SELEBRITIA

Hanung Bramantyo Berdamai dengan Masa Lalu

Sabtu, 17 Juli 2010 11:51  | 

Hanung Bramantyo






KapanLagi.com -
Oleh: Puput Puji Lestari

Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada hidup kita di masa yang akan datang. Keyakinan bahwa Tuhan selalu melihat dan mengawasi setiap yang terjadi pada diri manusia membuat Hanung Bramantyo berpikir ulang tentang hidupnya.

Kebahagiaannya menikah dengan Zaskia Adya Mecca dan menunggu buah hati keduanya lahir, tidak begitu saja diraih dengan mudah. Dari luar orang melihat Hanung bahagia, mencapai kesuksesan AYAT-AYAT CINTA kemudian melamar salah satu pemain dalam film tersebut.

Tapi bagi Hanung, proses tersebut tidak mudah dilakoninya. Sempat berpikir untuk menduda selamanya, Hanung diuji bertahun-tahun oleh Tuhan. Jalan kebenaran yang telah lama ditinggalkannya selama membuat filmAYAT-AYAT CINTA berbalik menyapanya. Pengalaman spiritual dan menuai karma, itulah yang dirasakannya sebelum menikah. Simak perbincangan kami dengan sutradara muda berbakat di ruang workshopnya daerah Cipete, Jumat (8/7) lalu:


Zaskia Adya Mecca dan Hanung Bramantyo

AKHIRNYA MENIKAH LAGI

  • Hal yang paling membahagiakan?
    Akhirnya saya menikah lagi. Kenapa? Karena tahun itu saya mengalami perceraian dan menjadi trauma untuk menikah. Dan sempat berpikir nggak akan menikah. Apa sih yang mengharuskan saya menikah? Mau apa coba? Komitmen bagi saya dulu penjara. Menikah untuk seks? Saya bisa melakukan di manapun, kapanpun. Anak? Saya sudah punya, kejantanan saya sudah terbukti.
  • Titik balik dalam kehidupan?
    Gara-gara AYAT-AYAT CINTA saya berpikir ulang. Saat itu hidup saya sangat kacau, nggak pernah sholat dan ngaji. Tapi justru saat itu saya dibukakan. Saat perjalanan untuk syuting dengan bis melewati Gurun Gujarat, kita nggak tahu apakah kita bisa selamat. Kalau pun kita mati orang-orang nggak akan bisa tahu kita di mana, karena seluruh bis bisa terkubur pasir. Jadi kita udah hidup mati di situ. Tanya Rinatio dan Carissa Putri deh. Di situ saya dibukakan hati. Saya membayangkan di Padang Mahsyar (padang peradilan di akhirat menunggu keputusan masuk surga atau neraka, red) saat itu. Saya hidup di ujung tanduk waktu itu. Yang saya bawa film, kalau saya nggak selamat ya eksistensi saya selesai di situ, karena film saya nggak selamat. Dan film buat saya adalah eksistensi saya. Otomatis juga itu nasi saya, priuk saya. Kalau ini gagal tamat riwayat saya. Di titik rendah, di situlah saya terbuka.
    Saat itu saya mendapati titik balik saya mundur. Dalam berbagai waktu saya seperti mendapat balasan dari apa yang saya lakukan dulu. Misalnya hari ini saya disakiti orang lain, saya merasa saya pernah menyakiti dengan cara yang sama pada orang lain. Jadi, saya mendapatkan penderitaan yang sama dengan orang lain yang dulu saya buat menderita. Dan di situ saya berulang-ulang terjadi. Meyakiti ibu saya, mantan istri saya, anak saya, dan itu seperti saya dapat kilas balik. Bangun tidur tuh rasanya sakit banget. Sampai aku nggak mau bangun, karena masalah itu ada aja. Hampir selama dua tahun saya merasa begitu.
    Itu bukaan hati saya pada awalnya.
  • Setelah itu?
    Bukaan kedua saya, AYAT-AYAT CINTA sukses. Saya justru merasa kehilangan semuanya. Wah, ternyata kesuksesan itu tidak menjawab semua kebutuhan hidup saya. Saat saya berpikir film adalah eksistensi saya, saya mendapat pengakuan penonton, pujian, tapi justru saya merasa kosong. Bayangkan 4 juta penonton, dari hari ke hari jumlah penonton 100 ribu. Naiknya cepat. Padahal GET MARRIED dan JOMBLO itu sehari hanya dapat 10 ribu. Semuanya begitu cepat. Tapi saat-saat itu, setiap hari saya mengalami sakit hati. Ada saja, tiba-tiba ada yang maki-maki saya. Ada yang menyakiti saya. Akhirnya saya menyadari kesalahan dan minta maaf sama orang yang pernah saya sakiti dulu. Terhadap semua yang pernah saya lukai saya minta maaf. Ibu, mantan istri, anak, dan mantan pacar saya.
    Dan itu saya nggak paham, ada yang mendorong saya untuk mencari nomor mantan-mantan saya untuk minta maaf. Sepanjang dua tahun itu saya buat film berat sekali.
  • Keputusan menikah lagi?
    Orang selalu salah menilai ketika saya mendapat karir bagus, menikah lagi dengan Zaskia dengan mulus. Meninggalkan istri. Padahal untuk menikah itu saya merasa lebih dahsyat.

HANUNG, FILM, DAN DIRI SENDIRI

  • Sempat ada larangan ke bioskop?
    Saya hidup makan di gedung bioskop, kalau ada yang melarang ya saya pelajari itu. Karena film itu nasi saya. Kita bisa kok pengajian di bioskop. Dulu sempat ada perbedaan pandangan dengan adik saya yang salafi. Tapi itu tidak terus berlanjut lama karena mereka berasumsi bioskop sebagai ruang hura-hura. Padahal mereka tetap nonton film dengan DVD. Kan sama saja. Kebutuhan entertaining itu mutlak perlu.
  • Sutradara favorit?
    Sutradara favorit di Indonesia itu Teguh Karya. Dia guru saya juga. Perhatikan bloking-bloking saya itu sama dengan Teguh Karya. Zhang Yimou itu kalau dari Asia.
    Film sepanjang masa yang tidak akan saya lupakan adalah TO LIVE Karya Zhang Yimou. Ada juga film AKIRA dari Jepang.
    Kalau Hollywood Steven Spielberg. Karena Hollywood adalah produksi film yang sudah mapan buat saya ya harus selalu entertain. Jadi, film yang nggak entertain ya bukan wilayah Hollywood. Kayak Woody Allen dan segala macam saya nggak pernah liat.
  • Suka film kolosal?
    Karena saya suka kolosal. Film SANG PENCERAH itu bisa dibilang kolosal karena saya melibatkan 2000 orang untuk penggarapannya. Saya pingin suatu saat bikin film TRILOGI MAHABARATA. Tapi masih lama, kalau penonton kita sudah mapan. Cuma kalau bikin sekarang, siapa yang mau membiayai, sponsornya siapa, kan penontonnya juga belum bisa diajak ke arah sana.
  • Kenapa bukan Gajahmada?
    Sebenarnya kalau Mahabarata itu lebih universal karena berbicara diri sendiri. Kurawa dan Pandawa itu kan Yin Yang, penyeimbang. Bahwa dalam setiap diri manusia itu ada sifat baik dan buruk manusia itu seimbang. Settingnya nanti pakai imajinatif seperti LORD OF THE RINGS. Pakai carangan kalau di wayang.
  • Nonton film orang lain?
    Nonton film baru itu sering, apapun filmnya. Kebetulan dulu nggak suka komedi romantik. Tapi karena sekarang sama Zaskia dan Zaskia itu suka buanget sama komedi romantik, ya menemani Zaskia nonton. Dulu saya nggak pernah menyentuh komedi romantik, paling enggak ya kolosal, drama. Film-film kayak 17 AGAIN. Itu akhirnya nonton bareng Zaskia. Dulu komunitas saya teater. Jadi kebentuk untuk tidak nonton film chick lit. Kalau menurut mereka PRETTY WOMAN itu bukan chick lit ya aku nonton.
    Jadi seperti saat dulu ada film CATATAN SI BOY, saya harus tega sama diri sendiri untuk tidak menontonnya. Karena saya orang yang menentang, termasuk sekarang masih. Tapi lain ceritanya kalau nemenin Saskia jadi beda. Tapi gara-gara saya ikut nonton sama Zaskia jadi terbuka pikiran saya. Indonesia saja sekarang masih belum bisa membuat film chick lit. Bandingkan dengan Korea yang notabene-nya memiliki kesamaan kultur dan sumber daya. Di Korea produksi film begitu banyak. Tapi di sini nggak ada. Film drama kita itu kalah sama Korea. MY SASSY GIRL itu populer seluruh dunia.
  • Twitter?
    Tempat sampah. Ketika saya lagi kesal saya buang di Twitter. Jadi kalau yang baca Twitterku, ya baca sampahku. Kalau saya mempercayai Twitter berarti saya bodoh.
  • Lingkungan?
    Saya sangat marah sekali sama orang yang merobohkan pohon. Kalau mau bangun rumah kenapa harus menebang pohon? Kalau mau bangun rumah, biarkan saja pohon, dan bangun rumah di sela-selanya. (kpl/uji/nat)

Lihat Galeri Photo Hanung Bramantyo:

Hanung BramantyoHanung Bramantyo
Hanung BramantyoHanung Bramantyo
Hanung BramantyoHanung Bramantyo