SELEBRITIA

Piyu: Saya Cuma Mau Memberi Inspirasi

Rabu, 09 Februari 2011 15:19  | 

Piyu Padi


Piyu: Saya Cuma Mau Memberi Inspirasi
Piyu Padi




KapanLagi.com -
Oleh: Puput Puji Lestari

Menyebut nama Piyu alias Satrio Yudi Wibowo pada tahun 1999, mungkin hanya Band Padi yang terlintas. Namun satu dekade kemudian, menyebut nama Piyu tentu sudah sangat berbeda. Sebutannya bertambah, bukan hanya gitaris Padi, tapi juga produser band, talent searcher, dan pemilik label Emotion.

Kisah hidupnya, sangat berliku. Kesuksesan yang digenggamnya adalah akumulasi perjuangan panjangnya. Banyak rintangan dan kerja keras yang mengantarnya pada kesuksesan sekarang. Karenanya Piyu ingin merekamnya supaya menjadi pijakan kokoh untuk dirinya juga orang lain. Lewat bukunya Piyu From the Inside Out: Life, Passion, Dreams, and His Legacy.

Meskipun belum resmi dilaunching, promo lewat Twitter membuat bukunya berhasil menembus 10 buku terlaris di toko buku Gramedia. Sore selepas hujan, Senin (08/02/2011), KapanLagi.com mampir ke studio Emotion-nya di Jalan Blora No 37 Jakpus. Intip yuk isi buku Piyu berikut ini:


Piyu

BUKU NAPAK TILAS PERJUANGAN

  • Selamat Mas atas bukunya, laris pula?

    Sebenarnya belum resmi dirilis. Sama Gramedia juga belum promo. Tapi saya pendekatan lewat Twitter aja. Belum sampai promo hard selling. Minggu depan baru ada penandatanganan buku di beberapa toko buku.
  • Kenapa mesti rilis buku?

    Ada suatu momen saya tiba-tiba bilang saya mau buat buku ah. Karena saat itu saya terpikir bukunya Piyu dan super band. Kan saya lagi terlibat progam mencari The Next Super Band. Jadi saya pikir saya bisa jadi bagian dari situ. Jadi saya dan super band ada keterkaitannya. Bagaimana saya mencari calon super band. Mulai dari menemukan, mendesain, sampai mempromosikan mereka. Kan saya sudah ada Drive sama Armada waktu itu.

    Lalu desain bukunya saya tawarkan ke Gramedia. Pas ketemu sama tim Gramedia itu berkembang idenya. Saya ditanya apakah buku ini manfaatnya untuk anak band aja. Mencari manfaat buku ini untuk saya apa, untuk pembaca apa. Dari pertanyaan itu muncullah mapping buku saya. Dan akhirnya disepakati saya akan membuat buku yang inspiring, lebih ke perjalanan hidup saya. Dari awal saya kenal musik, bikin band, dan awal di Jakarta.

    Kenapa saya bikin buku, ya dari awal saya memiliki catatan dari foto catatan sebagai bukti bahwa saya pernah melewati masa-masa sulit. Saya bisa mengingatkan bahwa keberhasilan itu bukan instan. Itu sebabnya buku ini arahnya sebagai inspirasi bukan sebagai motivasi.

    Kalau kamu ingin jadi band yang sukses ya contohnya ya Piyu. Step-stepnya seperti apa, di buku ini bisa diikuti. Saya mengalami dulu ditentang orang tua saya saat mau ngeband. Tidak seperti jaman sekarang yang banyak dukungan. Di sini saya sebagai pengingat saya bahwa bukan hanya keberuntungan, bukan cuma bisa buat lagu meledak itu sukses. Saya ingin mengingatkan bahwa itu cuma ujungnya saja. Prosesnya panjang, dan saya ingin terus belajar dan berkembang. Mungkin suatu saat saya buat buku lagi dengan cerita yang lain.
  • Timing pas Padi lagi vakum?

    Sebenarnya bisa jadi berkaitan begitu. Terus terang ide buku ini tercetus saat kami memutuskan untuk vakum. Ini sebagai sebuah pengingat bahwa ada band yang bisa menginspirasi anak muda. Mengenai timing, memang saya rasa pas banget. Usia saya hampir empat puluh. Jadi kalau ada yang tanya pantes nggak Piyu menulis buku. Saya pikir nggak ada kriteria layak atau nggak layak. Saya pikir saya punya sesuatu untuk saya share. Dan itu sesuai dengan kapasitas saya. Kalau saya share yang saya nggak tahu, nggak sesuai porsi saya itu baru nggak layak.
  • Yang diceritakan apa aja?

    Mungkin berbeda dengan biografi lain ya. Saya lebih ke pembukaan buku saya memperkenalkan diri bahwa sejak kecil saya sudah mendengarkan musik. Dan lebih dalam, keyakinan saya untuk membuat band yang sukses itu harus saya tebus dengan kerja keras. Bahwa saya menjadi cleaning service untuk bertahan hidup di Jakarta, itu pernah saya lakukan. Harus menawarkan demo yang ditolak ke sana ke mari, ini ada dalam buku ini.
  • Kenapa nggak ada bonus CD lagu dari Mas?

    Sebenarnya saya merasa bahwa kalau saya ditaruh di satu tempat, berdiri aja orang yang ngelihat udah berpikir saya musisi. Musik itu udah nature bagi saya, saya sudah tahu proses rekaman kayak apa. Jadi kalau saya mengeluarkan musik itu sudah wajar. Tapi ini saya bicara soal buku, ya udah saya mau buku saja. Di sini saya bicara hal selain musik juga.
  • Yang paling susah dalam proses penyusunan buku ini?

    Mengumpulkan kenangan masa kecil. Karena keluarga saya sederhana. Nggak ada video, kamera. Tapi ternyata orang tua saya menyimpan kenangan-kenangan saya. Saya berharap kalau dulu sudah ada video, saya bisa menaruh saat saya memegang gitar pertama kali.
  • Paling mengagetkan?

    Saya coba menghubungi teman-teman lama untuk melengkapi koleksi. Kan saya temenan sama Makki Ungu sejak saya SMP dulu. Saya kirim pesan bbm ke dia, nanya punya foto dulu waktu masih main bersama. Dan kirim foto akhirnya. Nah, itulah yang membuat saya terkejut dan seru. Ada juga teman SD yang share foto.
  • Manfaat buku?

    Buat saya, buku ini sebagai pengingat bahwa saya sudah melewati perjalanan-perjalanan seperti ini. Bahwa saya belum ada apa-apanya, masih banyak perjalanan dan saya harus terus belajar. Saya merasa bersyukur banget bahwa saya bisa share ke pembaca. Saat saya nge-tweet, saya juga menikmati bisa mengingatkan lagi bahwa perjalanan saya seperti ini. Untuk pembaca saya ingin memberi sesuatu bahwa harus terus berinisiatif. Kalau buat band yang mesti berinisiatif menawarkan demo. Bikin lagu terus terus dan terus.
  • Saat mencari band, kriteria band yang bakal melejit seperti apa?

    Tergantung saya biasanya mendengar dan melihat. Saya mendengar harus ada hook-nya. Lagu harus ada rohnya. Kalau saya dengerin bisa membawa saya ke suatu tempat lain. Trus bisa dikembangkan. Jadi meskipun sekali dengar, saya sudah bisa membayangkan lagu ini mau diapain nantinya. Jadi arrangementnya terbuka. Kalau saya melihat, ada karakter yang mesti ada. Yaitu good performance, good attitude, good skill, dan ini ada di buku saya.
  • Persembahan?

    Ini untuk anak muda Indonesia yang mau merubah nasibnya. Dengan membaca buku ini saya berharap pembaca bisa melebihi apa yang saya capai.
  • Di buku ini mengisahkan kenangan bersama Flo?

    Ya, yang paling berkesan adalah saat perkenalan pertama saya sama dia. Membagi share hidup saya dengan dia. Memulai bisnis dengan dia. Memang kita ini pasangan yang saling melengkapi.

PERSONAL

  • Paling disukai?
    Travelling, mencoba makanan baru dari segala daerah dan negara, foto, dan baca.
  • Paling menyedihkan?
    Kalau melihat ada sesuatu yang didzolimi. Entah itu manusia-manusia atau manusia ke binatang. Kemarin pas ada berita penganiayaan terhadap jamaah Ahmadiyah, saya sampai nggak berani lihat beritanya. Cuma dapat kabar dari Twitter. Saya nggak tega, sedih melihatnya. Nggak tahu mesti berkomentar seperti apa.
  • Yang bikin jengkel?
    Ketidakdisiplinan, ketidaknyamanan.
  • Kalau janji diingkari?
    Masih toleransi saja ke depannya bisa lebih bagus. Karena saya tidak di culture yang orangnya bisa tepat waktu. Jadi udah banyak toleransi.
  • Yang bikin susah tidur?
    Nonton film, karena mesti selesai. Film-film Perancis. Saya punya seribu DVD, asli lo ya.... hehehehe.
  • Mimpi yang belum tercapai?
    Saya pingin membuat band baru sebanyak-banyaknya.
  • Gadget favorit?
    BlackBerry sama Ipad.
  • Twitter?
    ini luar biasa banget. Media komunikasi promosi. Saya nggak suka follow orang, di account saya cuma follow 10 orang yang benar-benar saya kenal dekat. Alasannya adalah saya tidak mau timeline saya dipenuhi orang yang saya follow. Saya ingin memberi prioritas follower saya. Jadi timeline saya ya untuk memantau dan membalas tweet dari follower untuk saya. Saya pikir ini kan sah-sah saja.
  • Pelawak favorit?
    Sule dan Asmuni.
  • Liburan favorit?
    Eropa dan Bali. Bali itu semua tempat menyenangkan. Nggak semua orang kenal juga, jadi bisa ngapain aja di sana. Mau ke pantai atau ke klub itu ok.
  • Cuaca ekstrem?
    Nggak tahu ya, mungkin karena bumi semakin tua. Saya bayangkan aja 10 tahun lalu saya naik metromini itu nyaman-nyaman aja. Nggak ada macet. Dulu jalan di Jakarta masih enak. Sekarang panas sekali buat jalan di sini. Karena bertambah penduduk, global warming makin parah.
    Saya pingin anak saya sadar lingkungan dengan hal yang sederhana. Dengan tidak membuang sampah sembarangan. Saya kasih lihat kali Ciliwung sebagai akibat buang sampah sembarangan. (kpl/uji/nat)

Lihat Galeri Foto Piyu:

PiyuPiyu
PiyuPiyu
PiyuPiyu