KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil"Kita harus kembali kepada hak dasar yang ditetapkan oleh Undang-undang, bahwa pemilu presiden itu dapat dilaksanakan satu atau dua kali putaran, itu merupakan hak dasar rakyat," kata Iberamsyah di Jakarta, Sabtu.
Ia mengatakan, semua harus menghormati hak dasar tersebut, jangan mengotak-atik atau mencoba-coba menghilangkan atau memprovokasi hak rakyat yang sangat mendasar itu.
"Biarlah rakyat yang memilih, biarlah rakyat yang cerdas," kata dia.
Menurut guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UI itu, tugas tokoh masyarakat adalah mengawal pemilu yang sehat, cerdas dan bermartabat.
"Jangan kita ciderai pemilu itu dengan aksi yang tidak bermartabat," katanya.
Dia mengatakan, jika ada di antara yang tergoda terhadap salah satu pasangan capres, hendaklah tidak ditunjukkan dalam kegiatan yang tidak bijaksana seperti memprovokasi rakyat.
"Akan tetapi, tolong dukungan terhadap pasangan itu ditunjukkan dengan akal sehat dan akal budi," ujar dia.
Jangan tergiur untuk mendapatkan jabatan atau sesuatu, lalu menghalalkan segala macam cara.
Dia mengajak masyarakat Indonesia untuk mengawal Pilpres 8 Juli nanti dengan penuh kesadaran.
"Kita boleh memihak tetapi dengan cara yang sehat dan cerdas serta bermoral," lanjutnya.
Menurut dia, apakah mungkin pemilu satu putaran itu sangat mungkin, karena didukung oleh undang-undang dengan persyaratan-persyaratan tertentu.
Dan apakah mungkin pilpres nanti dua putaran, itu mungkin juga terjadi, biarlah rakyat yang menentukan pilihannya sendiri. Dia juga mengimbau hendaknya tokoh politik tidak mengotak-atik kekurangan/kecurangan Pemilu 9 April lalu, tetapi mari membuka lembaran baru dengan itikad baru dan jangan sedikitpun ada kecurangan. (kpl/erl)