Kapanlagi.com - Inisiatif merupakan salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki setiap individu dalam menjalani kehidupan. Apa arti inisiatif sebenarnya dan mengapa kemampuan ini begitu penting dalam berbagai aspek kehidupan?
Secara sederhana, inisiatif dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk mengambil tindakan atau memulai sesuatu tanpa harus menunggu perintah dari orang lain. Kemampuan ini mencerminkan sikap proaktif dan kemandirian dalam menghadapi berbagai situasi.
Mengutip dari Pedoman Perencanaan Dan Penganggaran, inisiatif baru merupakan salah satu prinsip dalam Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah untuk memfasilitasi Kementerian/Lembaga mendapatkan tambahan anggaran. Hal ini menunjukkan bahwa konsep inisiatif tidak hanya berlaku dalam kehidupan personal, tetapi juga dalam konteks organisasi dan pemerintahan.
Untuk memahami apa arti inisiatif secara mendalam, kita perlu melihat definisi dari berbagai sumber otoritatif. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), inisiatif memiliki arti "prakarsa". Kata ini termasuk dalam kelas nomina dan salah satu turunannya adalah kata berinisiatif yang merupakan verba.
Para ahli juga memberikan definisi yang beragam mengenai inisiatif. Suryana (2006:2) mendefinisikan inisiatif sebagai "kemampuan mengembangkan ide dan cara-cara baru dalam memecahkan masalah dan menemukan ide dan cara-cara baru dalam memecahkan masalah dan menemukan peluang". Sementara itu, Utami Munandar (1990:48) menjelaskan bahwa inisiatif adalah "kemampuan berdasarkan data atau informasi yang tersedia, menemukan banyak kemungkinan jawaban dari suatu masalah, di mana penekanannya adalah pada kuantitas, ketepatgunaan, dan keragaman jawaban".
Wollfock memberikan perspektif yang lebih sederhana dengan mendefinisikan inisiatif sebagai "kemampuan individu dalam menghasilkan sesuatu yang baru atau asli atau suatu pemecahan masalah". Stephen R. Covey, penulis buku The 7 Habits of Highly Effective People, menjelaskan inisiatif sebagai kemampuan untuk bertindak secara proaktif dalam menghadapi tantangan, tanpa harus menunggu instruksi dari orang lain.
Dalam konteks psikologi organisasi, Michael Frese dari University of Amsterdam bersama Wolfgang Kring, Andrea Soose, dan Jeannette Zempel dari University of Giessen menjelaskan personal initiative sebagai tindakan proaktif dan mandiri yang melebihi apa yang diwajibkan, mendorong inovasi dan fleksibilitas dalam organisasi.
Orang yang memiliki inisiatif tinggi umumnya menunjukkan beberapa karakteristik khusus yang membedakan mereka dari yang lain. Karakteristik utama dari individu berinisiatif adalah kemampuan untuk bertindak secara mandiri tanpa harus menunggu instruksi atau arahan dari pihak lain.
Menurut Santrock (2006), inisiatif muncul sejak masa kanak-kanak (usia 3–5 tahun), dan dipicu oleh kemampuan mengambil keputusan aktif dalam menghadapi tantangan, sehingga terbentuk tanggung jawab pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan inisiatif dapat dikembangkan sejak dini melalui pendidikan dan pengalaman yang tepat.
Inisiatif dapat diklasifikasikan ke dalam berbagai jenis berdasarkan konteks dan tujuannya. Pemahaman tentang jenis-jenis inisiatif ini penting untuk mengaplikasikannya secara tepat dalam situasi yang berbeda.
Setiap jenis inisiatif memiliki karakteristik dan pendekatan yang berbeda, namun semuanya memerlukan kemampuan dasar yang sama yaitu keberanian untuk memulai dan bertindak secara mandiri.
Memiliki sikap inisiatif memberikan berbagai manfaat signifikan baik untuk individu maupun organisasi. Dampak positif ini dapat dirasakan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Berdasarkan meta-analisis oleh Dewa Gede Satriawan (2024) dalam Pengaruh Inisiatif Keanekaragaman dan Inklusi terhadap Kepuasan Karyawan dan Kinerja Organisasi, ditemukan bahwa inisiatif dalam kebijakan keberagaman dan inklusi secara signifikan meningkatkan kepuasan kerja dan kinerja organisasi secara keseluruhan.
Meskipun tidak semua orang dilahirkan dengan kemampuan inisiatif yang kuat, kemampuan ini dapat dipelajari dan ditingkatkan melalui berbagai cara dan latihan yang konsisten.
Angga Dwita Desi Lisnawati dkk. (2024) dalam Analisis Kemampuan Inisiatif Peserta Didik SMP dalam Memecahkan Masalah Kontekstual menemukan bahwa 81% siswa menunjukkan kemampuan inisiatif berupa keberanian mengambil risiko dan menerapkan pemikiran orisinal dalam menyelesaikan soal matematika kontekstual.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), inisiatif memiliki arti "prakarsa". Kata ini termasuk dalam kelas nomina yang menunjukkan tindakan memulai sesuatu atau upaya untuk melakukan hal baru yang datang dari diri sendiri, bukan karena perintah orang lain.
Sikap inisiatif penting dalam dunia kerja karena memungkinkan karyawan untuk bekerja secara mandiri, meningkatkan produktivitas, mencari solusi inovatif, dan berkontribusi lebih besar terhadap kesuksesan organisasi. Karyawan berinisiatif juga lebih berpeluang mendapat promosi dan pengakuan dari atasan.
Sikap inisiatif dapat dikembangkan melalui berbagai cara seperti bersikap proaktif, membangun kepercayaan diri, mengambil risiko yang terukur, belajar dari pengalaman, mencari peluang perbaikan, dan terus mengasah kemampuan memecahkan masalah secara mandiri.
Inisiatif adalah tindakan proaktif yang dilakukan tanpa menunggu instruksi atau stimulus dari luar, sedangkan reaktif adalah tindakan yang dilakukan sebagai respons terhadap situasi atau perintah yang sudah ada. Orang berinisiatif bertindak lebih dulu, sementara orang reaktif menunggu untuk bereaksi.
Meskipun beberapa orang mungkin memiliki kecenderungan alami untuk berinisiatif, kemampuan ini dapat dipelajari dan dikembangkan melalui latihan, pengalaman, dan pendidikan yang tepat. Menurut Santrock (2006), inisiatif mulai berkembang sejak masa kanak-kanak dan dapat terus diasah sepanjang hidup.
Contoh inisiatif dalam kehidupan sehari-hari meliputi: membersihkan lingkungan tanpa diminta, membantu orang yang kesulitan, mencari solusi masalah keluarga, mengorganisir kegiatan sosial, atau mempelajari keterampilan baru untuk pengembangan diri tanpa harus disuruh.
Cara menunjukkan inisiatif di tempat kerja antara lain: menawarkan bantuan kepada rekan kerja, memecahkan masalah kecil sebelum menjadi besar, mengerjakan tugas yang dihindari orang lain, memberikan saran perbaikan, dan terus bertanya tentang kebutuhan pekerjaan untuk memberikan kontribusi yang lebih baik.