SELEBRITIA

Donny Alamsyah, Belajar Agama di 5 Menara

Jum'at, 17 Februari 2012 13:50  | 

Donny Alamsyah


Donny Alamsyah, Belajar Agama di 5 Menara
Donny Alamsyah Foto: Ruswanto




KapanLagi.com -
Oleh: Ruswanto

Nama Donny Alamsyah memang sudah tidak asing di dunia akting. Kiprahnya yang apik di film GIE (2005) makin terasah saat bermain di film yang telah melambungkan namanya di industri perfilman tanah air, 9 NAGA (2006). Berbagai karakter pun sukses dilakoninya seperti SANG DEWI (2007), FIKSI (2008), DRUPADI (2008), MERAH PUTIH (2009), THE RAID (2011), dan lainnya.

Dan di film terbaru, NEGERI 5 MENARA, pria kelahiran 7 Desember 1978 ini mengaku mendapatkan pencerahan tentang apa yang dilakoninya saat memerankan seorang tokoh ustad yang mengajar di pesantren. Efek positif dirasakannya dan penilaiannya terhadap imej pesantren pun berubah setelah bermain di film yang diangkat dari novel karya Ahmad Fuadi tersebut.

Berikut perbincangan KapanLagi.comŽ dengan Donny Alamsyah di acara nonton bareng film NEGERI 5 MENARA di Blitz Megaplex, Pacific Place, Jakarta Selatan (16/02/2012).

  • Filmnya tentang apa nih?
    NEGERI 5 MENARA, pencarian lelaki mencapai apa yang diimpikan dan dicita-citakan. Lebih ke apa yang dia butuhkan dan inginkan, belum tentu apa yang diinginkan itu dibutuhkan. Itulah kira-kira.
  • Jadi siapa perannya?
    Ustad Salman. Banyak pelajaran saat syuting di Gontor. Awalnya pikir Gontor fokus ke agama, yang saya lihat. Belajar tentang apa yang disebut sebagai sekolah, bukan tentang teori tapi praktek pertanian, teori fisika, kimia. Benar-benar mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

    Ngeliat pesantren ketat dengan disiplin, tidur dan bangun dengan jam yang sama, sekolah dengan jam yang sama. Orang di situ kebebasan diatur dari pada orang yang hidup di luar pesantren. Selama syuting lihat apa yang dijalani dan terapkan punya efek yang baik. Apa-apa yang terbatas, alam-alam ini yang buat lebih kuat dengan teori, pelajaran dan batasan.

  • Tantangan apa di film ini?
    Tantangan gak banyak tahu tentang kehidupan pesantren. Setelah dipelajari ternyata Gontor beda daripada umumnya, aplikasi hidup dengan agama, bukan tentang Alquran tapi bahasa. Kupas banyak belajar dalam waktu singkat, seminggu di sana. Melihat dan pelajari bagaimana cara ustad ngajar di Gontor, mereka kenal dengan teknologi dan pelajari di Gontor.
  • Belajar Bahasa Arab?
    Seminggu selalu ikut ustad, ada yang saya ikutin beberapa ustad gimana cara belajar, santri menggunakan Bahasa Arab dan Inggris. Ya sedikit-sedikit mulai dipelajari, benar-benar ngikutin gimana pendekatan ke santri. Sedikit-sedikit belajar Bahasa Arab, apa yang mereka omongin.
  • Berapa lama shooting?
    Sebulan full.
  • Apa yang didapat di pesantren diterapin ke lingkungan?
    Belom, lebih ke diri saya dulu, apa yang didapetin coba terapin, coba disiplin. Kalo ada kesempatan ya bisa diterapin di lingkungan. Ya diri saya aja dulu sih.
  • Jadi ustad gimana nih?
    Awalnya ngerasa beban berat, punya tanggung jawab agama, pendidikan, wadah ilmu yang besar. Saya sudah pelajari setidaknya sudah belajar sebaik-baiknya. Saya pikir sudah belajar dan niat baik untuk memerankan Ustad Salman, lillahi ta'ala aja. Biar gak ada beban. Saya memilih untuk jalan mana yang nyaman biar gak terlalu dibebani.
  • Terus klo denger adzan kayak ada reflek mau ke masjid?
    Saat ini sudah mulai sedikit, tapi gak kayak santri, paling gak udah niat untuk lebih baik.
  • Ada efek sebelum dan sesudah ke pesantren?
    Yang saya rasain sebelum ke Gontor dibanding pulang ada perubahan. Niat untuk lebih baik lagi.
  • Ada perasaan kaget pas ke pesantren?
    Ada, pesantren terbatas semua, saya orang yang gak segala macam dibatasi, aduh pesantren gitu kan. Ternyata di sana enggak. Sistem pendidikan yang diaplikasiin ke kehidupan sehari-hari. Sistem bagus, mudah-mudahan banyak yang menerapkan ke pendidikan. Di Gontor, benar-benar kehidupan sehari-hari mereka.
  • Jadi apa yang diberikan film ini?
    Keberanian, kesabaran, seluruh yang saya coba petik, Gontor santri berani hadapi tantangan. Semua bidang ilmu, pelajaran akan berhasil klo menjalani dengan berani.
  • Pesantren identik dengan teroris?
    Enggak lah, santri belajar tentang Islam. Seorang muslim harus manfaat, sementara teroris kerjain hanya merusak, jauh dari Islam, harusnya kan manfaat, beda jauh. Gak setuju banget dengan anggapan seperti itu. (kpl/ato/nat)