Saat memberi di New York mengenai laporan tentang reaksi terhadap flu unggas dan kondisi kesiapan menghadapi wabah, UN System Influenza Coordinator David Nabarro mengatakan banyak negara berencana menghadapi wabah influenza, tapi banyak rencana telah diuji coba secara layak.
"Ketika merencanakan peristiwa luar biasa seperti wabah influenza, tidak cukup hanya memiliki rencana tertulis dan meminta setiap orang menandatanganinya," kata Nabarro. "Anda juga harus memeriksanya, mengujinya, dan memastikan bahwa rencana itu berjalan dan kemudian mengubah rencana anda dengan dasar simulasi."
Dengan mengutip statistik yang ada di dalam laporan itu, Nabarro mengatakan rencana yang tersedia, 53% pemerintah menyatakan mereka telah menguji-coba rencana mereka dalam 12 bulan terakhir, tapi hanya seperempatnya menyatakan mereka telah menguji-coba semuanya pada semua tingkat pemerintah, dan hanya 38% menyatakan bahwa ketika mereka telah menguji-coba rencana mereka, mereka telah menyelaraskan pelajaran yang diperoleh untuk mengubah mereka.
"Ini sangat memprihatinkan bagi karena data yang kami ajukan berasal langsung dari studi Bank Dunia bahwa ... biaya ekonomi suatu wabah dapat mencapai US$3 triliun, sama dengan kerugian dalam produk domestik kotor hampir sebesar 5%," katanya.
"Karena ini akan menjadi kejutan ekonomi, sosial dan politik yang sangat besar bagi sistem dunia kita, kesiapan sangat penting, itu juga tak terlalu mahal," kata Nabarro. "Kami ingin memastikan bahwa jika persiapan dilakukan, itu telah dilakukan secara layak."
Ia memperingatkan bahwa ancaman wabah influenza masih sama seperti pada tiga atau empat tahun lalu.
"Sayangnya, setiap virus influenza dapat mengakibatkan wabah, dan kami benar-benar tidak dapat memastikan kapan wabah berikutnya akan muncul, di mana itu akan berawal, atau bahkan seberapa parahnya," kata Nabarro.
Ia menyatakan bahwa virus H5N1, yang sangat ganas, "yang pertama kali benar-benar membuat banyak negara jadi kacau mengenai potensi wabah pada 2005", jauh lebih ringan dibandingkan dengan ancaman sekarang, sementara jumlah negara yang telah menghadapi jumlah penyebaran dan penularan sangat parah merosot drastis.
Menurut laporan terakhir yang diajukan secara bersama oleh UN System Influenza Coordinator dan Bank Dunia, 245 orang telah meninggal sejauh ini akibat flu unggas, dan langkah penularan sporadis pada manusia akibat H5N1 melambat sejak tahun lalu, sementara 28 orang dikonfirmasi meninggal pada 2008, dibandingkan dengan 59 pada 2007.
Laporan tersebut akan dikaji oleh peserta Konferensi Tingkat Menteri Internasional mengenai Wabah Influenza dan flu unggas di Sharm Esh-Sheikh, Mesir, akhir bulan ini.
Lebih dari 60 menteri kesehatan dan pertanian serta menteri lain dijadwalkan menghadiri pertemuan tersebut, kata Nabarro. (kpl/meg)