SELEBRITIA

Edwin Blak-Blakan Tentang 'Kebun Binatang'

Sabtu, 24 Maret 2012 11:10  | 

Ladya Cherryl


Edwin Blak-Blakan Tentang 'Kebun Binatang'
Edwin




KapanLagi.com -
Oleh: Puput Puji Lestari

Nama Edwin awal tahun ini menjadi buah bibir lewat prestasi film besutannya Kebun Binatang alias POSTCARDS FROM THE ZOO menembus Berlinale, Jerman pada Februari silam dan kembali terseleksi untuk berkompetisi di Hong Kong, Maret 2012, serta Tribeca Film Festival, New York, Amerika Serikat pada April mendatang.

Film ini diselesaikan atas dukungan sejumlah pendanaan internasional antara lain Torino Film Lab (Italia), Hubert Bals Fund (Belanda), Goteborg International Film Festival Fund (Swedia), dan Sundance Institute (AS). Hak peredaran internasional film yang dibintangi Ladya Cherryl dan Nicholas Saputra ini telah dibeli oleh distributor dari sejumlah negara melalui agen penjualan film (sales agent) The Match Factory. Beberapa distributor tersebut antara lain Sponge (Korea), Joint Entertainment (Taiwan), Neue Visionen (Jerman), dan Stadtkino (Austria).

Di Jakarta, pemutaran film ini dilangsungkan Kineforum dalam rangka Bulan Film Nasional 2012 dengan program utama Focus on Edwin hingga 31 Maret 2012. Selain 'Kebun Binatang', program ini juga memutar rangkaian karya Edwin yang terdiri atas film pertama Edwin - Babi Buta yang Ingin Terbang (2008), 6 film cerita pendek, dan 3 dokumenter pendek.

Saat pemutaran perdana Rabu (21/03/2012), Edwin menyempatkan diri menemani penonton berdiskusi. Kesempatan langka ini tidak disia-siakan oleh KapanLagi.comŽ untuk mengupas pembuatan film 'Kebun Binatang'. Karena esok paginya, Edwin harus terbang ke Hong Kong untuk diskusi dengan penonton filmnya di sana. Simak perbincangan dengan Edwin berikut ini:

TENTANG FILM

  • Kapan proses produksi?
    Produksi mulai 2009-2012. Syutingnya banyak di Kebun Binatang Ragunan. Total syutingnya 3 minggu. Proses untuk syutingnya yang lama. Untuk menulis ceritanya butuh waktu lama.
  • Ide cerita?
    Awalnya saya duduk-duduk saja di Ragunan. Saya dengerin cerita orang-orang yang bekerja di sana. Ngeliatin orang-orang yang datang ke sana dengan aktivitasnya masing-masing.
  • Ceritanya tentang apa?
    Tentang Kebun Binatang. Perasaan orang-orang yang datang, tinggal, dan bekerja di Kebun Binatang. Juga mencoba menangkap perasaan binatang yang ada di sana.
  • Kesulitan syuting?
    Pasti ada, karena syuting dengan binatang tidak bisa ditebak. Pas syuting bareng kuda nil, kita nungguin 3 jam untuk kuda nil melompat pagar. Tapi setelah lama menunggu ternyata dia nggak lompat. Ya sudah.
  • Kenapa arti judulnya cuma Kebun Binatang untuk versi Indonesia?
    Postcard itu seperti kepingan, fragmen yang nggak utuh. Ditulis kadang ada momen penting atau kadang-kadang cuma iseng aja. Tapi efek buat penerimanya selalu membuat senang. Itu saya nulis juga kadang serius,

    kadang enggak. Dari awalnya film itu dibuat dengan judul bahasa Inggris. Karena pembiayaannya dari luar negeri. Untuk Indonesia singkat saja lebih pas pakai 'Kebun Binatang'.

  • Riset?
    Riset cuma di Kebun Binatang aja datang. Ke tempat pijet juga. Ngobrol-ngobrol aja.
  • Buka buku?
    Buka buku enggak, wikipedia juga. Banyak fakta tentang binatang yang lucu-lucu. Berteman dengan pekerja di Ragunan, dan bertemu dengan anak-anak yang tinggal di situ. Tujuannya memang ngajak bermain-main binatang dan penonton bukan untuk mengusahakan kerinduan hadir. Kerinduan itu nggak perlu digambarkan lagi. Di bagian depan itu sudah ada kerinduan.
  • Alurnya lambat?
    Emang harus lama, kalau kecepetan nggak kelihatan.
  • Sepertinya filmnya tidak mengutamakan alur?
    Alur buat saya sekarang tidak penting. Nggak tahu kalau nanti.
  • Kode-kode dalam film diartikan macam-macam?
    Semua prosesnya munculnya pakai kode berurutannya begitu. Sah-sah saja orang mengartikan sendiri.
  • Penggunaan trik sulap?
    Trik sulapnya sangat klasik. Basic banget, emang latihan untuk membuatnya. Adegan dibakar pun dibuat langsung. Pakai trik sulap pastinya.
  • Menyampaikan kritik dalam film?
    Kalau Babi Buta yang Ingin Terbang emang minimal saya tahu ceritanya. Cerita dari orang yang deket dengan saya. Saya malah nggak tahu menceritakan yang ditindas atau enggak. Orang memposisikan begitu. Lana kehilangan Bapak dan koboy-nya biasa aja. Binatang mungkin kita pikir tersiksa di kandang, tapi menurut mereka bisa saja biasa aja karena dari kecil begitu.
  • Perempuan dan binatang, dibandingkan?
    Nggak tahu kenapa perempuan, tapi kalau Kebun Binatang memang idenya dari Kebun Binatang. Kebun Binatang dari awal saya memang suka dengan jerapah. Indah menurut saya. Mungkin bukan cuma binatang saja, semua film saya mewakili visi tentang diri saya di dunia.

LADYA CHERRYL DAN NICHOLAS SAPUTRA YANG TERBAIK

  • Kenapa pilih Ladya Cherryl dan Nicholas Saputra?
    Karena mereka paling cocok. Mereka yang terbaik sampai sekarang. Mau apa lagi. Ngapain pusing-pusing cari yang lain. Bikin film butuh modal banyak. Kalau bisa punya alokasi yang banyak, itu masih kalah dengan kepercayaan yang saya pupuk lebih dari 10 tahun dengan dia. Nggak perlu ngomongin hal-hal yang lain. Sesuatu yang tidak biasa pasti lebih menarik buat mereka.
  • Apa supaya populer?
    Dilihat secara populer nggak ada perhitungan begitu. Saya tertarik aja ngajak Nicholas untuk menabrakkan kehidupan di Kebun Binatang. Agar bisa memberikan pesan yang diharapkan. Orang-orang menggabungkan orang populer untuk membuat film populer.
  • Sengaja menggabungkan gadis-gadis pemijat juga?
    Nggak sengaja sebenarnya, waktu itu fokus di Kebun Binatang. Dan itu terlalu lama, akhirnya saya gabungkan dengan yang lain ceritanya.
  • Kenapa Nicholas hilang di film itu? Nggak balik?
    Enggak, dia hilang. Nggak bakal kembali.
  • Kenapa begitu?
    Saya lebih menganggap film ini mimpi. Nggak pernah mimpi itu selesai dan lengkap. Saya kira begitu saya buat film. Perasaan bermimpi itu enak untuk melengkapi Kebun Binatang. Ada ketidaktahuan, senang, magis.
  • Beda kenangan dan mimpi?
    Memory dan mimpi dua-duanya di luar kontrol kita. Seenak-enaknya aja keluar, nggak bisa dikontrol.
  • Nicholas belajar trik sulap?
    Bukan masalah saya harus ngasih trik. Mereka yang buat sendiri sesuai yang kita butuhkan.
  • Apakah adegan Lana memandikan pelanggan pijat itu kiasan seperti

    memandikan binatang?
    Ya bisa disamakan begitu, tapi nggak bisa menyamakan manusia dengan binatang. Dari gambar itu saya harap penonton mendapat kerinduan mendapatkan sentuhan.


APRESIASI PENONTON

  • Mendapat penghargaan?
    Menyenangkan pasti, apa yang kita kerjakan dihargai oleh orang lain. Ada yang menonton kemudian menulis, ada yang suka, ada yang nggak suka pun saya menerima sebagai bentuk penghargaan. Karena respon itu kan terjadi setelah nonton. Jadi saya menghargainya.
  • Respon penonton luar negeri?
    Ya tunggu aja responnya. Nanti kan bakal ada tulisan-tulisan yang muncul. Saya nggak punya hal untuk merespon diri sendiri.
  • Diputar di Hong Kong?
    4 kali putar di Hong Kong. Pemutaran pertama saya ikut diskusi setelahnya.
  • Tayang di bioskop nggak nih?
    Belum aja, saya yakin suatu saat pasti bisa. Masih terlalu dini untuk mengatakan tidak.
  • Kapan?
    Kalau kapan itu bukan urusan saya. Yang ngurus kan produser. Tunggu saja.
  • Nggak takut disensor?
    Nggak, saya harap LSF cukup pintar untuk menyensor film saya. Kalau memang nggak bisa ya saya rasa mereka cukup pintar untuk membubarkan diri.
  • Film Indonesia banyak berkembang?
    Baguslah, saya termasuk orang yang optimis dengan perfilman Indonesia. Banyak film-film pendek yang bagus. Dan itu bukan cuma di Jakarta. Di daerah juga banyak. Mereka punya gaya masing-masing, yang pada saat mendapat kesempatan akan tumbuh menjadi filmaker handal.
  • Dukungannya?
    Saya bantu semampu saya. Apa yang bisa dibantu, dibantu. Beri ruang apresiasi untuk karya mereka. Misalnya dengan mengirimkan film-film mereka ke perpus sekolah, kampus. Kalau perlu tambahkan film luar yang bagus. Biar bisa menjadi referensi. Hampir seperti acara ini nonton bareng, itu adalah bentuk apresiasi.
  • Impian membuat film?
    Saya pingin bikin film kayak Batman, tapi lulus aja nggak kuliahnya. Kalau emang pingin bikin film ya bikin.
  • Kenapa putar di Jerman dulu?
    Kenapa ke Berlin dulu, karena pasarnya ada. Saya masih positif dengan orang-orang yang mau menggantikan sensor dengan asimilasi. Saya tungguin aja, pasti ada masanya.
  • Emang publik siap?
    Publik siap atau enggak bukan urusan saya. Itu kan soal respon aja. (kpl/uji/nat)