

"Bioskop tidak boleh menjadi alat propaganda budaya asing," kata Miing yang juga Anggota Komisi X DPR RI di Jakarta, Kamis (30/08).
Seperti ditulis situs Screen Daily, raksasa dari Korea Selatan, Cheil Jedang CGV dan Lotte Mart, berniat untuk membuka bioskop di Indonesia namun masih terkendala aturan Daftar Investasi Negatif (DNI).
CJ CGV dan Lotte Cinema dua raksasa dunia hiburan asal Korea Selatan yang berniat menjadikan Indonesia sebagai pasar bagi produk budaya Korea. Belum lama ini kedua perusahaan tersebut berhasil membangun bioskop di Vietnam.
Menurut Dedy Gumelar bisnis bioskop tidak sama dengan investasi di bidang lain, karena melalui bioskop budaya asing akan leluasa masuk dan mempengaruhi karakter kebudayaan Indonesia.
"Mau CJ, Lotte Cinema, atau siapa pun, sejauh berpotensi merusak perkembangan kebudayaan Indonesia, saya menolak dengan keras," katanya.
Sebaliknya, Miing sangat setuju jika pemain lokal sendiri yang mengembangkan biskop di Indonesia.
"Saya pernah baca di media bahwa MNC dan Para Group akan bermitra dengan Blitz Megaplex untuk menambah jaringan biskop. Kalau ini saya dukung penuh," katanya.
Ia menambahkan, tidak ada sejarahnya sebuah negara hancur karena krisis ekonomi, tetapi kalau budaya sebuah negara sudah hancur, maka akan hancurlah negara itu.
"Sekarang saja, dengan serbuan K-pop, banyak gaya rambut remaja-remaja kita yang meniru artis-artis Korea, apalagi jika film Korea punya bioskop sendiri di Indonesia," tegasnya.
Miing mengaku sering mengingatkan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) agar berhati-hati terhadap investasi asing terutama yang berpotensi merusak karakter budaya bangsa.
"Yang akan hancur bukan hanya karakter budaya bangsa, melainkan juga para pelaku industri film nasional," katanya.
Untuk itu, Ia mengajak para pelaku Industri film nasional untuk sama-sama mengembangkan dan menjaga karakter budaya bangsa Indonesia dengan menciptakan film-film yang bermutu. (antara/dar)