LIFESTYLE

Sigma SD1, DSLR kelas ekstrim dengan sensor 46 Megapixel

Selasa, 06 September 2011 10:13

Sigma SD1, DSLR kelas ekstrim dengan sensor 46 Megapixel
Sigma SD1





KapanLagi.com - Macworld Indonesia

Macworld IndonesiaMacworld Indonesia

Oleh Fadly Yanuar Iriansyah

Sigma sempat menggunakan sensor 4,7 X 3MP yang diproduksi oleh Foveon untuk jajaran kamera seri SD dan DP, sebelum memutuskan untuk membeli produsen sensor tersebut pada tahun 2008. Sigma kemudian mengarahkan Foveon agar lebih fokus mengembangkan teknologi fotografi berkualitas tinggi, yang pada akhirnya menghasilkan sensor 15 X 3MP yang bisa ditemukan pada kamera DSLR SD1.

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah harganya. Sigma tidak main-main ketika membanderol SD1 dengan harga gila: $9.700. Meski harga lensa-lensanya yang sudah bisa di-pre-order jauh di bawah harga body kamera, harga kit SD1 tergolong sangat-sangat mahal. Sigma sendiri memposisikan SD1 sebagai alternatif portable dari kamera format medium (yang tidak sepenuhnya adil, mengingat sensor SD1 punya potensi mereproduksi resolusi setara dengan sensor 30MP Bayer-type).

Biaya riset dan pengembangan sensor SD1 dibagi dengan jumlah kamera yang diharapkan dapat dijual oleh Sigma. Sedihnya, meski memiliki wujud tak ubahnya seperti kamera DSLR 35mm, Sigma berharap menjual SD1 dalam kuantitas kamera format medium yang tidak terlalu massal, sehingga berimbas pada harga jual ekstra mahal. SD1 bisa saja laku lebih banyak jika dijual setengah harga. Namun itu bukan strategi yang dipilih oleh Sigma. Mereka yakin akan punya kans yang lebih kuat dengan mematok harga di atas Nikon D3X - meski hanya menjual sedikit kamera, ketimbang menjualnya dengan harga D300 namun harus memproduksi SD1 dalam jumlah massal.

Jelas, keunggulan SD1 adalah sensor Foveon-nya yang memiliki resolusi 46MP. Seperti diketahui, sensor Foveon menggunakan metode deteksi warna yang sama sekali berbeda dengan sensor konvensional. Hampir semua kamera menyematkan sebuah pola filter warna di depan sensor, sehingga masing-masing photo site hanya menerima salah satu cahaya: Merah, hijau, atau biru. Demi menciptakan piksel berwarna di gambar akhir, dibutuhkan perhitungan matematis yang rumit untuk memperkirakan nilai dari dua cahaya yang tidak tertangkap oleh photo site, berdasarkan berapa nilai dari warna tersebut ketika ditangkap oleh photo site lain yang berdampingan.

Teknologi Foveon tidak menggunakan filter, melainkan prinsip bahwa warna yang berbeda punya energi yang berbeda pula. Hasilnya, setiap warna dari cahaya dapat menembus silikon pada kedalaman yang berbeda. Chip Foveon mengukur jumlah dari photon yang ditangkap pada setiap photo site dengan tiga kedalaman yang berbeda. Kedalaman ini diukur dari sedalam apa warna merah, hijau, dan biru menembus chip. Keunggulan dari teknologi ini, tidak seperti kamera digital lainnya, SD1 mengukur tiga warna sekaligus pada setiap photo site yang berjumlah 15 juta unit, sehingga mampu menangkap data warna tiga kali lebih banyak per pikselnya - kemampuan ini membuat Sigma mengklaim SD1 sebagai kamera 46MP.

Terlepas dari semua itu, SD1 adalah kamera dengan spesifikasi yang solid, walaupun tidak ada satu pun yang mampu menyaingi fitur milik kamera DSLR enthusiast-grade. Namun, ada satu kendala lagi yang mungkin akan membuat calon pengguna berpikir dua kali untuk memilikinya. SD1 menggunakan mount lensa SA milik Sigma. Memang, produsen kamera asal Jepang ini memiliki koleksi lensa yang cukup luas. Namun, apakah lensa tersebut dapat optimal jika disandingkan dengan kamera yang harganya nyaris menembus Rp 100 juta ini? Dan seberapa rela seorang fotografer berinvestasi dengan koleksi lensa yang tidak mainstream? Terlebih lagi, tidak semua lensa Sigma menawarkan fitur kedap cuaca. Namun, jika melihat SD1 sebagai kamera format medium yang portable, koleksi lensa yang sudah ada ini menjadi opsi menggiurkan, yang tidak bisa didapatkan oleh pengguna kamera format medium sungguhan.(Macworld/roc)

Spesifikasi:


  • Rating: 4

  • 15X3MP Foveon X3 CMOS sensor

  • ISO 100-6400

  • 11-point AF sensor (all cross-type)

  • 5 frames per second continuous shooting

  • 460,000 dot LCD screen

  • Shutter capable of 1/8000th second and rated for 100,000 cycles Per-lens AF fine tuning

Source: Macworld Indonesia, Agustus 2011, halaman 28