9 Alasan Sulit Meninggalkan Pasangan yang Buruk Menurut Psikologi, Mengapa Sulit Pergi?
Ilustrasi Alasan Sulit Meninggalkan Pasangan yang Buruk Menurut Psikologi/Photo by Fotos on Unsplas/
Kapanlagi.com - Alasan sulit meninggalkan pasangan yang buruk menurut psikologi ini menjelaskan mengapa banyak orang tetap bertahan meski sudah tahu hubungannya tidak lagi sehat. Dari luar, memutuskan untuk pergi dari hubungan yang menyakitkan mungkin tampak seperti pilihan yang jelas dan mudah. Namun bagi orang yang benar-benar mengalaminya, keputusan tersebut sering kali jauh lebih rumit daripada sekadar mengucapkan kata "putus".
Ilmu psikologi menyebutkan bahwa ada banyak faktor emosional dan cara berpikir tertentu yang membuat seseorang terjebak dan sulit melepaskan diri dari hubungan yang buruk. Faktor-faktor ini biasanya bekerja secara diam-diam, tanpa disadari oleh orang yang mengalaminya sendiri. Merujuk pada laman Psychology Today dan beberapa sumber lainnya, berikut sembilan alasan sulit meninggalkan pasangan yang buruk menurut psikologi yang perlu dikenali.
Advertisement
1. Terus Menaruh Harapan Pasangan Bisa Berubah
Salah satu jebakan pikiran yang paling umum adalah keyakinan bahwa pasangan cepat atau lambat akan berubah menjadi sosok yang lebih baik. Keyakinan ini biasanya diperkuat oleh momen-momen manis yang sesekali muncul di sela-sela perilaku buruknya, sehingga terasa seolah perubahan yang diharapkan sudah di depan mata.
Sayangnya, tanpa niat dan usaha nyata dari pasangan itu sendiri, harapan tersebut hanya akan menjadi angan-angan yang terus berulang. Alih-alih membaik, pola hubungan yang sama justru terus terjadi dari waktu ke waktu, sementara orang yang bertahan terus meyakinkan diri bahwa "kali ini akan berbeda".
2. Trauma atas Rasa Sakit yang Pernah Dialami
Pengalaman menyakitkan, baik dari hubungan yang sedang dijalani maupun luka dari hubungan-hubungan sebelumnya, dapat membuat seseorang enggan menjalani proses perpisahan yang biasanya juga penuh gejolak emosi. Bayangan akan kesedihan, kekacauan, dan ketidakpastian yang menyertai proses berpisah sering kali terasa lebih menakutkan dibanding rasa sakit yang sudah dikenal selama ini.
Akibatnya, banyak orang memilih tetap berada dalam ketidaknyamanan yang sudah familiar, daripada mengambil risiko menghadapi bentuk rasa sakit baru yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
3. Ikatan Emosional dari Siklus Sakit Hati dan Berbaikan (Trauma Bonding)
Pada hubungan yang diwarnai konflik berulang dan proses rekonsiliasi yang intens, dapat muncul apa yang disebut trauma bonding, yakni ikatan emosional yang justru menguat akibat pola menyakiti dan berbaikan yang terus berputar. Semakin sering siklus ini terjadi, semakin kuat pula rasa keterikatan yang tercipta, meski secara objektif hubungan itu sendiri jelas merugikan.
4. Kehilangan Kendali atas Diri Sendiri untuk Melangkah Pergi
Terjebak dalam hubungan yang tidak sehat cenderung mengikis rasa kepemilikan seseorang atas dirinya sendiri, sekaligus menciptakan celah lebar antara jati diri yang sesungguhnya dengan sosok yang diharapkan oleh pasangan.
Bertahan dalam kondisi seperti ini menguras banyak energi. Tanpa disadari, seseorang bisa saja telah lama memendam kebutuhan dan keinginannya sendiri demi menjaga hubungan tetap berjalan, sampai akhirnya kehilangan arah tentang apa yang sebenarnya ia inginkan dari hidupnya.
Saat hubungan seperti ini berakhir, muncul perasaan seolah kehilangan sebagian dari diri sendiri. Rasa takut untuk menemukan kembali jati diri di luar bayang-bayang hubungan tersebutlah yang kerap membuat langkah untuk pergi terasa begitu berat dilakukan.
5. Harga Diri yang Perlahan Terkikis
Hubungan buruk yang berlangsung dalam waktu lama dapat pelan-pelan menggerus rasa percaya diri dan harga diri seseorang. Perlakuan atau ucapan merendahkan yang terus berulang dari pasangan, apabila dibiarkan, bisa membentuk keyakinan keliru bahwa dirinya memang tidak pantas mendapatkan perlakuan yang lebih baik.
Keyakinan semacam inilah yang pada akhirnya membuat seseorang bertahan, sebab secara tidak sadar ia merasa hubungan yang buruk itu sudah menjadi "yang terbaik" yang bisa ia dapatkan, atau bahkan meyakini tidak akan ada orang lain yang mau menerimanya apa adanya.
6. Sayang untuk Melepas Apa yang Sudah Dikorbankan
Semakin panjang usia sebuah hubungan, semakin besar pula waktu, tenaga, dan emosi yang telah dicurahkan di dalamnya. Kondisi ini memunculkan keengganan untuk melepaskan semua pengorbanan tersebut, meski hubungannya sendiri sudah jelas tidak lagi sehat.
Dalam psikologi, kecenderungan ini dikenal sebagai sunk cost fallacy, yaitu dorongan untuk terus mempertahankan sesuatu hanya karena sudah banyak yang dikorbankan untuknya, walau secara rasional melanjutkannya justru akan mendatangkan kerugian yang lebih besar ke depannya.
7. Khawatir Kehilangan Hubungan dengan Keluarga dan Lingkungan Sosial
Sebuah hubungan asmara jarang berdiri sendiri, karena biasanya juga melibatkan keluarga, sahabat, hingga lingkaran pertemanan yang lebih luas dari kedua belah pihak. Kekhawatiran akan reaksi orang-orang terdekat, perubahan dinamika sosial, atau bahkan putusnya kedekatan dengan keluarga pasangan bisa menjadi beban tersendiri saat mempertimbangkan untuk mengakhiri hubungan.
Bagi sebagian orang, kekhawatiran kehilangan keterikatan sosial semacam ini terasa hampir sama beratnya dengan kehilangan pasangan itu sendiri, sehingga keputusan untuk berpisah pun semakin sulit diambil.
8. Bayang-Bayang Penyesalan di Kemudian Hari
Pikiran seperti "bagaimana kalau ternyata dia benar-benar bisa berubah setelah aku pergi" atau "bagaimana kalau nanti aku menyesali keputusan ini" kerap menghantui seseorang yang sedang mempertimbangkan untuk mengakhiri hubungannya. Ketakutan akan penyesalan inilah yang kemudian membuat langkah untuk benar-benar mengambil keputusan terasa mengambang.
Padahal, rasa ragu semacam ini umumnya hanya bersifat sementara dan lebih banyak dipicu oleh ketidaknyamanan menghadapi perubahan besar dalam hidup, bukan pertanda bahwa keputusan untuk berpisah itu keliru.
9. Menganggap Masalahnya Belum Cukup Parah untuk Diakhiri
Tidak sedikit orang yang menahan diri untuk berpisah karena merasa persoalan yang mereka hadapi "belum seberapa" dibandingkan kisah hubungan buruk orang lain yang terdengar jauh lebih parah. Kebiasaan membanding-bandingkan penderitaan ini justru membuat seseorang meremehkan dampak emosional yang sebenarnya sedang ia rasakan sendiri.
Padahal, ukuran layak-tidaknya sebuah hubungan diakhiri seharusnya tidak dibandingkan dengan penderitaan orang lain, melainkan dilihat dari seberapa besar dampaknya terhadap rasa aman, kebahagiaan, dan kepercayaan diri sendiri. Ketika ketiga hal tersebut terus tergerus, itu sudah menjadi sinyal yang cukup kuat untuk mempertimbangkan langkah berikutnya.
10. Pertanyaan dan Jawaban seputar Alasan Sulit Meninggalkan Pasangan yang Buruk Menurut Psikologi
Mengapa seseorang sulit meninggalkan pasangan yang buruk?
Kesulitan ini disebabkan oleh berbagai faktor kompleks seperti ketakutan akan kesendirian atau ketidakpastian, harga diri rendah, keterikatan emosional, falasi biaya hangus, harapan pasangan akan berubah, serta tekanan sosial dari lingkungan dan keluarga.
Apa itu falasi biaya hangus (sunk-cost fallacy) dalam konteks hubungan?
Falasi biaya hangus adalah kecenderungan untuk tetap bertahan dalam suatu hubungan karena telah menginvestasikan banyak waktu, energi, atau sumber daya di dalamnya, meskipun hubungan tersebut sudah tidak lagi menguntungkan atau sehat. Orang merasa enggan untuk mengakhiri karena tidak ingin semua pengorbanan di masa lalu menjadi sia-sia.
Bagaimana harga diri rendah memengaruhi seseorang untuk tetap bertahan dalam hubungan toksik?
Harga diri yang rendah dapat membuat seseorang merasa tidak pantas mendapatkan hubungan yang sehat atau percaya bahwa mereka tidak akan menemukan orang lain yang menginginkan mereka. Hubungan yang tidak sehat justru dapat semakin mengikis harga diri, membuat individu lebih bergantung pada pasangan dan sulit untuk pergi.
(kpl/nti)
Advertisement
D Academy 8
-
Fashion Selebriti Jirayut Kenakan Jersey Setengah Merah Biru di Final FIFA ASEAN Cup
-
Event Dangdut Potret Tasya Allesia Hibur Para Penonton di Kediri
-
Dangdut Academy Harsiwi Achmad Tegaskan Couple Muncul Alami di Dangdut Academy 8
