Aurelie Moeremans Sempat Ragu Saat Rilis 'Broken Strings'
Kehadiran buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans di kancah literasi Indonesia memicu reaksi yang sangat beragam. Di balik dukungan yang mengalir deras, muncul pula berbagai polemik yang sempat membuat sang aktris merasa bimbang dengan keputusannya untuk buka suara.
Aurelie tidak menampik bahwa ia sempat merasa takut jika keputusannya menulis buku ini dianggap terlalu jauh mencampuri ranah privasi. Perasaan ragu itu muncul secara alami mengingat luka yang ia ceritakan melibatkan hubungan keluarga yang sangat sensitif.
Baca berita Aurelie Moeremans lainnya di Liputan6.com.
Namun, keraguan tersebut perlahan sirna seiring dengan banyaknya pesan positif yang masuk. Aurelie menyadari bahwa diam justru akan memperpanjang rasa sakit yang ia alami, dan bersuara adalah cara terbaik untuk membantu orang lain.
"Aku manusia, jadi jujur aja, sempat kepikiran. Ada momen aku bertanya ke diri sendiri, 'apakah aku terlalu jauh?', 'apakah aku membuka sesuatu yang seharusnya diam saja?'. Tapi perasaan itu tidak lama. Karena setiap kali keraguan datang, selalu ada pesan dari orang yang bilang, 'aku jadi berani ngomong', 'aku jadi ngerti anakku', atau 'aku akhirnya sadar ini bukan salahku'," kata Aurelie Moeremans saat dihubungi, Rabu (14/1/2026).
Ia menegaskan bahwa ia sudah siap dengan segala konsekuensi yang muncul, termasuk perdebatan di media sosial. Baginya, yang terpenting adalah dampak nyata yang dirasakan oleh para pembaca yang merasa terwakili oleh ceritanya.
"Jujur aku tidak menyangka. Awalnya aku pikir buku ini akan dibaca secara terbatas. Tapi ternyata responsnya besar sekali. Ada dukungan, ada juga polemik, dan itu aku terima sebagai bagian dari proses. Yang paling menyentuh buat aku adalah ketika perempuan muda dan orang tua bilang mereka merasa terbantu. Itu bikin semua ketakutan di awal terasa sepadan," paparnya.
Aurelie merasa bahwa melalui polemik ini, ia justru belajar untuk berdiri teguh pada prinsipnya. Ia tahu betul alasan mengapa ia harus membagikan cerita ini kepada publik, yakni demi memutus rantai trauma yang dialami banyak orang.
"Di titik itu aku tahu, diam justru akan lebih menyakitkan. Jadi bukan berarti aku kebal, tapi aku sudah berdiri di tempat yang jelas, dan aku tahu kenapa aku melakukan ini," tegasnya.
Kini, Aurelie merasa lebih lega karena bebannya terasa lebih ringan. Ia tidak lagi merasa sendirian dalam memikul memori masa lalunya karena kini banyak orang yang memberikan empati dan dukungan yang tulus.
"Saat ditulis, satu per satu memorinya muncul, dan di situ aku baru benar benar mengerti apa yang sebenarnya terjadi padaku. Menulis membuat aku berhenti menyalahkan diri sendiri. Jadi buku ini bukan bukti bahwa aku sudah sembuh, tapi bukti bahwa aku berani menghadapi lukanya," ujar Aurelie Moeremans.