KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.netKepala Pos Pengamatan Gunung Api Batur Anak Agung Anom Karsana di Bangli, Jumat (6/11) mengatakan, setiap hari terjadi rata-rata dua kali gempa vulkanik dengan amplitudo yang rendah.
[Info untuk Anda: "Semua berita KapanLagi.com bisa dibuka di ponsel. Pastikan layanan GPRS atau 3G Anda sudah aktif, lalu buka mobile internet browser Anda, masukkan alamat: m.kapanlagi.com"]
"Gempa vulkanik yang terjadi dari pantauan cukup sering terjadi, namun masih aman untuk para pendaki dan getaran ini tidak dirasakan masyarakat karena masih dalam skala kecil," kata dia.
Peningkatan getaran memang sudah terjadi sejak September lalu. Meskipun kondisinya aman, namun para pendaki diminta tetap meningkatkan kewaspadaan.
Pemantauan ini, kata Karsana, setiap hari dilakukan melalui beberapa panel sistem dan peringatan dini. Pendeteksian lebih awal bila gunung akan meletus, secara tradisional adalah, binatang yang menghuni puncak dan lereng gunung akan turun karena suhu di puncak, termasuk sumber air milik penduduk setempat semakin meningkat.
Pos pengamatan Gunung Api Batur terus memberikan laporan kepada masyarakat sebagai bentuk peringatan dini agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan.
Alat pengukur kekuatan gempa atau seismograf digital terpasang di lima titik, yaitu Danau Batur, Gunung Batur, Desa Songan, Desa Yeh Mampeh, dan Gunung Agung.
Gunung Batur sendiri terhitung sejak tahun 1804-2000 sebanyak 26 kali meletus, namun yang letusan terakhir hanya mengeluarkan lava pijar sebanyak tiga kali letusan.
Pusat letusan berada pada kawah baru yang terbentuk dari kawah letusan pada 1 Februari 1999. Kegiatan vulkanik dari kawah ini berupa letusan atau hembusan asap. Pada 15 Maret 1999, pematang yang memisahkan kawah 1998 dan 1999 amblas dan keduanya langsung menyatu.
Tinggi asap saat itu mencapai maksimal 300 meter di atas bibir kawah, condong ke arah barat laut. Asap letusan berwarna abu-abu kehitaman. Letusan disertai dengan lontaran piroklastik, seperti pasir, lapili, dan bongkahan yang mengendap dengan radius kurang lebih 100 meter dari pusat letusan.
Banyak pendaki yang tertarik mendaki Gunung Batur karena keindahan menikmati matahari terbit. (ant/meg)