
Ditemui sebelum pembukaan acara tersebut pekan lalu, Ferry mengaku keinginan mendesain khususnya pakaian pria dengan motif batik sebenarnya sudah cukup lama. Keinginan berkaitan pula dengan kian banyaknya karya anak negeri diakui oleh negara lain.
"Sudah lama saya pengen bikin batik sebab kalau beli jadi nggak ada yang sesuai. Akhirnya saya berpikir kenapa nggak buat batik sendiri. Batik itu hasil karya anak bangsa dan saya berusaha melestarikan. Masa karya nenek moyang diakui negara lain? Selain saya juga menghargai batik yang saya buat tanpa pewarna kimia," ujarnya.
Oleh karena karya batik tersebut bukan Ferry sendiri maka merk pun dibuat berdasarkan penggalan inisial nama mereka. "Merknya Rofus dan baru bisa temukan di sini," lanjutnya sambil menambahkan bahwa bahan sutera yang dipakai untuk batik.
Selain ingin melestarikan budaya dan hasil karya anak bangsa, Ferry sebetulnya mau memperkenalkan bahwa batik tidak hanya dikenakan saat acara formal semata. "Saya mau batik jangan cuma dipakai ke acara formal tapi dengan memadupadankan dengan yang lain maka batik bisa diajak gaya. Misalkan padukan batik dengan celana jins yang saya pakai. Jadinya masih tetap bisa trendi," imbuhnya. (kpl/dis/erl)

