Awi Suryadi & Kisah Simfoni Luar Biasa (2)

KapanLagi.com -
Oleh: Rifqa Rizkarima

Bukan sesuatu yang mudah untuk men-direct anak-anak down syndrome, yang memang memiliki keterbatasan dalam tertentu, namun Awi Suryadi dengan bantuan crew meramu menjadi film yang 'berkekuatan' dan menyentuh hati bagi siapapun yang menyaksikan.

Seorang Awi membawa mereka untuk dapat membuktikan bahwa dunia bisa melihat kemampuan 'luar biasa' di tengah kekurangan yang diberikan oleh Tuhan. Segala potensi yang semula dianggap kekurangan, di tangan Awi berubah menjadi kelebihan dan kemudahan.

  • Berapa lama proses syutingnya? Tempat syuting di mana aja?
    Waktu syuting itu 21 hari. Kebanyakan sih di YPAC, tempatnya di sekitar Jakarta dan Bekasi.
  • Yang di Philipina gimana?
    Oh ya, yang syuting di Philipina itu 3 hari. Itu untuk ambil adegan waktu Christian sebelum datang ke Jakarta. Dia kan nyanyi di cafe gitu lah. Jadi kita syuting di Philipina dulu lalu pulang ke sini, reading, baru syuting. Jadi memang khusus ambil adegan di sana duluan.
  • Dari sisi teknis, misal kamera, apa perlu menggunakan kamera yang khusus di project ini?
    Enggak sih, di sini pakai kamera P2 HD, digital yang cukup bagus lah. Kalau bedanya sama film-film lain (sebelumnya), sama sih ya. Mungkin di sini pendekatan gambarnya lebih halus, lebih indah, karena memang ini film drama. Sebelum ini ada film thriller, teen drama, itu kameranya ala MTV, lebih ke anak muda, yang ini lebih kalem.

  • Awi Suryadi

  • Lalu yang ditonjolkan di film ini lebih ke mananya? Visualisasi?
    Ceritanya menurut saya cukup menyentuh, seorang musisi yang idealisnya tinggi tapi karena idealisnya itu, dia cenderung egois, agak arogan bahkan. Tapi dia sudah terpisah cukup lama dengan ibunya, Ira Wibowo, dan diketemukan di Indonesia, di situ ia harus mengenal ibunya lagi dan bahkan dia diposisikan di luar kotak nyaman dia. Nah dari situ dia akhirnya belajar dari anak-anak ini. Jadi ini gimana sebuah musik itu bahasa yang universal, yang dia nggak bisa bahasa Indonesia, dan bahkan kalau bisa bahasa Indonesia, dia ini anak-anak down syndrome. Jadi secara logika itu susah, tapi mereka ini disatukan dengan musik. Di mana dia yang lebih dewasa dan seorang guru, malah belajar dari anak-anak ini. Jadi ada di salah satu dialog, 'Saya yang butuh kalian, bukan kalian yang butuh saya.'
  • Proses komunikasinya gimana dengan anak-anak YPAC?
    Oh ya, jadi kita kan awal pakai 3 anak YPAC. Terus terang kita sempat khawatir juga, takutnya nanti susah konek, gampang capek. Tapi ternyata nggak lho. Jadi ada satu adegan concert, kita syuting di gedung kesenian Jakarta, itu sampai setengah 2 atau 3 pagi, dia nyanyi terus. Padahal adegan itu kan kita ulang-ulang terus, nyanyi terus dia, suaranya lantang terus, jadi saya salut, kerjasama dengan YPAC bagus, anak-anak ini nggak rewel.
  • Jadi jumlah anak-anak YPAC yang dipakai di film ini 3?
    Enggak ya, jadi waktu reading 3, tapi pas main di grup choirnya 1. Tapi waktu adegan di YPAC-nya banyak. Jadi waktu datang ke sekolah, ada banyak-banyak kelas, waktu Christian ditunjukin sama ibunya, kelas ini, kelas ini, itu semuanya anak YPAC. Cuma reading ada 3, dan akhirnya kalau nggak salah ada yang dapat undangan apa itu ke India, dan yang satunya saya lupa, akhirnya jadi tinggal 1.
  • Nah apa itu ada perubahan skenario gara-gara ini?
    Oh nggak sih, karena kebetulan di skenario kita nggak terlalu establish karakter per anak, lebih konsen ke gurunya, ke Christian-nya. Jadi pas yang 2 nggak ada sempat mikir, 'Kentara enggak ya ini', oh ternyata nggak kok, jadi nggak apa-apa.
  • Jadi enggak ada kesulitan berarti komunikasi dengan mereka?
    Untungnya nggak ya. Dan di waktu reading kita dibantu sama satu acting coach yang kayak psikiater gitu, dan dia memang kerjanya di Sekolah Luar Biasa, jadi kita bawa anak-anak ini ke YPAC, ke sekolah-sekolah.
  • Kan Christian tidak begitu bisa bahasa Indonesia, cuma sedikit sedikit. Itu gimana komunikasi di lokasi, dengan pemain lain dan kru?
    Kan saya, Delon dan para pemain memang kebetulan bisa berbahasa Inggris. Christian juga lebih banyak berdialog dengan saya.

(kpl/rere/dar)

©2003-2012 KapanLagi.com