SELEBRITIA

Alberthiene Endah, Menulis Biografi Butuh Kesabaran

Jum'at, 27 Agustus 2010 13:38  | 

Alberthiene Endah


Alberthiene Endah, Menulis Biografi Butuh Kesabaran
Alberthiene Endah




KapanLagi.com -
Oleh: Puput Puji Lestari

Membuat janji dengan Alberthiene Endah, penulis biografi artis hingga pejabat, memang mudah. Sikap ramahnya terasa, saat menerima telepon juga pesan singkat untuk menyesuaikan jadwal. Tapi kemudahan itu tidak kemudian diikuti kemudahan mengatur pertemuan. Awalnya janji ke rumahnya pagi hari, namun tiba-tiba AE, sapaan akrabnya, harus menemui klien.

Sampai hampir beduk maghrib, saat buka puasa Senin, (23/8) AE baru bisa menerima telepon lagi. Sedang perjalanan ke Plasa Senayan dari tempat meeting, katanya. Sama-sama meluncur ke Plasa Senayan, kami bertemu di sebuah resto. Rupanya di sana AE sudah ditunggu sahabat-sahabatnya untuk merayakan ulang tahun seorang sahabat. Kami memutuskan memilih tempat duduk di pojok, aman karena setelah cipika-cipiki dengan teman-teman kami bisa pamit untuk wawancara.

AE, penulis yang gemar bercelana pendek itu, tak seserius tulisannya. Jangan bayangkan kerutan di dahinya. Kami tertawa-tawa sepanjang bercerita kejadian lucu. Santai dan lepas, mungkin itu yang membuat Krisdayanti, Titiek Puspa, sampai Any Yudhoyono terpikat olehnya. Mungkin Anda juga penggemar tulisannya? Simak perbincangan kami mengungkap kedekatannya dengan tokoh yang pernah dituliskan biografi olehnya.


Alberthiene Endah

PERSONAL

  • Mood saya saat ini?
    Saya selalu senang kalau keluar rumah. Rasanya ada roh remaja yang tidak pernah hilang dari diri saya. Jiwa kekanak-kanakan membuat saya senang tertawa. Tapi kalau sudah dapat mood nulis, di rumah saya bisa di dalam kamar saja seharian. Nggak keluar sama sekali. Karena sebagai penulis, kalau sudah datang mood nulis bisa lancar berlembar-lembar. Saya tidak mau menyia-nyiakan saat itu.
  • Suka di kamar saja, cari inspirasi atau hibernasi?
    Hehehehehe, itu tidak setiap hari saya lakukan. Kalau dapat inspirasi saja, saya bisa tahan berhari-hari di kamar. Karena menulis biografi atau novel nggak seperti menulis artikel, kita butuh emosi, data yang akurat.
  • Saat yang paling membahagiakan?
    Apa yang saya alami dalam hidup saya sekarang ini sudah jadi rasa syukur. Sejak saya menulis buku Krisdayanti, tawaran untuk menulis buku biografi tidak pernah berhenti. Dan itu saya nggak marketing-in diri. Tawaran itu yang datang pada saya. Ibaratnya tulisan sayalah yang menjual kemampuan menulis saya.
  • Saya menangis kalau?
    Kalau sedang menulis yang bikin saya terharu. Tapi itu bukan menangis sedih. Saya memposisikan diri sebagai tester pada tulisan saya sendiri kalau sedang menulis. Kalau ada bagian sedih sekali, yang seharusnya membuat orang terharu kemudian saya tidak menangis berarti ada yang salah dengan tulisan saya.
  • Saya terharu jika?
    Terakhir yang membuat saya terharu, saat saya diminta pidato di depan presiden, wakil presiden, dan para menteri. Itu pidato tanpa persiapan. Saat launching buku Bu Any, saya diminta bersiap di belakang panggung oleh petugas protokoler. Saya terharu begitu saya bicara, saya melihat semua hadirin yang datang itu pejabat penting di Indonesia. Bukan saya bangga atau sombong ya, saya teringat pada orangtua saya saat itu. Membayangkan kalau mereka masih hidup pasti akan tersenyum bangga melihat saya berpidato. Itulah yang membuat saya terharu.
    Ada lagi momen yang membuat saya terharu, saya biasa main ke kantor Xanana Gusmao di Dili saat masih menjabat presiden. Saya sudah sering datang ke sana dengan suami. Tapi suatu ketika kami datang ke kantornya, beliau pamit keluar sebentar. Kami tidak tahu mau kemana beliau. Waktu kembali, beliau membawa selendang khas Dili. Ternyata beliau membeli selendang itu ke pasar sendiri. Saya dan suami dikalungi selendang, sebagai bentuk penghormatan tamu. Wah, saya terharu sekali. Bayangkan presiden turun ke pasar sendiri untuk membeli selendangnya.

PROSES KREATIF

  • Awal mula memutuskan menjadi penulis?
    Saya sudah jadi wartawan selama 17 tahun. Pengalaman menulis itu yang akhirnya membuat saya yakin menjalani hidup saya sekarang. Saya ingin rekan-rekan wartawan ada yang mengikuti jejak saya. Pernah suatu ketika wartawan tanya, kenapa saya jadi komersil. Saya rasa ini bukan soal komersil. Saya ingin memperjuangkan bahwa jadi penulis itu nggak harus miskin. Menulis itu bekerja dan memeras otak, tidak selayaknya dibayar murah.
  • Menulis curhat artis butuh berapa lama?
    Tergantung ya, karena menulis biografi tidak sama dengan tulisan yang lain. Ada banyak unsur yang harus diselesaikan. Misalnya, saat mendengarkan cerita atau mengikuti orang yang sedang saya tulis, saya harus perhatikan mood-nya. Ngobrol dengan suasana enak, harus perhatikan emosinya juga. Kalau nulis buku KD itu saya selesaikan 14 hari. Chrisye bisa sebulanan, kan bicaranya juga sudah tidak lancar, jadi saya harus bisa menangkap maksud Mas Chrisye dengan hati-hati.
  • Proses paling membutuhkan waktu?
    Ya mendengarkan cerita dan mengikuti kegiatan yang mau ditulis biografinya. Harus sabar ya, orang mendengarkan cerita biasa juga mesti sabar kok. Tapi saya bersyukur karena pekerjaan saya sebagai wartawan selama 17 tahun sudah mengajarkan saya banyak hal tentang cara mendengarkan orang bercerita. Pekerjaan menulis biografi itu seperti menggabungkan psikiater dan writer jadi satu.
  • Buku curhat 100 persen naskah asli atau ada rekayasa untuk memaniskan bacaan?
    Banyak yang menanyakan hal tersebut, terutama pas ketemu sama aku langsung. Namun, sebagai penulis saya tentu tidak otomatis menulis apa adanya. Saya perlu menulis yang bisa dicerna pembaca. Tidak semuanya ditulis, karena menulis biografi sangat bergantung pada subjeknya.
    Pembaca ada yang ingin ceritanya sama dengan apa yang diharapkannya. Kalau yang ditulis nggak mau diceritakan kisahnya, kita nggak bisa maksa. Misalnya saat dengan Mas Chrisye, beliau sangat terbuka saat bicara karir. Tapi saat bicara keluarga, beliau menolak. Ada pembaca yang protes, tapi bagi saya, saya nggak bisa memaksa.
    Kalau saya menambahkan kata-kata, itu juga larinya ke kepentingan pembaca. Seperti Mas Chrisye, prosesnya berlangsung pada tahun akhir kehidupannya. Pada waktu sebulan sebelum ajal, beliau sudah sulit berkata-kata. Tapi saya bisa menterjemahkan maksudnya apa, karena itu saya tambahkan kata-kata saya sendiri dalam biografi. Agar penonton paham juga apa maksudnya.
  • Menjadi terkenal di tengah keterkenalan sahabat?
    Ah, saya tidak suka dengan keterkenalan. Saya takut jadi sombong. Tapi tidak bisa saya pungkiri banyak orang yang mengenal saya, saat jalan ke mal misalnya. Mereka ada yang suka nyeletuk, 'Kok AE nggak serius ya, nggak seperti tulisannya. Itu kadang membuat saya tidak nyaman. Saya memang suka mengenakan celana pendek kemana-mana. Penampilan kekanak-kanakan. Pembaca ada yang nggak terima dengan itu. Mungkin itu dampak jadi terkenal.
    Yang jelas saya suka ketika saya bisa jadi diri sendiri dan nyaman bekerja. Saya bersyukur sampai saat ini orang-orang yang bekerja dengan saya tidak keberatan dengan penampilan saya apa adanya.
  • Cita-cita menulis biografi siapa?
    Anggun, menurutku dia satu-satunya artis dari Indonesia yang mampu go internasional. Di Paris kalau ada fashion show dia dapat row paling depan. Kalau di Paris itu berarti sudah bukan orang main-main. Itu yang mebuat aku salut sama Anggun. Semoga suatu saat ketemu kesempatan untuk menulis biografinya.
  • Rencana membuat film berdasar buku yang sudah terbit?
    Rencananya sih, buku Mas Chrisye akan dibuat film. Tapi saya sebenarnya suka dengan menulis saja. Kalau film itu lebih kompleks. Banyak materi yang bersinggungan. Mesti diskusi sama sutradara, produser. (kpl/uji/nat)

Lihat Galeri Photo Alberthiene Endah:

Alberthiene EndahAlberthiene Endah
Alberthiene EndahAlberthiene Endah
Alberthiene EndahAlberthiene Endah