakan FIA memberikan dua opsi kepada Indonesia.
"Opsi pertama, kalau Indonesia tetap sebagai tuan rumah pada 2010 dan sebagai kandidat pada 2009. Kalau dianggap gagal sebagai kandidat, maka Indonesia secara permanen akan dihapus dari kalender penyelenggara WRC. Tapi kalau rencana sebagai tuan rumah diundur hingga 2011 dan sebagai kandidat pada 2010, maka kita memiliki waktu untuk mengadakan perbaikan. FIA menyarankan kita mengambil opsi kedua, karena mereka juga tidak ingin kita gagal," kata Jeffrey.
Ia juga menuturkan, dari sisi teknis, FIA meminta Indonesia meningkatkan infrastruktur reli, di antaranya lintasan perlombaan harus diperbaiki agar memenuhi standar WRC, yaitu pereli harus mampu mengembangkan kecepatan rata-rata antara 80-85 km per jam, sedangkan dalam reli APRC yang diadakan di Makassar 24 Agustus 2008 kecepatan rata-rata baru 70-75 km per jam.
"Selain itu, kepulan debu harus dikurangi, karena persyaratan WRC jarak pelepasan pereli antara dua hingga satu menit sedangkan di reli yang lalu gap-nya tiga menit. Jadi kita harus mengeraskan lintasan," kata Jeffrey, mantan navigator nasional.
Ia juga mengatakan, karena kegiatan Pemilu di Tanah Air diadakan pada 2009, maka konsentrasi tidak akan terpusat.
Ketika disinggung adanya demo berkelanjutan petani tebu di Takalar yang sempat menjadi berita nasional usai Lebaran lalu, Jeffrey mengatakan, "Makanya syukur kita dapat pengunduran satu tahun dari FIA, jadi kita dapat lebih mempersiapkan diri untuk menghadapi WRC itu."
WRC pernah diadakan di Sumatera Utara pada 1996 dan 1997 dan keduanya dimenangi Carlos Sainz dari Spanyol. WRC 2011 direncanakan akan diadakan di kawasan perkebunan di Sulawesi Selatan. (*/cax)