Direktur Pengelolaan Lahan Ditjen Pengelolaan Lahan dan Air (PLA) Departemen Pertanian, Suhartanto di Jakarta, Selasa (21/10) mengungkapkan dana sebesar itu untuk pengembangan SRI di tiga kabupaten di Jawa Barat yakni Bandung, Cianjur dan Karawang selama 2009-2011.
"Nantinya ini akan melibatkan 150 kelompok tani pada luasan areal sekitar 3000 hektar (ha)," katanya di sela Lokakarya Nasional SRI di Gedung Deptan.
Selain melalui ADB, tambahnya, pada 2009 Deptan juga siap melakukan penanaman padi dengan metode SRI seluas 4.260 untuk 213 kelompok tani di seluruh Indonesia dengan menggunakan dana APBN yang mana luasan areal setiap kelompok 20 ha.
Mengenai realisasi penanaman padi SRI pada 2008, Suhartanto menyatakan, hingga saat ini mencapai 28 kabupaten di 15 provinsi yang melibatkan 160 kelompok tani atau lahan seluas 3.200 ha.
Selain pengembangan dalam skala kecil yakni 20 ha setiap kelompok, menurut dia, pada tahun ini juga dilakukan penanaman padi SRI dengan skala besar atau dalam kawasan satu daerah irigasi (DI) yakni 800 ha di Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat.
Pengembangan padi SRI dalam skala besar tersebut juga akan dilanjutkan pada 2009 di dua DI yakni di Kabupaten Jombang Jawa Timur dan Garut Jawa Barat yang mana luasannya masing-masing 1000 ha.
Sementara itu Menteri Pertanian Anton Apriyantono menyatakan, penanaman padi dengan metode SRI menekankan pada pendekatan manajemen pengelolaan tanah, tanaman dan air melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan lokal yang berbasis pada kegiatan ramah lingkungan.
Penanaman dengan sistem SRI, tambahnya, terbukti mampu menghemat penggunaan air 40-50%, penggunaan bibit juga dapat ditekan hingga 80%.
"Apabila metode SRI diterapkan secara benar akan mampu menghasilkan produktivitas padi yang tinggi di atas rata-rata nasional," katanya.
Menurut Suhartanto, dari hasil pengembangan SRI selama ini diperoleh produktivitas nasional rata-rata lebih dari 7 ton/ha gabah kering panen (GKP), sedangkan produktivitas padi nasional rata-rata hanya sekitar 4,5 ton/ha.
Metode SRI yang tidak menggunakan pupuk kimia dan memanfaatkan pupuk organik dinilai mampu memulihkan kesuburan tanah serta memelihara keberlanjutan produktivitas lahan. (kpl/rif)