[KapanLagi Cerita Korea Ep 1] Culture Shock Terbesar Awal di Korea: Belajar Seperti di Drama 'SKY CASTLE'

Jum'at, 30 Oktober 2020 14:35
[KapanLagi Cerita Korea Ep 1] Culture Shock Terbesar Awal di Korea: Belajar Seperti di Drama 'SKY CASTLE' © KapanLagi Korea x Irfan Rulianto

Kapanlagi.com - Siapapun yang tinggal di negara asing pasti pernah merasakan culture shock. Aku juga sama. Di Indonesia aku terbiasa senyum saat pandanganku bertemu dengan orang lain, tapi waktu aku lakukan itu di subway Seoul, orang lihat aku aneh. Ini cuma satu dari banyak shock yang aku terima selama tinggal di Korea, terutama di awal hidupku di sana.

Tempat tinggal pertamaku di Korea adalah Korea Science Academy (KSA), akademi sains negeri setara SMA di kota Busan yang fokus ke sains dan penelitian. Selain beasiswa penuh, alasan terbesarku berani untuk masuk ke KSA itu kurikulumnya yang berbahasa Inggris. Aku yang baru sampai di Korea dan tahu sebatas 'annyeonghaseyo' (halo) dan 'bap juseyo' (saya pesan nasi) jadi nggak perlu bengong sambil pegang kamus di kelas. Bukan berarti nggak bengong sama sekali juga, karena pelajarannya memang sulit, terutama buatku yang waktu masuk belum selesai kelas 8 di Indonesia. Di KSA kurikulum normal 3 tahun SMA diselesaikan dalam 1 tahun pertama, dan 2 tahun sisanya untuk pelajaran level universitas, seperti kalkulus, general physics, dan earth science. Belum lagi ditambah kelas laboratorium dan proyek riset tahunan, kelabakan aku.

Main building KSA © dokumen pribadi Irfan RuliantoMain building KSA © dokumen pribadi Irfan Rulianto

Karena sekolah sadar beratnya kurikulum ini buat murid-murid KSA, fasilitas belajar disediakan dimana-mana. Tiap gedung punya study hall; meja panjang dengan kursi-kursi selalu ada tiap lantai. Dan karena kita punya sistem moving class, ruang kelas ada banyak dan siapapun boleh pakai asal nggak waktu kelas. Dari semua itu, yang paling berkesan buatku adalah Changpal. Ini julukan anak-anak KSA buat study hall yang ada di gedung creation (chang-jo) lantai 8 (pal-cheung). Changpal ini mencakup seluruh area lantai 8 gedung Chang-jo. Pintu masuk keluarnya cuma satu, besar dan berat, dari logam. Di dalamnya ada berbaris-baris meja belajar besar bersekat yang tingginya hampir 2 meter, masing-masing lengkap dengan kursi, lampu belajar, dan tempat menyimpan buku. Kapasitasnya lebih dari 100 orang, dipakai untuk sesi belajar harian yang wajib, terutama buat murid kelas 3. Tiap malam setelah dinner satu persatu murid masuk, membawa buku paket dan laptop, duduk di meja yang ditentukan dan belajar sampai jam 10. Di sebelah pintu masuk ada satu meja guru yang tiap malam dijaga guru yang berbeda, siapapun yang masuk keluar ruangan langsung kelihatan. Hening, agak mencekam, dan kadang masih muncul di mimpi.

Keseharian murid KSA juga menarik buatku. Kita tinggal di asrama, dua orang per kamar kecil yang isinya dua lemari, dua meja belajar, dan satu bunk bed. Di langit-langit tiap kamar ada speaker yang tiap pagi jam 6:15 memainkan lagu-lagu Big Bang dan IU sebagai alarm. Siswa kelas 1 harus langsung latihan taekwondo lengkap dengan seragam dan sabuk merahnya, sementara yang lain keliling lapangan sepak bola untuk absensi pagi. Biasanya setelah ini mereka makan pagi di kafetaria, terus mandi dan bersiap-siap di asrama, tapi aku langsung ke asrama untuk mandi. Ini karena shower room asrama dipakai bersama dan tanpa penyekat, dan aku yang di Indonesia nggak mungkin shower berjamaah harus mandi di waktu-waktu aneh untuk menghindari orang lain. Hari sekolah dimulai jam 8 pagi dan selesai jam 10 malam setelah sesi studi di Changpal, dan sebelum tidur siswa mengumpulkan laptop dan diabsen oleh pengurus asrama. Seperti ini rutinitas Senin sampai Jumat di KSA.

Ruang Changpal © dokumen pribadi Irfan RuliantoRuang Changpal © dokumen pribadi Irfan Rulianto

Di weekend kita lebih punya kebebasan, nggak ada sesi studi wajib atau kelas taekwondo, tapi untuk keluar sekolah kita butuh izin resmi dari guru wali kelas atau guru asrama. Aku sendiri yang hobi nomor satunya mager nggak masalah dengan aturan ini, karena di sekolah juga banyak fasilitas menghibur bosan. Ada lapangan sepak bola dan basket, ada gym dan aula yang bisa dipakai main badminton, ada ruang musik dengan piano, gitar, dan drum, ada perpustakaan juga yang koleksi bukunya besar. Favoritku ruang karaoke. Karena gratis dan kualitasnya oke, aku betah nyanyi dari pagi sampai sore, dari album pertama sampai terbarunya SNSD. KSA juga peduli lebih ke siswa internasional seperti aku. Karena jumlah kita jauh lebih sedikit dibandingkan siswa lokal, sekolah bisa membiayai beberapa 'special treatment' buat kita. Contohnya, kalau kafetaria menyediakan makanan yang nggak bisa kita makan seperti daging babi atau seafood, kita selalu dapat alternatif ayam goreng, tuna kaleng, atau telur mata sapi. Lalu tiap bulan, siswa Korea dapat satu weekend untuk pulang ke rumah, sementara itu sulit buat kita yang tinggal jauh. Untuk mencegah iri dan "kangen rumah", guru-guru biasanya ajak kita jalan-jalan, mulai dari hiking di gunung belakang sekolah sampai main ke Everland di Seoul.

Dari awal aku masuk KSA aku tahu nggak mungkin semua SMA di Korea punya fasilitas atau kurikulum seperti ini, bayangkan biaya yang harus dikeluarkan pemerintah Korea kalau memang begitu. Jadi bayanganku tentang SMA lain mirip dengan SMA di Indonesia, waktu sekolah ya belajar, pulang sekolah main atau pacaran, kadang antar sekolah tawuran. Aku disadarkan waktu ada beberapa siswa dari SMA lain yang datang ke KSA. Waktu itu aku dan teman-temanku buat join art project dengan mereka tentang pengolahan sampah dan penghematan air. Diselang menggunting botol air bekas, aku tanya-tanya seperti apa sih keseharian di sekolah mereka. Dan aku kaget, ternyata kebiasaan belajarnya mirip. Sekolah mulai jam 8 pagi, selesai sore, lalu malam ada sesi belajar lagi sampai larut. Belum lagi karena mereka nggak tinggal di asrama sekolah, mereka bisa ikut hagwon, atau akademi bimbel yang sering kali selesai tengah malam. Buat apa? Untuk nilai suneung yang bagus, katanya.

Suneung itu ujian standar untuk masuk universitas negeri di Korea. Model SNMPTN di Indonesia lah. KSA punya status spesial dari pemerintah, jadi siswanya nggak perlu ikut suneung, tapi buat yang nggak seberuntung saya suneung ini bagaikan pertaruhan hidup. Tiap November, siswa kelas 3 SMA ikut tes dari pagi sampai sore, yang mencakupi Bahasa Korea, matematika, Bahasa Inggris, sejarah, bahasa asing, ilmu sosial, sains, dan pendidikan kejuruan seperti pertanian, bisnis, atau urusan rumah tangga. Persiapan untuk suneung ini nggak hanya 'belajar dan berdoa', tapi juga tradisi-tradisi tambahan, misalnya larangan makan miyeok-guk (sup rumput laut yang licin) karena jawabannya bisa 'terpeleset' dari ingatan. Atau anjuran makan yeot, sejenis permen tradisional yang lengket, supaya jawabannya 'lengket' di kepala. Negara pun support pelaksanaan suneung secara habis-habisan. Selama waktu tes, bank, dan toko besar tutup, proyek konstruksi dihentikan, dan pesawat nggak boleh mengudara. Kalau ada siswa yang terlambat berangkat tes, akan diantar langsung oleh motor polisi. Semua ini dilakukan demi masuk ke universitas bagus, termasuk trio sekolah idaman semua siswa 'S-K-Y', yaitu Seoul National University, Korea University, dan Yonsei University. Teman-temanku dari KSA pun banyak yang berusaha masuk ke tiga universitas itu, karena lulusannya hampir pasti dapat pekerjaan yang bagus di perusahaan besar seperti Samsung atau Hyundai.

Wisuda KSA © dokumen pribadi Irfan RuliantoWisuda KSA © dokumen pribadi Irfan Rulianto

Aku ingat dengar cerita tentang adik kelas yang nangis di depan pintu kantor guru kimianya karena 'dapat nilai 95, maunya 98'. Over banget, pikirku, sambil cengengesan pamer nilai 70 ke orang tua. Memang mentalitas nyantai-ku ini dipengaruhi caraku dibesarkan di Indonesia, di mana kerja itu penting, tapi jangan lupa diri dan selalu bahagia. Sementara kata teman-temanku di sana, "orang Korea itu nggak setengah-setengah. Waktunya kerja fokus kerja, waktunya main fokus main." Dan selama 8 tahunku di sana aku lihat gaya hidup ini dipraktekkan nggak cuma oleh siswa yang mau ujian, tapi juga guru-guru yang menyiapkan materi kelas sampai malam, penjual fried chicken depan sekolah yang rela buka sampai dini hari, sampai penjaga sekolah yang masih penuh semangat meskipun usia sudah sangat tua. Dedikasi dan mentalitas ini yang jadi culture shock terbesar buatku di Korea, dan buat yang mau sekolah atau kerja disana, harus siap banting tulang.

Ditulis Oleh: Irfan Rulianto (Instagram: @irfan_ruli)

 

 

 

 

(kpl/jje)


REKOMENDASI
TRENDING