Kapanlagi.com - Istilah "hyper" dalam konteks hubungan merujuk pada perilaku atau kondisi yang berlebihan dan tidak terkendali. Kata ini berasal dari bahasa Yunani yang berarti "lebih" atau "berlebihan", sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang menunjukkan emosi, reaksi, atau perilaku yang sangat kuat.
Dalam hubungan romantis, apa arti hyper dalam hubungan dapat mencakup berbagai spektrum perilaku berlebihan. Seseorang yang "hyper" mungkin menunjukkan perhatian yang berlebihan, emosi yang tidak stabil, atau bahkan dorongan seksual yang tidak terkendali.
Melansir dari HelloSehat, hiperseksualitas atau hypersex adalah gangguan yang membuat seseorang mengalami kecanduan terhadap aktivitas seksual dan termasuk dalam kategori gangguan obsesif-kompulsif. Kondisi ini berbeda dengan seseorang yang memiliki libido tinggi namun masih dapat mengendalikan diri.
Untuk memahami apa arti hyper dalam hubungan secara komprehensif, perlu dipahami bahwa istilah ini memiliki beberapa dimensi yang berbeda dalam konteks relasi interpersonal.
Secara umum, hyper dalam hubungan menggambarkan perilaku yang melampaui batas normal atau wajar. Ini bisa berupa perhatian berlebihan, emosi yang tidak stabil, atau dorongan yang sulit dikendalikan. Dalam konteks yang lebih serius, hyper dapat merujuk pada hiperseksualitas, yaitu kondisi medis yang memerlukan penanganan profesional.
Mengutip dari KlikDokter, hypersex atau hiperseksual adalah kondisi ketika seseorang memiliki dorongan untuk melakukan aktivitas seksual secara berlebihan. Menurut Iswan Saputro, M.Psi., Psikolog, hypersex adalah salah satu gangguan seksual yang secara medis tergolong dalam gangguan obsesif kompulsif atau kecanduan.
Penting untuk membedakan antara seseorang yang memiliki hasrat tinggi dalam hubungan dengan kondisi hiperseksualitas yang merupakan gangguan mental. Orang dengan libido tinggi masih dapat mengendalikan diri dan menjalani kehidupan normal, sementara penderita hiperseksualitas mengalami kesulitan mengendalikan dorongan mereka hingga mengganggu aspek kehidupan lainnya.
Mengenali tanda-tanda perilaku hyper dalam hubungan sangat penting untuk memahami apakah seseorang memerlukan bantuan profesional atau tidak.
Melansir dari Alodokter, seseorang dapat dikatakan menderita hiperseks apabila gejala-gejala tersebut dirasakan lebih dari 6 bulan dan mengganggu kehidupan sosial, pekerjaan, hingga aktivitas sehari-hari.
Memahami akar penyebab perilaku hyper dalam hubungan sangat penting untuk menentukan pendekatan penanganan yang tepat.
Penting untuk dicatat bahwa dorongan seksual yang muncul dalam hiperseksualitas tidak berkaitan dengan pengaruh zat-zat penyebab kecanduan seperti alkohol atau narkotika, meskipun efek dari hypersex dapat menyebabkan pengidapnya terjebak dalam penyalahgunaan obat-obatan dan kecanduan alkohol.
Perilaku hyper dalam hubungan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif yang signifikan bagi semua pihak yang terlibat.
Mengutip dari Alodokter, jika dibiarkan, perilaku hiperseks akan melanggar batas norma yang berlaku di masyarakat dan bahkan dapat memicu tindakan kriminal. Oleh karena itu, penanganan yang tepat dan segera sangat diperlukan.
Penanganan perilaku hyper dalam hubungan memerlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan berbagai metode terapi dan dukungan profesional.
Melansir dari KlikDokter, kunci kesembuhan dari perilaku hiperseks adalah kekuatan pikiran, konsistensi dalam menjalani konseling, dan dukungan dari sistem support yang kuat. Penanganan harus dilakukan oleh profesional seperti psikolog atau psikiater yang berpengalaman dengan terapi seks.
Libido tinggi adalah hasrat seksual yang kuat namun masih dapat dikendalikan dan tidak mengganggu kehidupan sehari-hari. Sementara hiperseksualitas adalah gangguan yang membuat seseorang tidak dapat mengendalikan dorongan seksualnya hingga mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, dan kesehatan mental.
Tidak selalu. Perilaku hyper dalam hubungan dapat berupa perhatian berlebihan, emosi yang tidak stabil, atau reaksi yang sangat kuat terhadap situasi tertentu. Namun, dalam konteks medis, hypersex memang merujuk pada gangguan seksual.
Ya, hiperseksualitas dapat diatasi dengan penanganan medis yang tepat melalui kombinasi psikoterapi, terapi kelompok, terapi keluarga, dan pemberian obat-obatan sesuai kebutuhan. Kunci utamanya adalah konsistensi dalam menjalani terapi dan dukungan dari orang-orang terdekat.
Jika pasangan menunjukkan tanda-tanda perilaku hyper yang mengganggu, sebaiknya dorong mereka untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Berikan dukungan emosional dan hindari menghakimi atau menyalahkan mereka atas kondisi yang dialami.
Hiperseksualitas dapat dialami oleh pria maupun wanita, meskipun kondisi ini lebih sering dilaporkan pada pria. Pada wanita, kondisi ini disebut nimfomania, sedangkan pada pria disebut satiriasis. Gangguan ini juga dapat menyerang siapa saja tanpa memandang orientasi seksual.
Waktu penyembuhan bervariasi tergantung pada tingkat keparahan kondisi, faktor penyebab yang mendasari, dan konsistensi dalam menjalani terapi. Diagnosis hiperseksualitas biasanya ditegakkan jika gejala berlangsung lebih dari 6 bulan dan mengganggu kehidupan sehari-hari.
Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kesehatan mental, mengelola stres dengan baik, menghindari trauma atau pengalaman buruk, dan segera mencari bantuan profesional jika mengalami gejala gangguan mental seperti depresi atau kecemasan yang dapat memicu perilaku kompulsif.