Presiden Nigeria Minta Pemimpin Gerilyawan Dibebaskan
Kapanlagi.com - Presiden Nigeria Umaru Yar'Adua ingin Henry Okah, yang sedang diadili karena kepemilikan senjata dan pengkhianatan, dibebaskan dalam waktu beberapa hari setelah pemimpin gerilyawan tersebut menyambut baik tawaran pengampunan pemerintah, kata seorang juru bicara Jumat (11/07).Kedua pihak masih perlu merundingkan ketentuan kesepakatan itu sebelum Okah, tersangka pemimpin Gerakan bagi Emansipasi Delta Niger (MEND), dapat dibebaskan, kata para pengacaranya Kamis. [Info untuk Anda: "Semua berita KapanLagi.com bisa dibuka di ponsel.
Pastikan layanan GPRS atau 3G Anda sudah aktif, lalu buka mobile
internet browser Anda, masukkan alamat: m.kapanlagi.com"] Jika Okah dibebaskan, itu akan menaikkan harapan bahwa MEND akan setuju meletakkan senjatanya dan menghentikan serangan yang telah memukul sektor-perminyakan terbesar di Afrika sejak Mei. Kelompok garis keras tersebut menyatakan Jumat larut malam kelompok itu menyabot pipa saluran minyak yang baru diperbaiki oleh perusahaan utama minyak AS, Chevron, di Delta Niger, dan mengancam akan melancarkan serangan lebih lanjut. "Presiden Yar'Adua telah menginstruksikan Kementerian Kehakiman agar segera menetapkan proses pembebasan Okah," kata juru bicara Yar'Adua, Olusegun Adeniyi, di sisi pertemuan tingkat tinggi Kelompok Delapan Negara Maju (G8) di Italia. "Presiden ingin seluruh masalah tersebut dipilah tanpa penundaan lebih lanjut. Ia mesti dibebaskan dalam waktu dekat," katanya. Yar'Adua memerintahkan Menteri Kehakiman Michael Aondoakaa agar menyelesaikan kesepakatan mengenai Okah tanpa "prosedur hukum yang tak perlu", kata Adeniyi. Satu pertemuan antara para pengacara Okah dan pejabat pemerintah dijadwalkan berlangsung Ahad atau Senin. Tuntutan utama Pembebasan Okah telah menjadi salah satu tuntutan utama dari MEND, faksi longgar kelompok gerilyawan yang bertanggung jawab atas berbagai serangan yang telah mengurangi produksi minyak sampai 300.000 barel per hari sedikitnya selama enam pekan. MEND telah menolak program amnesty itu dalam bentuknya saat ini, tapi bersedia membahas tuntutannya dengan pemerintah. Kelompok gerilyawan garis keras tersebut memperingatkan semua perusahaan minyak agar tidak memperbaiki instalasi minyaknya yang rusak selama pembicaraan. "Bahkan ketika pembicaraan berlangsung, takkan ada perbaikan pada setiap instalasi yang rusak sampai kedua pihak menyepakati pendirian bersama mengenai masa depan wilayah ini," kata MEND dalam satu pernyataan. Pencurian minyak dan penculikan untuk meminta tebusan telah menjadi perdagangan yang menguntungkan di Delta Niger, tempat mayoritas warganya hidup dengan penghasilan kurang dari US$2 per hari. (kpl/bee) |