SELEBRITIA

Gracia Indri Belajar Mandiri Jadi Tulang Punggung Keluarga

Sabtu, 12 Juni 2010 11:20  | 

Gracia Indri







KapanLagi.com -

Oleh: Budy Juwono

Umurnya memang baru 20 tahun, tapi Gracia Indri telihat matang. Menata mimpi secara pasti dan menggapainya dengan perlahan. Saat kesempatan menyanyi yang sangat diharapkannya hadir, Gracia dicoba dengan meninggalnya sang papa, Edo Sulistiarto (alm). Sebagai anak pertama otomatis gadis kelahiran Jakarta, 14 Januari 1990 itu menjadi tulang punggung keluarga. Keputusan menjadi penyanyi ditunda dengan mengambil stripping sinetron.

Putus dari kekasihya Samuel Zylgwyn, tak mengurangi ketegarannya. Gracia bermetamorfosis dari gadis yang selalu mengandalkan papanya, menjadi pengayom keluarga yang mandiri. Prosesnya tak mudah ternyata, dengan gejolak remajanya, diapun kadang merasakan kesedihan. Dengan KapanLagi.com Gracia bertutur tentang kisahnya akhir Mei lalu.

Jadi tulang punggung keluarga merasa beban nggak?
Beban pada awalnya iya, pikiran aku waktu itu, aduh gue harus nyari duit nih buat biaya kuliah dan semuanya. Tapi sekarang lebih santai setelah dijalani. Pikirannya nggak terlalu dibebani banget.


Gracia Indri

Masih muda jadi penanggungjawab keluarga, capek nggak?
Kalau ditanya berat atau enggak, ya berat, tapi tetep harus dijalani. Bapakku pergi juga aku nggak ingin. Sekarang aku kuliah semester 4 di Moestopo. Sebenarnya dari dulu aku nggak pernah beranggapan bahwa bermain sinetron itu pekerjaan. Itu aku lakukan karena aku senang. Cuma setelah papa aku meninggal rasanya beda dulu aku menganggapnya main-main karena aku main sinetron atau enggak, papa tetap yang tanggujawab sama keluarga, kami bisa hidup bahagia dan papa bisa cukupin keluarga kami. Tapi setelah papa meninggal, dan karena aku anak pertama maka tanggungjawabku langsung gede.

Capek dong sekarang kerja terus?
Kalau misalnya ngeliat ibu dan adikku senang aja aku dah senang, capeknya hilang. Misalnya kemarin aku ajak ibu dan adik ke Bangkok secara spontan itu seneng banget. Saat itu ada rejeki lebih, nah pas aku libur tanpa rencana kita pergi ke Bangkok bareng adik dan ibu.

Ada momen special?
Kan di foto papa selalu ada lilinnya. Sampai rumah setelah libur aku langsung nyalain lilin. Saat pulang aku bilang, "Papa aku bisa buat ibu dan adik seneng," seolah papa tuh tersenyum melihatku.

Ada bedanya nggak?
Sekarang mesti lebih hati-hati setiap melangkah. Tidak bisa sembarangan.

Termasuk soal pilih jodoh?
Soal jodoh, aku hanya mencari orang yang bisa mensupport aku dan mengerti keadaan aku itu sudah cukup dan memenuhi kriteria aku.

Membimbing dan memberi contoh adik gimana caranya?
Adikku itu tipikal orang yang nggak suka mengungkapkan keinginan atau minta sesuatu. Jadi mesti kita yang aktif ngedeketin. Nanya "Adik pinginnya apa?" Tapi dia juga nggak mau ngomong biasanya. "Nggak ah entar ngrepotin." Padahal ya pingin buat dia bahagia.

Kok bisa tegar sekali?
Aku cuma melihat papa, sebelum papa meninggal aku itu seperti diberi pelajaran supaya mandiri. Dulu ke mana-mana aku selalu sama papa, kita udah kayak orang pacaran. Kalau sehari itu 48 jam, 40 jam itu aku habiskan sama papa.
Tapi beberapa bulan sebelum papa sakit aku dikasih sopir tapi aku nggak mau. Akhirnya sopir buat adikku. Sampai papa sakit, dia bilang "Nggak papa kan capek sedikit, nyopir sendiri," kubilang nggak papa. Sampai sekarang aku ke mana-mana nyopir sendiri.

Keuangan kamu diatur mama?
Dari dulu ibu yang ngatur, bukan aku nggak bisa sih tapi nggak tahu kenapa aku selalu percaya sama ibu. Aku yang penting setiap kali mau jajan aku ada duit.

Waktu buat pacaran dikit?
Asal bisa cari waktu kenapa enggak. Sekarang aku syuting, kalau memang niat mau ketemu ya kenapa enggak. Sejak papa meninggalkan aku sendiri. Aku pisah sama yang kemarin (Samuel, red) juga bukan karena papa meninggal. Sekarang lebih fokus ke keluarga.
(kpl/buj/uji/nat)

Lihat Galeri Photo Gracia Indri:

Gracia IndriGracia Indri
Gracia IndriGracia Indri
Gracia IndriGracia Indri