KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
"Pengambilan gambar di Bojonegoro, selama 10 hari dan di Surabaya di hotel Majapahit selama dua hari," kata sutradara film HASDUK BERPOLA, Dwi Ilalang, di kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Rabu (28/10).
[Info untuk Anda: "Semua berita KapanLagi.com bisa dibuka di ponsel. Pastikan layanan GPRS atau 3G Anda sudah aktif, lalu buka mobile internet browser Anda, masukkan alamat: m.kapanlagi.com"]
Sebelum itu, penulis novel HASDUK BERPOLA, Bagas Dwi Bawono dan produser FTV Produksi Squareapple Productions, Bernard ben Sihombing, memaparkan rencana pembuatan film di Bojonegoro itu, kepada Bupati Bojonegoro, Suyoto, dengan jajarannya.
Menurut Bernard, pengambilan gambar akan dimulai pada tanggal 7 November ini. Direncanakan lokasinya, di antaranya di SDN Kadipaten, Desa Ledokkulon, dan sejumlah tempat lainnya di Kecamatan Kota. Di samping itu, pengambilan gambar, juga dilakukan di tepian Bengawan Solo dan waduk Pacal di Desa Kedungsumber, Kecamatan, Temayang.
Di Surabaya, pengambilan lokasi di Hotel Majapahit selama dua hari dan 15 hari pemrosesan film dilakukan di Jakarta. Sebelum akhirnya dijadwalkan tayang di stasiun TV swasta, pada 27 November ini. "Lokasi gambar, kami buat sealamiah mungkin," katanya Bernard.
Ia menjelaskan, film dengan durasi 90 menit ini, menceritakan kehidupan seorang pejuang yang bernama Masnun, yang hidup di Bojonegoro, dengan ketiga anaknya, Rahayu, Budi dan Bening. Ketika perobekan bendera di hotel Majapahit yang dulu bernama Hotel Yamato itu, Masnun, termasuk salah satu pejuang yang ikut membawa bendera merah putih.
Hanya saja, sebagai pejuang, Masnun, mengaku, bukan sebagai pejuang yang pemberani. Setelah merdeka hidup di Surabaya, karena tunjangan veteran tidak cukup, akhirnya Masnun pulang kembali hidup di tempat asalnya Bojonegoro.
Di Bojonegoro, Masnun, bekerja sebagai tukang tambal ban dan di antara anaknya, Budi, dikenal sebagai anak yang nakal. Suatu ketika, Budi dimarahi gurunya, karena memakai 'hasduk', dengan warna merah yang tidak sesuai dengan warna bendera.
Masalahnya, hasduk itu, dibuat dari bahan sprei. Dari perjalanan hidup dan keluhan Masnun, suatu ketika Budi ikut pramuka di Surabaya dan membawa bendera merah putih, milik Masnun yang disimpan di peti. Dengan nekat, Budi, naik ke hotel Majapahit untuk mengibarkan bendera merah putih itu.
Menurut Bernard, ketika Budi menaikkan bendera itu, sempat diketahui wartawan TV, karena semula diperkirakan akan ada anak bunuh diri, sehingga kejadian itu ditayangkan TV secara langsung.
"Film ini berakhir dengan ucapan Budi, bapak bendera merah putih sudah saya kibarkan, dan berbagai lapisan masyarakat menyanyikan lagu Indonesia Raya, termasuk Bupati Bojonegoro," katanya menjelaskan.
Disebut-sebut sejumlah pemain yang cukup kenamaan akan membintangi film ini, di antaranya, El Manik dan penyanyi, Iwan Fals. "Ini baru rencana, belum ada kepastian karena masih dibutuhkan pendekatan kepada yang bersangkutan," kata Dwi Ilalang, dibenarkan Bernard. (kpl/bun)
Lihat Profil: El Manik, Iwan Fals

waduh kekna asik jg nih film tentang nasionalisme yah?mana bintangnya pada tenar lagi