

Ini adalah film keempat Hanung yang diadaptasi dari novel. Dan lagi-lagi ia merasa berada dalam situasi yang sama seperti film JOMBLO dan AYAT-AYAT CINTA sebagai film adaptasi novel. Film ini bukan menghadapi penonton yang belum tau isi ceritanya.
"Saya takut karena kita tidak hadapi penonton yang fresh, dan akan membandingkan dengan versi novel serta sudah tau endingnya," tutur Hanung Bramantyo saat dijumpai dalam preskon film PERAHU KERTAS, di Epicentrum, Kuningan, Jaksel, Rabu (8/8).
Sebagai sutradara, Hanung memilih menjadi medium dan menghidupi karakter yang sudah ada. "Makanya kehadiran penulis novel ini sangat penting. Awalnya saya males karena akan menghadapi hal yang sama seperti ini dan hadapi pertanyaan sama, apakah sama dengan novelnya," ungkapnya. (kpl/uji/dew)