Kapanlagi.com - Spons menjadi salah satu perlengkapan kebersihan rumah. Setiap hari, fungsinya bermanfaat untuk mencuci piring, membersihkan meja dapur, hingga mengangkat noda pada berbagai permukaan.
Namun, penggunaan spons secara terus-menerus membuat sisa makanan, minyak, sabun, dan kotoran berpotensi menumpuk di dalam pori-porinya. Apalagi jika spons sering dibiarkan dalam kondisi basah, mikroorganisme bisa berkembang dan membuatnya kurang higienis.
Sayangnya, tidak semua orang menyadari bahwa spons yang terlihat masih bagus belum tentu layak digunakan. Lantas, bagaimana cara mengetahui spons pembersih rumah sudah perlu diganti? Simak 7 caranya, dihadirkan KapanLagi, Minggu (1/11).
Advertisement
Salah satu tanda paling mudah dikenali adalah munculnya bau apek, asam, atau busuk dari spons. Kondisi ini biasanya berkaitan dengan sisa makanan, minyak, dan kelembapan yang tertinggal di dalam pori-pori spons setelah digunakan.
Meskipun sudah dibilas menggunakan air dan sabun, spons yang tetap mengeluarkan bau tidak sedap sebaiknya segera diganti. Bau tersebut bisa menjadi petunjuk adanya penumpukan bahan organik dan aktivitas mikroorganisme.
Jangan mencoba menutupi bau dengan pewangi atau cairan pembersih tambahan. Cara tersebut tidak menyelesaikan sumber masalah, terutama jika spons sudah terlalu kotor dan sulit dibersihkan.
Spons baru biasanya memiliki warna yang relatif merata sesuai bahan pembuatnya. Setelah digunakan berkali-kali, warnanya bisa berubah akibat paparan minyak, sisa makanan, noda minuman, dan kotoran dari berbagai permukaan.
Perubahan warna menjadi kuning, kecokelatan, atau kehitaman perlu diperhatikan, terutama jika disertai noda yang sulit dihilangkan. Kondisi ini bisa menunjukkan adanya kotoran yang sudah menumpuk di dalam spons.
Meski perubahan warna tidak selalu menandakan pertumbuhan bakteri, spons yang tetap terlihat kotor setelah dicuci sebaiknya tidak digunakan terlalu lama. Menggantinya dengan spons baru membantu menjaga kebersihan peralatan rumah tangga.
Spons yang terasa licin atau berlendir meskipun sudah dibilas merupakan tanda lain yang perlu diwaspadai. Kondisi tersebut bisa berkaitan dengan penumpukan minyak, sisa sabun, bahan organik, atau terbentuknya biofilm.
Biofilm merupakan kumpulan mikroorganisme yang menempel pada permukaan dan dapat membentuk lapisan pelindung. Struktur ini membuat mikroorganisme lebih sulit dihilangkan hanya dengan pembilasan biasa.
Jika spons sudah terasa berlendir dan kondisinya tidak kembali normal setelah dicuci, sebaiknya segera buang. Hindari menggunakannya kembali untuk membersihkan piring, gelas, maupun peralatan makan lainnya.
Spons yang sudah lama digunakan biasanya mengalami penurunan kualitas bahan. Bagian permukaannya bisa terkoyak, mengelupas, atau mengeluarkan serpihan kecil ketika digunakan untuk menggosok peralatan rumah.
Kerusakan tersebut membuat spons tidak lagi bekerja secara maksimal. Daya gosoknya bisa berkurang sehingga pengguna harus mengeluarkan tenaga lebih besar untuk mengangkat noda yang menempel.
Selain itu, serpihan spons berisiko tertinggal pada piring, meja, atau permukaan yang sedang dibersihkan. Jika bagian spons mulai terlepas atau bentuknya berubah, sebaiknya segera ganti dengan yang baru.
Spons yang masih dalam kondisi baik umumnya mampu menyerap dan menahan air dengan cukup mudah. Kemampuan ini membantu sabun dan air menyebar ketika digunakan untuk mencuci berbagai perlengkapan rumah tangga.
Namun, spons yang sudah rusak atau mengalami penumpukan kotoran bisa menunjukkan perubahan kemampuan menyerap air. Air mungkin lebih sulit masuk atau spons terasa berbeda ketika dibasahi dan diperas.
Perubahan tersebut bisa berkaitan dengan kerusakan struktur bahan spons. Jika kemampuan menyerap air sudah jauh berkurang dan penggunaannya tidak lagi efektif, pertimbangkan untuk menggantinya.
Spons perlu dibilas setelah digunakan agar sisa sabun, minyak, dan kotoran tidak terus menumpuk. Akan tetapi, ada kalanya spons tetap terlihat kotor meskipun sudah dicuci berkali-kali menggunakan air mengalir.
Hal ini bisa terjadi karena kotoran sudah masuk dan tertahan di bagian dalam spons. Pori-pori yang menjadi tempat berkumpulnya sisa bahan organik membuat proses pembersihan semakin sulit.
Jika kondisi tersebut terus terjadi, jangan memaksakan spons untuk digunakan kembali. Mengganti spons lebih baik daripada menggunakannya untuk membersihkan peralatan makan dalam kondisi yang tidak higienis.
Spons yang sering dibiarkan basah dan disimpan di tempat lembap berisiko mengalami pertumbuhan jamur. Tandanya bisa berupa bercak berwarna hitam, hijau, atau putih yang terkadang disertai permukaan berbulu.
Pertumbuhan jamur lebih mudah terjadi ketika spons tidak mendapatkan kesempatan untuk mengering setelah digunakan. Kondisi penyimpanan yang tertutup dan kurang memiliki sirkulasi udara juga bisa memperburuk keadaan.
Jika menemukan bercak yang diduga jamur, segera buang spons tersebut. Jangan mencoba mengikis bagian yang berjamur karena pertumbuhannya bisa saja sudah menyebar ke bagian dalam bahan.
Selain memperhatikan perubahan fisik, lama pemakaian juga perlu menjadi pertimbangan. Spons yang terlihat bersih belum tentu bebas dari mikroorganisme karena sebagian kontaminasi tidak bisa dikenali hanya melalui penglihatan.
Spons cuci piring yang digunakan setiap hari sebaiknya diganti secara berkala. Sebagai panduan praktis, penggantian setiap satu hingga dua minggu bisa dipertimbangkan, tetapi frekuensinya perlu disesuaikan dengan intensitas penggunaan dan kondisi spons.
Jika spons digunakan untuk membersihkan banyak peralatan, sering terkena sisa makanan, atau sulit dikeringkan, penggantiannya mungkin perlu dilakukan lebih cepat. Jangan menunggu sampai spons benar-benar rusak untuk menggantinya.
Selain mengganti spons secara berkala, kebiasaan merawatnya juga berpengaruh terhadap kebersihan dan masa pemakaian. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan:
Spons cuci piring yang digunakan setiap hari bisa diganti sekitar satu hingga dua minggu sekali. Namun, spons perlu diganti lebih cepat jika sudah berbau, berlendir, berjamur, atau rusak.
Sebaiknya tidak. Bau apek, asam, atau busuk bisa menunjukkan adanya penumpukan kotoran dan aktivitas mikroorganisme. Jika bau tetap muncul setelah dicuci, segera ganti spons.
Perhatikan munculnya bercak hitam, hijau, atau putih yang terkadang memiliki permukaan berbulu. Jika menemukan tanda yang diduga jamur, buang spons dan jangan menggunakannya kembali.
Ya. Spons memiliki pori-pori yang dapat menahan air, sisa makanan, dan bahan organik. Kondisi lembap tersebut memungkinkan mikroorganisme berkembang, terutama jika spons tidak dibersihkan dan dikeringkan dengan benar.
Bilas spons setelah digunakan, peras air berlebih, kemudian letakkan di tempat terbuka yang memiliki sirkulasi udara baik. Hindari menyimpan spons dalam kondisi basah di wadah tertutup.
(kpl/rul)