Kapanlagi.com - Cara membuat pupuk dari sisa buah di dapur menjadi solusi praktis bagi siapa saja yang ingin menyuburkan tanaman tanpa harus membeli pupuk kimia. Kulit pisang, kulit apel, hingga sisa semangka yang biasanya langsung dibuang ke tempat sampah ternyata masih menyimpan banyak nutrisi penting bagi pertumbuhan tanaman.
Membuat pupuk sendiri dari sisa buah juga menjadi langkah kecil yang berdampak besar untuk mengurangi sampah rumah tangga. Alih-alih menumpuk di tempat sampah dan berakhir di TPA, sisa buah bisa diolah menjadi pupuk cair yang menyuburkan tanah, memperkuat akar, hingga meningkatkan hasil bunga dan buah.
Prosesnya pun tidak rumit dan bisa dilakukan dengan peralatan sederhana yang sudah ada di rumah. Berikut Kapanlagi.com merangkum dari berbagai sumber cara membuat pupuk dari sisa buah di dapur, lengkap dengan bahan yang cocok dipakai dan tips agar hasilnya maksimal.
Advertisement
Sisa buah seperti kulit dan ampasnya masih mengandung unsur hara penting yang dibutuhkan tanaman, terutama kalium dan fosfor. Kulit pisang misalnya, dikenal kaya kalium yang membantu memperkuat batang dan melindungi tanaman dari penyakit, sekaligus mengandung fosfor yang mendukung perkembangan akar agar tanaman bisa menyerap nutrisi tanah secara maksimal.
Selain kulit pisang, kulit jeruk dan buah sitrus lainnya juga menyumbang kalium dan fosfor dalam jumlah kecil, sekaligus punya manfaat tambahan sebagai penangkal hama seperti semut dan kutu daun. Dengan kandungan tersebut, sisa buah yang difermentasi atau direndam air bisa menjadi alternatif pupuk organik yang murah dan mudah didapat.
Tidak semua sisa buah punya manfaat yang sama untuk tanaman. Berikut beberapa bahan yang paling direkomendasikan:
Sebaiknya hindari sisa buah yang sudah berjamur, karena berpotensi menyebarkan spora jamur ke tanaman saat pupuk diaplikasikan.
Metode fermentasi cocok untuk yang menginginkan pupuk dengan kandungan nutrisi lebih pekat dan tahan lama. Berikut langkah-langkahnya:
Hasil fermentasi ini tidak hanya berfungsi sebagai pupuk, tapi juga dipercaya membantu mengusir hama secara alami karena aroma fermentasinya.
Bagi yang tidak ingin menunggu lama, ada metode rendaman sederhana yang hasilnya bisa dipakai dalam waktu singkat:
Metode ini lebih cocok untuk kebutuhan pupuk cair yang mendesak, meski kandungan nutrisinya tidak sepekat hasil fermentasi jangka panjang.
Pupuk cair dari sisa buah sebaiknya tidak langsung disiramkan dalam kondisi pekat karena berisiko membakar akar tanaman. Encerkan terlebih dahulu dengan perbandingan sekitar 1:5 hingga 1:10 dengan air bersih, tergantung sepekat apa hasil fermentasi atau rendaman yang dibuat.
Setelah diencerkan, pupuk bisa disiramkan langsung ke area sekitar akar tanaman, satu hingga dua kali dalam seminggu. Ampas sisa buah yang sudah disaring pun jangan langsung dibuang, karena masih bisa dimanfaatkan lagi sebagai bahan kompos atau dikubur di sekitar tanaman untuk menambah nutrisi tanah secara perlahan.
Agar proses pembuatan pupuk berjalan lancar tanpa menimbulkan bau menyengat di rumah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Kulit pisang, kulit apel, kulit jeruk, dan sisa semangka termasuk yang paling sering dipakai karena kaya kalium dan fosfor.
Metode fermentasi dengan gula membutuhkan waktu sekitar 30 hingga 60 hari, sedangkan rendaman sederhana hanya butuh 24 hingga 48 jam.
Ya, pupuk cair sisa buah sebaiknya diencerkan dengan perbandingan sekitar 1:5 hingga 1:10 dengan air bersih sebelum disiramkan ke tanaman.
Bau tidak sedap biasanya muncul karena wadah tertutup rapat tanpa sirkulasi udara atau air yang dipakai mengandung klorin dari keran.
Pupuk cair dari sisa buah umumnya bisa disiramkan satu hingga dua kali dalam seminggu, tergantung kebutuhan tanaman.
(kpl/rao)