KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
"Manajemen yang menangani tim harus dirombak demi menghadapi kompetisi musim mendatang yang semakin ketat," kata H. Ismet Iskandar di Tangerang, Senin (27/7).
Selama musim kompetisi 2008-2009 manajemen Persita di bawah kepemimpinan Eka Wibayu sebagai general manejer, Andi Mulyadi (manejer), dan dibantu Pariminarso (keuangan), Hifni Hourmaen (bagian umum), membuat tim ini menduduki peringkat papan bawah klasemen Liga Super Indonesia.
Bahkan tim berjuluk pendekar Cisadane itu harus tersingkir mengikuti pertandingan serupa tahun mendatang karena lebih banyak kalah ketimbang menang.
Namun salah satu penyebab kekalahan itu akibat tim tidak memiliki markas pertandingan sehingga terpaksa berpindah ke berbagai stadion seperti Jalak Harupat Bandung, Jatidiri Semarang, Bumi Kartini Jepara maupun di Solo Jawa Tengah.
Sebelumnya Persita sudah memiliki markas bertanding yakni Stadion Benteng, tapi karena tidak memenuhi berbagai syarat pertandingan untuk Liga Super seperti lampu penerangan bermain malam hari, ruang ganti pakaian maupun sarana lain, maka terpaksa dialihkan ke tempat lain.
Demikian pula tim berseragam serba ungu itu mengalami kemunduran ketika dalam Copa Indonesia 2008-2009 di bawah kepemimpinan pelatih Agus Suparman.
Ketua Umum Persita akhirnya memecat Agus Suparman kemudian digantikan oleh Zaenal Abidin, namun prestasi tim tetap tidak berubah berada di papan bawah.
Untuk mengatasi keterpurukan tim, maka salah satu jalan yaitu mengganti manajemen dengan cara melakukan tes uji kelayakan dan kepatutan di depan publik.
"Uji kelayakan untuk memilih manajemen perlu digelar agar masa depan lebih baik, sehingga tim tidak ditinggalkan oleh penggemar fanatik," katanya.
Bahkan uji kelayakan untuk memilih manejer secepatnya dilakukan supaya mereka lebih cepat bekerja dan mampu membenahi Stadion Benteng sebagai markas bertanding bagi Persita, demikian Ismet Iskandar. (kpl/zul)