Namun, bursa calon pengganti Sutiyoso, ketua umum periode 2004-2008 yang akan habis masa jabatannya itu, hingga saat ini masih sepi.
Hanya dua nama yang selama ini disebut-sebut telah mendapat dukungan sejumlah Pengurus Daerah (Pengda) PBSI untuk dicalonkan sebagai ketua umum 2008-2012. Yang pertama adalah Jenderal TNI Djoko Santoso dan Ketua Umum Pengda PBSI DKI Jakarta Icuk Sugiarto yang dikenai sanksi skorsing.
Kedua nama tersebut, sengaja atau tidak, mewakili sosok berlatar belakang sipil dan militer yang selama ini telah memberi warna organisasi yang sudah berdiri sejak 1951 itu.
Banyak yang menilai kepemimpinan militer dengan jiwa kepemimpinan yang tegas dan disiplin yang tinggi lebih tepat diterapkan dalam membina atlet. Namun tidak sedikit yang menilai disiplin keras ala militer sudah tidak cocok lagi bagi atlet masa kini yang lebih membutuhkan pendekatan secara personal.
Sesepuh olahraga Indonesia MF Siregar mengingatkan bahwa bukan perkara mudah mengelola organisasi sebesar PBSI, dengan tanggung jawab berat, harus mampu melakukan pembinaan atlet agar setidaknya mampu mempertahankan prestasi yang sudah mendunia.
Sebagai satu-satunya cabang yang sekian lama membawa harum bangsa Indonesia di dunia internasional, antara lain dengan medali emas Olimpiade 1992 sampai 2008, Siregar yang juga Sekjen PB PBSI itu, menegaskan bahwa untuk menjadi ketua PBSI seharusnya dipilih sosok yang terbaik.
"Ketua PBSI harus orang yang terunggul karena didesak prestasi. Bulu tangkis pernah meraih dua medali emas di Olimpiade, tugas ketua umum harus membuat prestasi yang lebih baik atau paling tidak menyamai prestasi yang pernah dicapai," katanya.
"PBSI itu berbeda dengan cabang-cabang lain, PBSI mempunyai tanggung jawab terhadap martabat bangsa, jadi orang-orang yang memimpin haruslah yang terbaik dari yang baik. Tidak bisa disamakan dengan olahraga lain," tambah Siregar yang sudah terlibat dalam kepengurusan PBSI sejak 1989.
Dengan sejumlah prestasi yang sudah dicapai selama ini, antara lain lima kali berturut-turut memenangi Piala Thomas, meraih medali emas Olimpiade sejak 1992 di Barcelona, serta menjadi penyumbang medali emas di Asian Games maupun SEA Games, beban yang diemban ketua umum PBSI tidaklah ringan.
Untuk mencetak prestasi besar seperti itu, dibutuhkan proses pembinaan yang serius dengan anggaran yang tidak sedikit.
Untuk mengelola pemusatan latihan yang dihuni sejumlah atlet, PBSI tidak hanya harus menanggung kebutuhan mereka sehari-hari.
Agar dapat meraih prestasi, para atlet tidak hanya membutuhkan latihan intensif, tetapi juga perlu diuji dalam sejumlah turnamen baik di dalam dan luar negeri yang berlangsung sepanjang tahun, yang tentu membutuhkan biaya besar.
Ketua Umum PBSI saat ini, Sutiyoso mengaku sudah mengeluarkan dana sampai Rp50 miliar dari kocek pribadinya, antara lain untuk membiayai pengiriman pemain mengikuti turnamen di luar negeri.
Karenanya, seperti ditegaskan putra Indonesia pertama yang menjuarai All England, Tan Joe Hok, ketua umum PBSI di masa mendatang haruslah sosok yang siap mengabdi dan bukan justru mencari penghidupan dari organisasi yang dipimpinnya.
"Saya tidak bisa bayangkan beratnya. Karena harus tahu manajemen dan mempunyai pikiran mengabdi serta mengharumkan nama bangsa Indonesia, bukan mencari makan di PBSI. Itu bedanya pemimpin dan pemain bulu tangkis," kata Joe Hok yang tiga kali memenangi Piala Thomas.
Sama Saja
MF Siregar --yang akrab disapa Opung-- menjabarkan kriteria unggul antara lain dengan mempunyai jiwa kepemimpinan, disiplin, mempunyai sifat ketokohan, dapat memberi teladan, dan bisa menjadi pemersatu.
"Karena kalau PBSI amburadul, prestasi olahraga Indonesia habis. Selesai," tegas Opung yang juga menjadi ketua panitia pelaksana Munas 2008 itu.
Saat ditanya apakah kriteria tersebut lebih cocok bagi calon dengan latar belakang militer, Siregar menegaskan bahwa yang penting bukan soal sipil atau militernya, meski baginya, mereka yang berlatar belakang militer apalagi dengan pangkat tinggi, bukan orang sembarangan.
"Orang yang berlatar belakang militer biasanya sudah tertata, mempunyai kepemimpinan dan keteladanan, serta diakui ketokohannya. Karena kalau bukan tokoh dan teladan, mana bisa mendapat (pangkat) bintang," tambahnya.
Berbeda dengan Siregar, pebulu tangkis Taufik Hidayat justru tidak ambil pusing dengan siapapun yang akan memimpin PBSI. Bagi pebulu tangkis yang turut mempertahankan tradisi medali emas Olimpiade itu, para pengurus di tingkat bawah jauh lebih penting.
"Ketua umum tidak mungkin stand-by setiap hari, jadi yang penting pengurus harian yang berada di bawahnya. Mereka harus orang-orang yang profesional dan berdedikasi," kata pemain yang merasakan empat kepengurusan berbeda selama ia berada di Pelatnas.
Bagi Taufik, peran pengurus harian jauh lebih penting karena merekalah yang setiap hari berinteraksi dengan atlet maupun pelatih.
Taufik merasa tidak ada perubahan kebijakan apapun yang ia rasakan dalam empat kepengurusan yang ia alami secara langsung -- pada masa kepemimpinan Soerjadi, Subagyo HS, Chairul Tanjung dan Sutiyoso -- karena tidak ada perubahan yang signifikan dalam susunan kepengurusan di tingkat bawah.
Ia berharap kepengurusan PB PBSI 2008-2012 akan mengalami perubahan total.
"Bagi saya siapapun ketuanya, mau sipil, militer, pengusaha, bahkan presiden sekalipun, sami mawon kalau yang di bawahnya itu-itu lagi. Seharusnya kalau ada perubahan pengurus, semuanya berubah total."
"Lebih baik sewa orang yang profesional dengan diberi gaji tertentu untuk menjalankan tugasnya, jangan orang-orang yang punya kepentingan masing-masing dan kurang perhatian," tegas juara Olimpiade Athena 2004 dan Asian Games 2002 dan 2006 itu.
Pebulu tangkis yang baru saja menjuarai turnamen Macau Terbuka itu menilai kepengurusan selama ini bekerja kurang maksimal, karena pembinaan ke daerah mandeg dan upaya regenerasi pemain juga tidak berjalan dengan baik.
Ia juga menyesalkan pengurus yang tidak mampu mencari sponsor lain di samping sponsor utama yang sudah ada selama ini.
"Lihat saja, cuma Indonesia yang tidak punya sponsor di dada, padahal banyak perusahaan yang mau, mengapa?" katanya.
Terlepas dari pro dan kontra yang mereka ungkapkan, semua mengandung harapan bahwa ketua umum mendatang harus jauh lebih baik dari yang sebelumnya, sebab tantangan di masa depan tentu jauh lebih berat. (*/cax)