SELEBRITIA

Dicibirkan, Venna Melinda Dirikan Rumah Aspirasi Rakyat

Dicibirkan, Venna Melinda Dirikan Rumah Aspirasi Rakyat
Venna Melinda
Rabu, 25 Januari 2012 11:57  | 

Venna Melinda


KapanLagi.com -
Oleh: Budy Juwono

Bertarung untuk memperebutkan kursi anggota DPR/MPR RI periode 2009-2014, tak pernah terlintas di benak artis Venna Melinda sedikit pun. Pinangan Venna untuk maju menjadi anggota dewan tersebut, justru datang dari sang suami, Ivan Fadilla Soedjoko yang cemburu melihat kedekatan Venna dengan partner tari salsanya. Perjuangan Ivan untuk mendudukkan mantan Putri Indonesia 1994 ini di parlemen ternyata mendapat sambutan dari masyarakat daerah pemilihan Jatim 6. Dengan keyakinan dan tekad yang kuat untuk melaksanakan keinginan sang suami, akhirnya Venna behasil mendapatkan satu kursi untuk mewakili aspirasi masyarakat Jatim 6, Blitar, Tulungagung dan Kediri.

Perjuangan Venna, ternyata tidak berhenti menjadi anggota DPR saja, wanita kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 20 Juli 1972 itu kembali diuji ketabahan dan keyakinannya menjadi anggota dewan. Venna dianggap oleh pengamat politik sebagai politisi artis yang tidak bisa apa-apa. Cibiran tersebut sangat memukul hati Venna, hingga artis yang ngetop lewat film Catatan Si Boy 2 ini harus merelakan buah cintanya yang masih di dalam kandungan untuk digugurkan.

Tak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya karena telah dipercaya oleh masyarakat untuk mewakili aspirasinya, Venna mencoba bangkit dari bayang-bayang, kritikan pedas pengamat politik. Alhasil, sebuah rumah asprirasi rakyat yang diberi nama "Omahe Venna Melinda" di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, didirikan Venna sebagai jembatan masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah pusat.

Seperti apa beban dan tanggung jawab Venna mengurus negara dan rumah tangga yang harus seiring sejalan. Berapa waktu lalu, KapanLagi.comŽ berkesempatan mewawancarai Ibu dari Verrell Bramasta dan Athalla Naufal ini di ruang kerjanya. Simak interviewnya berikut ini:


Venna Melinda
  • Mungkin flashback masa lalu ketika Mbak Venna merintis menjadi anggota dewan dulu seperti apa sih perjuangannya?
    Pertama kali ke dunia politik yah, jadi waktu itu saya kan masih aktif salsa, tiap hari itu isinya hanya latihan, cari koreografi, cari partner. Saya selalu pakai itu kan, kalau nggak Brazil, orang Kuba. Yah orang Latin lah yang menjadi partner. Mungkin dari suami saya lama-lama waduh ini kok. Kalau salsa kan memang intimate sekali. Lama-lama dia cemburu kali yah. Saya kan udah lima tahun, dari 2004 sampai 2009 dan dia berpikir juga anak kan makin besar. Untuk tarian dan baju saya, saya berpikir kok. Jadinya udah cukup deh.

Saya tipe orang yang kalau untuk disuruh berhenti kan gak mau, akhirnya dia memberikan options, Mama kan suka kegiatan social, kenapa gak ikut Pileg (Pilihan Legislatif). Saya kan waktu itu benci politik yah, karena saya buka orang yang politis, saya orang seniman. "Udah pokoknya saya sediain, kamu tinggal duduk manis, saya yang support, saya yang bikin timnya. Pokoknya semuanya lah, kamu gak usah keluar apapun."

Akhirnya saya pikir yah bolehlah, karena saya pikir saya konsen dengan anak jalanan. Ya udah akhirnya timnya sederhana aja, saya, mas Ivan dan Mamah saya, sama supir satu yang bagian masang-masang spanduk. Ya udah cuma berempat aja. Alhamdulilah 2009 Oktober saya dilantik. Saya juga kaget karena terus terang menjadi anggota DPR kan saya denger waduh dari soal sikut-sikutannya, biayanya, pokoknya ribet lah. Tapi dari awal kita fun, sama Mamah dari tim kecil itu banyak diberi kemudahan. Contohnya saya punya satu pemikiran kalau kita mau kampanye jangan yang sifatnya jual kecap, saya mau yang real, saya mau mereka kenal saya apa adanya saya. Saya gak mau mengubah penampilan dan saya gak mau menjadi orang lain.

Akhirnya saya punya tim oke, kita kampanye. Kreatif saya datang ke desa, satu desa itu udah baris mau senam karena kan mereka tahunya saya itu ratu salsa, jadi dikasih meja makan, saya disuruh berdiri di situ dan dikasih toa, kan mereka gak punya sound system. Saya sehari ke 3 desa. Tahu sendiri yah satu desa berapa orang coba, itu murah meriah dan saya itu gak ngeluarin apa-apa, malah saya dimasakin pecel. Kalau di Blitar itu terkenal pecel kan, saya kan ke Blitar, Jati Agung, Kediri, itu dimasakin dan dibawain oleh-oleh. Jadi saya ngerasa saya ini belum terpilih loh.

Kan saya Jatim 6, Blitar, Tulungagung dan Kediri. Itu saya pulang dikasih oleh-oleh, saya merasa belum terpilih. Dan karena senam itu lah, saya gak pernah orasi yang aneh-aneh. Jadi ketika saya kasik kartu nama, mereka nanya nomer saya berapa. Saya gak pakai saksi lo di KPUD gitu, saya gak ngerti. Tapi alhamdulilah suaranya gak ada yang ngambil, banyak yang memilih ibu-ibu. Yah alhamdulilah lancar sampai terpilih.

 

  • Kalau boleh tahu strategi khususnya apa sih?
    Yah alhamdulilah, kalau kita backgroundnya artis sehingga popularitas modal lah tapi sebetulnya kita kan gak boleh mengaktriskan diri kalau soal politik. Karena kan kita nawa itunya surving the people. Kalau saya ke sana terus pakai bodyguard, itu namanya tidak merakyat. Saya apa adanya saya, saya tidak ada batasan dengan masyarakat. Ibu-ibu mau foto, ibu-ibu mau mengundang ke desanya, mau senam mau apa, saya senang. Saya tidak punya jarak bahkan saya punya keinginan mereka itu kayak saudara.

 

Jadi kalau misalkan ibu-ibu bawa anak-anak kecilnya, saya selalu bawain tas bingkisan isinya camilan. Yah itu malah lebih berkesan buat anak-anak dan ibu-ibu bahwa saya menganggap mereka itu seperti keluarga. Mereka juga begitu, dan saya baru tahu bahwa menjadi anggota DPR itu sebenarnya tidak se-complicated apa yang kita pikirkan. Kita kalau dari first stepnya apa adanya kita, dengan membawa mereka ke impian-impian yang gak masuk akal, yah alhamdulilah dengan apa adanya saya, mereka tetep respect. Akhrinya sampai detik ini silaturahminya jalan banget. Saya punya rumah aspirasi juga di Kabupaten Kediri karena paling banyak suara saya di Kabupaten Kediri.

 

  • Ketika masuk ke dunia politik itu kan penuh dengan intrik, penyesuaiannya gimana?
    Yang terkaget-kaget itu kalau ada underestimate. Bukan dari teman-teman DPR sendiri tapi dari pengamat politik yang sangat tidak welcome politisi artis itu akhirnya membuat saya ini yah, bukan down sih tapi lumayan terinspirasi untuk membuktikan bahwa di DPR saya tidak seperti yang dilabelkan. Nah, begitu masuk di sistem DPR ini, saya melihat dari partai lain malah, kita melihat kalau bisa membawa diri dengan baik. Saya kan bukan politisi, saya dengan cara bicaranya saya, dengan keluguan saya, malah mereka lebih menghargai yah.

 

Sebenernya di mana yang paling penting, di mana kita berada, kita harus jujur dan kita punya niat yang tulus. Tapi kalau ada kerikil-kerikil, pertama sih kaget tapi lama-lama kalau saya cengeng malah saya tidak lulus dan kasihan masyarakat sudah memilih. Saya harus bertahan. Pernah sih sampai nangis, sampai saya keguguran kemarin. Saya kan sempat hamil, mungkin karena saya terlalu kebawa pikiran dan hati jadi keguguran, itu yang membuat saya rugi banget yah.

Saya bener kok, kecuali kalau saya salah, akhirnya paradigma berpikir saya harus lebih pas lagi. Saya berpikir kebalik yah, kalau kita merasa benar harus bertahan di sini bukan kita yang out dari sini. Nah, akhirnya dengan kejadian itu yang membuat saya udah kehilangan anak, yah saya tidak mau kehilangan amanah juga kan. Jadi kita fight lah, toh juga kita tidak melakukan hal yang negatif, dalam artian gak boleh cengeng lah. Kalau artis itu kenapa yah orangnya sensitif, cepet nangis. Mungkin sekarang saya harus mengubah mentality aja.

 

  • Butuh waktu berapa lama mbak?
    Sampai sekarang ini saya bicara banyak perubahan. Khususnya saya kan dulu orangnya tidak humble, dulu waktu salsa saya kan orangnya sangat selfish. Ketika salsa kan kita jadi number one, jadi pusat perhatian. Tapi ketika kita di sini, kita kan kolektif kolegial. Saya harus bisa namanya kemampuan sosialisasi, terus melobi orang. Jadi banyak hal lah ilmu-ilmu tapi yang paling penting dalam artian saya memang ngejar banget. Dari baru bangun tidur yang saya baca pertama adalah koran, kemudian majalah. Apalagi sekarang di komisi satu itu beratnya minta ampun.

 

Karena background saya kan bukan militer, saya tidak mau aktif juga dalam rapat, jadi saya push terus. Jadi apa nih, kalau besok harus rapat, dia malam udah harus email, pelajari kurang-kurang apa. Pokoknya adalah usaha-usaha kalau orang melihat saya, gak bengong yang dilihat itu politisi artis itu bego, we have to prove.

 

  • Kalau politik artis kan selama ini dianggap sebagai pemanis, pelengkap gitu lah. Mbak sendiri setuju gak dengan hal yang seperti itu?
    Oh nggak, kalau saya sekarang fokusnya bukan kepada pengamat politik karena menurut saya mereka itu motivator juga, mereka gituin saya kurang terpecut kali yah untuk bisa menguasai materi dan saya rasa menguasai materi itu kan resultnya memang untuk masyarakat. Ini yah saya anggap pengamat politik bagus juga untuk motivator, saya gak boleh marah, saya gak boleh sakit hati.

 

Saya mau makasih nih, justru kalau saya dipuji-puji mungkin malah berpuas diri. Tapi saya malah membuktikan bahwa prestasi saya kepada masyarakat di dapil. Jadi kalau mau tanya seberapa besar usaha saya selama dua tahun ini, mungkin harus melihat suatu saat apa yang saya lakukan dokumentasinya dan kalau mau wawancara lah sama mereka. Karena menurut saya, statement dari mereka lebih penting ketimbang statement dari pengamat politik. Pengamat politik kan tidak memilih saya, yang punya suatu keterikatan moril kan yang memilih saya dong. Jadi saya tidak pernah menganggap pengamat politik itu suatu hal yang harus saya buktikan, masyarakat dong yang harus saya buktikan bagaimana saya kontribusinya. Jadi, sekarang alhamdulilah gak ada hambatan apapun, yang penting saya kerja bener-bener di sini untuk masyarakat.

 

  • Selama duduk di DPR sempat mengurangi kegiatan olahraga?
    Mengurangi, yang pertama mungkin saya coba memanage kapan waktu untuk olahraga meski olahraganya gak kayak dulu, mungkin kalau dulu dari pagi siang malam, apalagi kalau mau show olahraga udah kayak napas. Sekarang susah banget cari waktu, paling kalau bisa Sabtu, Minggu, itupun dibagi sama anak lagi. Yah salah satu cara tetep kayak misalkan baju ini colorful, itu tuh sebenarnya therapy juga.

 

Di antara materi-materi yang berat, saya tetep pingin menjadi diri saya sendiri. Yah seperti pakaian saya sekarang lebih sopan, tapi kan kalau colorful boleh dong. Untuk gaya rambut saya, pakai bunga boleh dong, yang penting sopan, rapi. Ya itulah, sekarang aja nonton tv gak pernah kecuali malam yah, karena kan kalau dirapat itu kan yang dilihat tembok lah sama mitra kerjanya. Maksudnya udah gak bisa dengar hiburan, dengerin music juga kapan, paling pas break sholat, makan balik lagi yah. Pokoknya menyenangkan diri aja, saya gak mau negatif sama orang. Alhamdulilah di sini aku gak ada musuh.

 

  • Sempet kagok, kebiasaan di lokasi syuting harus berubah, kadang harus berdebat sama yang lain. Ngerasa ada yang aneh gak?
    Terus terang menurut saya ini kalau mau berpolitik itu yang elegant karena saya juga perempuan tidak mau kasih visual kepada masyarakat, termasuk kaum perempuan untuk gontok-gontokan. Misalkan konflik yang ditonton masyarakat banyak, jadi takutnya nanti pendidikan di politiknya salah. Bagi saya kalau perempuan itu kan harus jiwa feminim dong. Kalaupun berbeda prinsip, saya juga harus bersikap elegant. Kagok sih nggak, karena kalau misalkan kita berangkat kerja, saya persiapan betul, kemudian kalau saya gak ngerti saya tanya ke Ketua Proksi saya. Kalau misalkan gak tau juga, saya tanya ke temen-temen yang senior.

 

Jadi menurut saya, belajar itu dari mana saja, saya rasa alhamdulilah apa yang saya jalanin ini banyak ilmu yah. Di komisi sepuluh aja mitra kerjanya 4, di sini mitra kerjanya 12. Waduh kuliah di mana nih yang bisa mengerti semua. Yah bersyukur aja bisa di DPR, ada yang mengatakan anggota DPR itu gak boleh belajar. Menurut saya itu salah, setiap orang mau jadi professor, sekalipun dekan tetap harus belajar untuk upgrade diri. Jadi menurut saya belajar itu dari mana-mana, gak terpaku dari buku atau koran. Justru dari perbincangan itu kita ngerti politisnya seperti apa.

 

  • Kalau boleh tahu nuansa perbedaannya ada di mana sih mbak antara kerja jadi artis sama di DPR?
    Yah beda lah, kalau di DPR ini istilahnya kita harus bisa memperjuangkan sesuatu itu tapi dengan cara kolektif kolegial, kita kan legislator, bukan eksekutor. Apa yang menjadi prestasi kita yah menjadi prestasi anggota DPR bersama-sama. Jadi paling penting kuncinya kita di sini harus bisa lebih humble, lebih sosialisasi kepada teman-teman karena kalau nggak kita akan susah sendiri.

 

Nah, beda kalau artis. Artis itu kan one main show, speednya mau dibawa ke mana tergantung dari aktifnya. Jadi beda semuanya. Beda pressure-nya tapi yah untung sih kalau jadi politisi artis kan orang maklum yah. Kalau ada kurang-kurang dikit gak pernah ada yang komplain, malah mereka angkat topi. Wah mereka gak nyangka juga yah artis jadi politisi, mereka bisa berkompetisi juga.

 

  • Ketika jadi anggota DPR, mengalami kejenuhan ketika mengalami apa?
    Tahun pertama saya jenuh karena kenapa kok duduk terus, apa gak bisa gerak badan dulu. Tapi saya udah biasa akhirnya untuk bikin badan saya gak bergerak terus. Kemudian pada saat anak pada sakit, harus rapat atau di luar kota. Jadi anak suka nanya "Mama lebih mentingin negara atau anak sendiri sih?", itu yang paling berat. Kemudian yang ketiga adalah kalau soal baju, saya malah gampang menyesuaikan dari yang seksi dulu sampai yang tertutup semua itu gampang, karena saya orangnya all out.

 

Saya sangat tune in, yang paling sulit adalah kenapa saya gak punya waktu meet time lah. Kalau saya dulu bisa salsa, saya gak bisa salsa lagi. Padahal tawarannya banyak banget, kadang-kadang tergiur juga mau ngambil tapi kan kalau jadi salsa entertainer harus all out, harus ekspresi seksi. Besok-besok kalau keluar di koran gimana. Nah, itu artinya yah kadang-kadang rindu sama moment itu tapi yah gak mungkin kan kalau senam masih oke. Jadi yang miss-nya adalah gak bisa jadi salsa entertainer aja. Kadang-kadang masih suka kangen banget apalagi kalau ngeliat orang nari, duh kayaknya mesti gue tuh yang harusnya nari, karena hobi banget.

 

  • Ketika menjelaskan ke anak, ketika mbak harus ke luar kota, cukup sulit gak sih mbak?
    Yah namanya juga ibu, percaya atau nggak kalau saya yang namanya rapat itu sehari, di hp saya itu cuma nomor rumah. Anak pertama sama anak kedua hanya cuma nanya udah makan apa belum, udah minum obat atau belum kalau dia sakit. Terus gimana di rumah, udah mandi apa belum, udah sholat tapa belum. Jadi saya hanya kepikiran kalau gak kantor yah rumah, kadang-kadang yah gaul juga gak lah, arisan apalagi, udah gak. Karena waktunya udah abis, di rumah itu juga sambil baca koran, baca buku atau apa yah karena itu lah kita gak mungkin intelektual kita di situ-situ aja kan, bisa-bisa gak dianggap sama orang.

 

 

  • Kemudian ketika spending time with family, moment yang paling mbak pingin kan waktu bersama keluarga itu apa mbak?
    Yah kan saya punya strategi kalau riset terus anak-anak libur, saya ajak. Jadi itu semacam wisata bersama keluarga, saya kan daerahnya ada di Gunung Kelud, Candi Penataran, banyak lah daerah tujuan wisata yang memang harus saya kunjungi tapi anak-anak ikut. Terus yang besar nih saya tugasin dia pegang handycam untuk mewawancarai guru atau masyarakat. Jadi dia lumayan dapat honor juga, dapat liburan sama keluarga juga. Kebetulan mas Ivan yang nyetir. Sampai detik ini senengnya kita tuh kalau di Dapil, mas Ivan, aku sama anak-anakku dan staf ahli satu mobil itu sempit-sempitan tapi akhirnya kita bisa cerita. Terus makan rame-rame. Akhirnya sih jadi gak kehilangan moment. Cuma orang bingung aja, di mobil banyak banget isinya hehehe belum barang-barangnya tapi lucu buat aku tuh fun banget.

 

 

  • Kalau Mbak Venna sendiri sempat mendapat kritikan gak sih. Dulu kenal kan artis yang akrab, ramah bisa berpenampilan seksi, ketika sekarang berubah total dari temen artis?
    Oh kalau dari temen-temen artis, mereka malah mendukung. Saya juga sangat mendukung nanti kalau misalkan artis yang di 2014 lebih banyak lagi karena kita kan makin periode makin banyak, kemudian yang dieksekutif juga kan kayak mas Dede Yusuf. Tapi mungkin justru penilaian itu datang dari masyarakat, saya pikir ternyata mereka menganggap kalau seorang aktris itu istilahnya ada peningkatan karir, mereka sangat menghargai kalau artis itu komit. Dalam artian kalau di facebook saya, saya taruh gambar-gambar kegiatan saya, jadi comment-comment mereka oh ternyata Mbak Venna ini turun yah ke lapangan.

 

Jadi kita cukup bangga, banyak doanya malah mereka lebih positif. Dulu waktu saya berpakaian seksi, waktu salsa yang seneng kebanyakan bapak-bapak, yang gak seneng kebanyakan ibu-ibu. Nah, sekarang semuanya hampir rata-rata support pekerjaan saya, jadinya yah baguslah.

 

  • Kalau untuk obsesi di bidang politik sendiri, untuk Venna Melinda setelah menjadi anggota DPR apakah akan berkeinginan lain untuk naik kelas, kasarnya seperti itu?
    Sebenarnya kalau saya sih waktu jadi anggota DPR gak muluk-muluk, kalau sampai sekarang juga nanya lagi 2014 lanjut atau gak. Saya sendiri juga belum bisa kasih jawaban apa-apa karena itu kan proses belajar di politik dan itu satu hal yang saya dapetin bukan apa atau menjadi presiden. Cuma yang saya dapetin adalah saya semakin kaya yah. Kaya tuh kayak pengalaman kalau kita makin berinteraksi dengan masyarakat pedesaan, lapisan menengah ke bawah, kita akan makin bersyukur karena mereka gak punya aja memberikan semua yang mereka punya, nah apalagi kita. Itu yang saya gak dapat waktu jadi artis, yang saya dapat popularitas sama materi.

 

Tapi kalau di sini, kalau materi jauh banget menurun, gaji saya di sini sama kayak sekali saya show di salsa, tapi pelajaran hidupnya saya merasa happy banget gitu. Kalau saya bangun ngerasa saya happy, kalau setiap kali saya ke masyarakat mereka banyak yang mendoakan, percaya gak percaya doa orang yang tulus jauh membuat kita happy. Dulu saya tuh kadang-kadang masih kemerungsung, masih suka gak puas diri, kurang bersyukur mungkin tapi sekarang kok saya happy-happy aja. Padahal kan duit tabungan gak banyak-banyak banget, yah believe it or not banyak yang doain. Mungkin mereka merasa anggap saya keluarga. Jadi hal-hal itu yang saya merasa bahwa life itu bukan hanya semata-mata karena uang, tapi kadang-kadang kalau kita bisa bermanfaat buat masyarakat kok feedback-nya luar biasa buat hidup kita.

Saya gak tahu 2014 saya mau jadi apa karena apa yang kita tanam, pasti kita akan mendapatkan yang terbaik. Saya rasa mau kita jadi eksekutif, legislative, artis, orang juga tidak akan respect. Jadi menurut saya yang paling penting adalah kita berbuat apa sehingga nanti resultnya ada yang nunjukin ke situ. Oh saya habis itu jadi presiden, habis itu jadi menteri, terlalu mengada-ada, biar nanti prosesnya lah.

 

  • Tapi tetep ingin menyalonkan calon dewan kembali di 2014?
    Mmm liat nanti, belum tahu. (kpl/buj/nat)

 

 

Galeri Foto Omahe Venna Melinda:

Venna MelindaVenna Melinda
Venna MelindaVenna Melinda
Venna MelindaVenna Melinda



Komentar