TELEVISI

FTV 'TJINTA FATMA', Kisah Cinta Sang Proklamator

Rabu, 15 Agustus 2007 18:45 | 

Guruh Soekarno Putra






Kapanlagi.com - Tak banyak orang yang mengetahui latar belakang percintaan Bung Karno dan Fatmawati di Bengkulu. Mungkin hal itu yang memberi inspirasi pada Guruh Soekarno Putra, untuk memfilmkan kisah cinta kedua orang tuanya itu dalam sebuah film TV berjudul TJINTA FATMA.

Tentang awal berseminya cinta mereka, seperti dituturkan Bung Karno dalam otobiografinya, terjadi saat mereka berjalan-jalan pada sore hari. Bertanyalah Fatma kepada Bung Karno, "Jenis perempuan mana yang Bapak sukai?"

Bung Karno memandang gadis desa putra tokoh Muhammadiyah berbaju kurung merah dan berkerudung kuning itu, seraya menjawab, "Saya menyukai perempuan dengan keasliannya. Bukan wanita modern pakai rok pendek, baju ketat dan gincu bibir yang menyilaukan."

"Saya suka wanita kolot yang setia menjaga suaminya dan senantiasa mengambilkan alas kakinya. Saya tidak menyukai wanita Amerika dari generasi baru, yang saya dengar menyuruh suaminya mencuci piring," tambahnya.

"Saya setuju," bisik Fatma. Bung Karno menimpali, "Saya menyukai perempuan yang merasa berbahagia dengan anak banyak. Saya sangat mencintai anak-anak." Lagi-lagi Fatma menyahut, "Saya juga."

Minggu berganti bulan dan bulan pun silih berganti, rasa cinta mulai bersemi di hati keduanya. Meski begitu, Bung Karno berusaha memendam perasaan itu dalam-dalam, karena penghargaannya yang tinggi terhadap Inggit, yang sudah separuh usianya mendampingi dengan setia.

Alhasil, ketika Bung Karno membuka jalinan kasihnya dengan Fatma, pertengkaran tak bisa dihindari antara Bung Karno dan Inggit. Inggit merasa Fatma sudah dianggap anak sendiri. Sementara Bung Karno memerlukan anak, syukur jika laki-laki.

Tak pelak, pada puncak pertengkaran, Bung Karno berkata kepada Inggit, "Untuk kawin lagi adalah suatu keharusan bagiku, akan tetapi aku mengajukan satu usul. Sekalipun aku cinta terhadap Fatmawati, akan kulupakan dia kalau kau dapatkan perempuan lain yang menurut perkiraanmu lebih cocok untukku."

"Tunjuklah seorang yang tidak seperti anak lagi dan dengan demikian dapat membebaskanmu dari kebencian yang kau rasakan sekarang," tegas Bung Karno saat itu.

Menyimak riak-riak percintaan antara Bung Karno, Inggit, dan Fatma secara sekilas tersebut, tergambar betapa dramatisnya. Ditambah lagi bahwa tahun itu, 1943, dikabarkan bahwa Sekutu sudah menyerah dan Jepang sudah masuk Indonesia.

Bahkan, di tengah keadaan Bung Karno yang hendak kembali diungsikan Belanda ke Australia. Itu semua menjadi bumbu-bumbu yang luar biasa dramatis dalam film TV yang berdurasi 90 menit ini dan diproduksi dengan biaya tak kurang dari Rp 400 juta itu.

Menurut Guruh, penggarapannya sudah rampung. Intinya, menggambarkan suasana tahun 1938-1945, yakni selama pembuangan Bung Karno yang didampingi istrinya, Inggit Garnasih dan putri angkatnya, Ratna Djuami, yang dilanjutkan sampai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Ratna Djuami, yang sehari-hari oleh Bung Karno dan Inggit dipanggil Omi, saat itu berusia 15 tahun, sama dengan usia Siti Fatimah, putri Hasan Din, seorang pemuka Muhammadiyah di Bengkulu. Omi dan Fat bersahabat karib, karena sama-sama disekolahkan Bung Karno.

Kisah cinta Bung Karno dan Siti Fatimah yang kemudian diubah Bung Karno menjadi Fatmawati, yang satu sekolah dengan Omi dan sempat indekos di rumah Bung Karno, tentu punya daya tarik tersendiri.

Bung Karno sudah berusia 37 tahun, punya istri yang jauh lebih tua darinya, sementara Fatmawati baru 15 tahun. Jalinan cinta kedua makhluk Tuhan ini menggambarkan kebesaran jiwa, kejantanan, ketulusan dan kejujuran yang tiada tara.

TJINTA FATMA berhasil mengungkapkan semua itu. Bagaimana seorang Soekarno yang masih punya istri, meminang putri teman seperjuangannya. Bagaimana seorang gadis desa mampu menolak dengan halus, padahal orang yang meminangnya adalah tokoh bangsa yang dikagumi semua pejuang kemerdekaan.

Bagaimana pula, seorang istri yang tidak mau dimadu, akhirnya mempersilakan suaminya menceraikan dirinya, karena ia sadar usianya tidak memungkinkan lagi memberikan keturunan, padahal Sukarno sangat mengidamkannya.

Perempuan tanah Priangan yang pernah menjadi ibu kos Bung Karno ketika pemuda Soekarno masih kuliah di ITB Bandung, kemudian memberi izin kepada Fatma untuk menikah dengan Bung Karno melalui proses yang mengharukan.

Saksikan pula bagaimana Bung Karno dengan penuh kejantanan meminta izin dari istrinya untuk menikah dengan perempuan yang memanggilnya 'ibu'. Demikian pula, bagaimana Fatma memenuhi ketulusan hati 'ibu kos'-nya, agar bersedia menikah dengan Soekarno.

TJINTA FATMA bukan hanya melingkar-lingkar mengungkapkan perjalanan cinta Soekarno - Fatmawati, tetapi mencakup pula penggambaran tentang perjuangan Bung Karno sampai saat Proklamasi Kemerdekaan.

Bahkan setelah Fatma menjadi Ibu Negara, ia pun mampu berdampingan dan mendukung perjuangan suaminya, sehingga dia lah yang menjahit Bendera Pusaka Merah - Putih, yang untuk pertama kalinya dikibarkan di pelataran rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur 56 (sekarang Gedung Pola), sesaat Sukarno-Hatta memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia. (trans7/suci)


Nama :
Email :
Komentar :
Komentar yang tidak sopan akan dihapus.

Komentar Pembaca (0)


Lihat Arsip Televisi

- - -