INSIGHT-HOLLYWOOD

Ide Cerita Film

Rabu, 17 Agustus 2011 12:13  | 

Cameron Crowe


Ide Cerita Film
Ide Cerita Film





KapanLagi.com - Cinemags

CinemagsCinemags

Dear PlotPoint,
Selama ini saya sudah sering bikin film pendek bersama teman-teman kuliah saya. Tapi saya selalu kebingungan membuat dialog yang oke. Beberapa teman saya kasih kritik kalau dialog saya standar. Enggak bisa dikutip sama penonton. Ada tips? Nina - Malang

Dear Nina,
Walaupun banyak penonton awam yang bilang: "Filmnya bagus karena dialognya indah", tapi bukan berarti dialog yang baik itu adalah dialog yang ditulis untuk bisa dikutip penonton. Karena dialog bukan pepatah atau kata mutiara. Dialog yang baik itu adalah dialog yang pas dengan adegan dan karakter yang kamu tulis. Biar lebih jelas, saya akan menjabarkannya satu persatu:

Pertama, dialog itu muncul dari adegan. Bukan kita membuat dialog dulu baru kita membuat adegan. Kenapa? Karena kalau kita membuat dialog dulu, film yang kita bikin malah akan jadi cerewet tak karuan. Film yang talky memang karakter-karakternya banyak bicara, kadang pergerakan plotnya juga ada pada dialog, tapi dialognya penting dan punya makna.

Makanya penting bagi penulis untuk punya tahapan dalam menulis sebuah skenario. Biar plot film kamu kuat, saya sarankan kamu menulis treatment dulu sebelum masuk ke skenario. Treatment ini adalah susunan adegan dari awal sampai akhir cerita, namun tanpa dialog. Di treatment ini, kamu bisa mengolah plot dan adegan hingga jelas, efektif dan menarik.

Adegan yang baik itu adalah adegan yang jelas konteksnya. Di adegan itu, si karakter bergerak menuju tujuannya, ada konflik yang terjadi, ada karakterisasi yang terungkap.

Kontennya adalah peristiwa yang terjadi serta dialognya. Kalau adegannya sudah ditulis dengan baik, maka penulis akan lebih mudah menciptakan dialognya.

Bahkan, seringkali kita tak perlu menuliskan dialog sama sekali karena visualnya sudah sangat kuat untuk dimengerti penonton.

Konteks itu penting sekali. Kalimat yang sama, yang sudah banyak digunakan bahkan dikutip, pasti akan berbeda maknanya bila dia munculnya di konteks yang berbeda.

Contohnya, "You complete me."

Kutipan dialog ini adalah salah satu kutipan film yang paling romantis dari film JERRY MAGUIRE (Cameron Crowe, 1996). Dialog itu sangat mengena karena penonton sudah mengikuti perjalanan kisah turun naiknya cinta Jerry (Tom Cruise) dengan Dorothy (Renee Zellweger). Coba cek adegan ini di: http://tinyurl.com/youcompleteme1

Bandingkan dengan ini, kalimat yang sama diucapkan oleh Joker kepada Batman di film THE DARK KNIGHT (Christopher Nolan, 2008). Konteks di film ini adalah tentang bagaimana kejahatan dan kebaikan saling melengkapi. Coba bandingkan adegan ini dengan adegan di JERRY MAGUIRE: http://tinyurl.com/youcompleteme2

Soal nanti dialog kamu bisa dikutip atau enggak, itu tergantung seberapa mengena dialog itu ke penontonnya. Ada beberapa penulis seperti Woody Allen yang bisa menciptakan dialog yang lucu dan bisa dikutip tanpa kita mengerti konteksnya. Mengapa? Karena Woody Allen adalah seorang stand up comedian yang terbiasa menulis lelucon.

Kedua, biarkan dialog diucapkan oleh karakter. Dialog itu milik karakter, karena itu dialog yang kita tulis harus sesuai dengan karakter yang kita ciptakan. Jangan sampai dialog (dan karakter) cuma dipinjam oleh si penulis untuk memuaskan egonya untuk berceramah atau pamer skill menyusun kata-kata indah.

Selain itu, karakterisasi yang kuat di karakter akan menghindarkan kita menulis dialog yang standar atau tipikal. Saat kita menulis karakter seorang istri dari keluarga konservatif menawarkan makanan kepada suaminya, tentu akan berbeda dialognya (dan bahkan adegannya) bila kita tulis kalau si istri adalah orang Jawa atau orang Minang.

Memperkaya karakter kita dengan menulis latar belakang hidupnya tak hanya akan membuat dialog kita akan lebih menarik, tapi juga membuat film lebih menarik secara keseluruhan.

Ketiga, ucapkan dialog! Saat kita menulis dialog seringkali kita lupa kalau kita menuliskannya dalam bahasa tulis, bukan lisan. Itu sebabnya kita sering menemukan film yang dialognya kaku. Ada cara yang cukup mudah untuk menghindari hal ini: ucapkan dialog itu. Jangan baca dalam hati dan jangan asal baca. Bacalah dialog yang kamu bikin seakan-akan kamu adalah si karakter. Ya, penulis juga harus mengerti soal akting.

Sebelum locked script, ajak sutradara dan produser (atau orang lain yang disepakati bersama) untuk membaca skenario kamu. Mereka akan memberi masukan, bila dialog terlalu panjang, terlalu kaku, dirasa kurang pas, dan lainnya.(Cinemags/roc)

Source: Cinemags, Juli 2011, halaman 116