Kapanlagi.com - Ungkapan "serta mulia" telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia, terutama dalam lagu ulang tahun yang sering kita nyanyikan. Namun, tahukah Anda bahwa di balik frasa sederhana ini tersimpan makna filosofis yang sangat mendalam?
Kata "serta mulia" bukan sekadar rangkaian kata biasa, melainkan sebuah doa dan harapan yang mengandung nilai-nilai luhur. Dalam konteks budaya Indonesia, ungkapan ini mencerminkan keinginan agar seseorang tidak hanya berumur panjang, tetapi juga menjalani hidup yang bermakna dan terhormat.
Mengutip dari Ensiklopedi Budaya Islam Nusantara, konsep kemuliaan dalam tradisi Jawa-Sansekerta memiliki kaitan erat dengan kata "patitis" yang berarti tujuan hidup yang hakiki. Hal ini menunjukkan bahwa kemuliaan bukan hanya tentang status sosial, tetapi lebih kepada pencapaian tujuan hidup yang bermakna.
Secara etimologis, kata "serta" berarti "bersama dengan" atau "disertai", sedangkan "mulia" memiliki arti "terhormat", "bermartabat", atau "berharga". Ketika digabungkan, "serta mulia" mengandung makna hidup yang disertai dengan kemuliaan, kehormatan, dan martabat yang tinggi.
Dalam konteks yang lebih luas, arti serta mulia mencakup beberapa dimensi penting. Pertama, dimensi spiritual yang mengacu pada kedekatan dengan Tuhan dan nilai-nilai ketuhanan. Kedua, dimensi sosial yang berkaitan dengan kemampuan memberikan manfaat bagi sesama dan masyarakat. Ketiga, dimensi personal yang menyangkut integritas, karakter, dan akhlak mulia seseorang.
Konsep kemuliaan ini tidak terlepas dari tradisi filosofis Nusantara yang menekankan pentingnya keseimbangan antara kehidupan duniawi dan spiritual. Melansir dari Ensiklopedi Budaya Islam Nusantara, dalam tradisi Jawa, seseorang yang "patitis" atau mencapai tujuan hidup yang hakiki adalah mereka yang tidak hanya "bener" (benar) tetapi juga "panther" (lurus dan sejajar dengan arahan ilahi).
Makna serta mulia juga berkaitan erat dengan konsep maqashid dalam ajaran Islam, di mana segala sesuatu tidak dipandang dari aspek lahiriyah semata, tetapi yang terpenting adalah intisari atau tujuan utama yang terkandung di dalamnya. Hal ini menunjukkan bahwa kemuliaan sejati bukan hanya tentang pencapaian material, tetapi lebih kepada substansi dan makna hidup yang mendalam.
Lagu "Panjang Umurnya" yang populer di Indonesia merupakan adaptasi dari lagu Belanda "Lang zal hij/ze leven" yang memiliki melodi serupa dengan lagu Swedia "Ja, må han/hon leva". Dalam konteks ini, frasa "serta mulia" menjadi bagian integral dari doa dan harapan yang dipanjatkan untuk orang yang berulang tahun.
Melansir dari Wikipedia, lagu ini telah menjadi tradisi universal dalam perayaan ulang tahun di berbagai negara dengan adaptasi bahasa masing-masing, menunjukkan universalitas harapan akan kehidupan yang panjang dan bermakna.
Konsep serta mulia dalam filosofi hidup Indonesia mengandung nilai-nilai yang sangat mendalam dan relevan dengan kehidupan modern. Filosofi ini mengajarkan bahwa hidup yang sejati bukan hanya tentang durasi, tetapi juga tentang kualitas dan makna yang kita berikan pada setiap momen kehidupan.
Dalam tradisi Jawa, konsep ini berkaitan erat dengan ajaran tentang "ngelmu" atau ilmu yang hakiki. Mengutip dari Ensiklopedi Budaya Islam Nusantara, untuk mencapai ilmu yang "titis" (tepat dan hakiki), manusia harus dapat memahami kehendak guru sejati atau "pancer". Dengan memahami pancer, manusia akan ditunjukkan jalan keluar dari kehidupan dunia yang fana menuju kehidupan yang kekal.
Prinsip hidup serta mulia juga sejalan dengan ajaran sufistik yang menekankan pentingnya landasan taqwa dalam menyelesaikan persoalan hidup. Para ahli sufi mempelajari ilmu karena Allah dan mengamalkan ilmu tersebut untuk memperkokok ketaqwaan mereka. Sebagai balasannya, Allah menganugerahkan kepada mereka ilmu dan pengetahuan yang tidak mereka pelajari sebelumnya.
Dalam konteks kehidupan sehari-hari, filosofi serta mulia mengajarkan kita untuk selalu berorientasi pada kebaikan, kebenaran, dan kebermanfaatan. Hidup yang mulia adalah hidup yang tidak hanya menguntungkan diri sendiri, tetapi juga memberikan manfaat bagi orang lain dan lingkungan sekitar.
Di era modern ini, konsep arti serta mulia tetap relevan dan dapat diimplementasikan dalam berbagai aspek kehidupan. Kemuliaan tidak lagi hanya diukur dari status sosial atau kekayaan material, tetapi lebih kepada kontribusi positif yang dapat kita berikan kepada masyarakat dan lingkungan.
Melansir dari Widya Herbal Indonesia, konsep "panjang umur serta mulia" tidak hanya tentang harapan umur panjang, tetapi juga harapan untuk dapat memberikan manfaat. Seseorang yang mulia adalah seseorang yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain, sehingga hidupnya menjadi bermakna dan berdampak positif.
Konsep serta mulia telah menginspirasi berbagai karya seni dan budaya populer di Indonesia. Salah satu contoh yang paling menonjol adalah lagu "Serta Mulia" karya Sal Priadi yang dirilis pada tahun 2021. Lagu ini memberikan interpretasi modern terhadap makna klasik dari ungkapan tersebut.
Dalam lagu Sal Priadi, arti serta mulia dimaknai sebagai ucapan selamat dan doa untuk kebersamaan yang langgeng. Lagu ini terinspirasi dari momen perayaan ulang tahun pernikahan (anniversary) yang mencerminkan harapan akan hubungan yang panjang dan bermakna. Melansir dari analisis semiotika, lagu ini mengandung dua konteks makna: ulang tahun perseorangan dan perayaan kebersamaan dalam hubungan.
Penggunaan frasa "serta mulia" dalam karya seni modern menunjukkan bagaimana nilai-nilai tradisional dapat diadaptasi dan tetap relevan dalam konteks kontemporer. Hal ini membuktikan bahwa makna mendalam dari ungkapan ini mampu melampaui batasan waktu dan generasi.
Dalam dunia organisasi mahasiswa, konsep serta mulia juga digunakan sebagai nama kabinet BEM FST 2023 di Universitas Isa Yogyakarta. Pemilihan nama ini dilatarbelakangi oleh keinginan untuk menghidupkan kembali semangat berorganisasi di kalangan mahasiswa, dengan harapan bahwa setiap anggota dapat menjadi pribadi yang terhormat dan bermartabat.
Arti serta mulia adalah "disertai dengan kemuliaan" atau "bersama dengan kehormatan". Kata "serta" berarti bersama atau disertai, sedangkan "mulia" berarti terhormat, bermartabat, dan berharga. Secara keseluruhan, ungkapan ini mengandung makna hidup yang disertai dengan kemuliaan, kehormatan, dan nilai-nilai luhur.
Frasa "serta mulia" dalam lagu ulang tahun merupakan bagian dari doa dan harapan yang dipanjatkan untuk orang yang berulang tahun. Ungkapan ini mengandung harapan agar yang bersangkutan tidak hanya berumur panjang, tetapi juga menjalani hidup yang bermakna, terhormat, dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Dalam filosofi Jawa, konsep serta mulia berkaitan dengan "patitis" yang berarti tujuan hidup yang hakiki. Seseorang yang mulia adalah mereka yang tidak hanya "bener" (benar) tetapi juga "panther" (lurus dan sejajar dengan arahan ilahi). Konsep ini menekankan pentingnya keseimbangan antara kehidupan duniawi dan spiritual.
Makna serta mulia lebih luas dari sekadar sukses material. Kemuliaan mencakup dimensi spiritual, sosial, dan personal yang tidak hanya menguntungkan diri sendiri tetapi juga memberikan manfaat bagi orang lain. Sukses yang mulia adalah pencapaian yang bermakna dan meninggalkan dampak positif bagi masyarakat.
Implementasi konsep serta mulia dapat dilakukan melalui integritas dalam berkarya, kepedulian sosial, pengembangan diri berkelanjutan, menjaga lingkungan, membangun hubungan yang bermakna, dan mengamalkan nilai-nilai spiritual. Intinya adalah menjalani hidup yang tidak hanya menguntungkan diri sendiri tetapi juga bermanfaat bagi orang lain.
Konsep serta mulia tetap sangat relevan di era digital. Bahkan teknologi memberikan platform yang lebih luas untuk mengimplementasikan nilai-nilai kemuliaan, seperti berbagi konten bermanfaat, menggunakan media sosial secara bijak, dan mengembangkan inovasi yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Mulia dan terkenal memiliki makna yang berbeda. Terkenal hanya berkaitan dengan popularitas atau dikenal banyak orang, sedangkan mulia berkaitan dengan karakter, integritas, dan kontribusi positif yang diberikan. Seseorang bisa terkenal tanpa mulia, tetapi orang yang mulia belum tentu terkenal. Kemuliaan lebih menekankan pada substansi dan nilai-nilai luhur yang dimiliki seseorang.