SELEBRITIA

Hanung Bramantyo: Saya Tak Butuh Eksistensi Lagi

Rabu, 14 Juli 2010 14:52  | 

Hanung Bramantyo






KapanLagi.com -
Oleh: Puput Puji Lestari

Di dunia perfilman, nama Hanung tidak serta merta menjadi terkenal. Lewat karyanya AYAT-AYAT CINTA Hanung menembus rekor hingga 3,8 juta pada tahun 2008. Rekor itu baru dipatahkan SANG PEMIMPI pada akhir tahun 2009.

Berproses lewat film yang dihasilkannya, Hanung mengaku mengalami perjalanan batin yang selama ini belum pernah dipikirkannya. Energi muda yang dulu membuatnya agresif memproduksi film mulai berkurang. Bukan karena usia yang bertambah, tapi karena rasa tanggung jawab pada masyarakat semakin besar. Di rumah workshop-nya di daerah Cipete, KapanLagi.com berbincang dengan Hanung yang baru saja pulang meeting menjelang Maghrib.

Jumat (9/7), saat rintik hujan tak juga berhenti, Hanung memaparkan ketakutannya di dunia perfilman menjadi sepi apalagi kehilangan penonton. Karena itu suami Zaskia Adya Mecca ini membuat sekolah sutradara untuk sutradara muda berbakat. Saat proses menyepi untuk berkarya, Hanung percaya sutradara-sutradara muda tersebut akan melanjutkan semangat menciptakan film segar. Berikut obrolan kami sambil menikmati secangkir teh manis panas.


Hanung Bramantyo

  • Film buat Hanung?
    Sejalan dengan umur saya berkarya, film mengalami perubahan makna. Dulu, film itu eksistensi saya. Kalau nggak buat film, saya nggak ada. Tapi setelah AYAT-AYAT CINTA, saya berpikir ulang tentang film. Bukan karena filmnya meledak, tapi karena banyaknya masalah dalam pembuatan film itu. Saya harus lebih membuka sensitifitas saya, terutama apa yang terjadi di kalangan anak-anak dan remaja. Kalau orangtua itu sudah punya qitoh (pegangan prinsip, red) masing-masing. Tapi remaja anak muda itu berada dalam situasi yang ambigu sekali.
    Tanggung jawab saya tidak hanya sekedar membuat kemudian selesai. Tapi saya membuat film untuk berbicara pada masyarakat, negara dan diri saya sendiri. Terhadap situasi yang ada di sekeliling saya. Dan awalnya adalah SANG PENCERAH ini. Film ini sebagai pencerah buat saya sendiri. Bagaimana saya menyikapi diri saya dan film. Mungkin karena itu saya tidak akan sesering kemarin dalam membuat film.
  • Berarti selesai narsisnya? (Di setiap film-nya dulu, Hanung selalu ikut menjadi cameo, red)
    Nggak narsis lagi, jadi cameo sudah selesai. Dulu memang saya menyikapi film sebagai bentuk eksistensi saya. Pokoknya ada buat film mau jadi apa saja saya mau.
  • Lantas kesibukannya?
    Saya alihkan tenaga saya untuk bikin sekolah sutradara dan mengajar ke lembaga-lembaga yang membutuhkan keahlian saya. Bikin workshop buat anak muda. Itu buat saya jadi tanggung jawab saya. Film sebagai bentuk eksistensi, saya tularkan kepada generasi di bawah saya agar produksi film di Indonesia tidak lantas berkurang drastis. Itu bisa bahaya, penonton film bisa hilang jika produksi film sedikit.
  • Idealnya seorang sutradara produksi berapa film setahun?
    Sebanyak-banyaknya film kalau mau hidup di Indonesia. Karena film masih disikapi sebagai personal. Memang beberapa sutradara membatasi produksi per tahun untuk menjaga kualitas. Saya pada akhirnya juga akan begitu, menyikapi film sebagai personal matter. Tapi itu tidak baik juga. Karena kebutuhan entertain masyarakat tiap hari. Tapi produksinya tidak bisa mengimbangi. Makanya akan diisi oleh orang lain yang muda. Membuat film yang memang dunia kita. Tinggal bagaimana sharingnya.
  • Workshop untuk sutradara muda?
    Kalau kita tidak menolong orang lain, diri kita tidak tertolong. Saya membuat sekolah sutradara, orang berpikir murid-murid saya akan menggeser saya nanti. Buat saya nggak seperti itu. Orang bertanya kenapa saya buat sekolah, malah menciptakan musuh-musuh kamu sendiri. Buat saya pikiran saya balik. Ketika saya tidak menolong orang lain seperti saya dulu butuh pertolongan, maka saya sendiri tidak akan tertolong.
    Siapa yang akan merawat penonton saya kalau tidak ada mereka? Jadi saat saya memikirkan diri saya sendiri, tenaga dan pikiran saya untuk memproduksi pilihan film saya sendiri, semakin lama semakin sedikit produksi, penonton akan pergi. Karena mereka berpikir Hanung sudah jelek. Tapi ketika saya meminjam, melimpahkan sebuah tanggung jawab pada sutradara muda, penonton akan terpelihara oleh mereka. Jadi saat saya bikin film, penonton saya masih ada.
  • Seberapa besar pendampingan Hanung?
    Tergantung kebutuhan. Kalau saya rasa sudah cukup bisa sendiri, ya saya lepas.
  • Hal dasar yang harus dimiliki sutradara?
    Segala sesuatu di Indonesia itu harus dicapai dengan cara kerja keras, untuk jadi sutradara harus tega pada diri sendiri.
    Pertama adalah kita harus menjadi manusia yang sangat terasing. Dibilang nggak gaul. Pada usia 21-25 tahun orientasinya adalah mall, kafe, dan nongkrong waktu mereka bahkan sampai 80 persen untuk kegiatan bersenang-senang. Sedangkan saya pada usia itu hanya sekitar 10 persen waktu untuk mall, kafe, dan nongkrong. Itu yang saya maksud tega dengan diri sendiri. Artinya tega dengan pacar. Saat diajak jalan, nonton, kita harus say no. Kita harus bekerja dan berkarya.
  • Film dan realitas sosial?
    Gini, ini harus dijelaskan pada masyarakat semua. Film itu bukan sekedar dokumentasi yang sifatnya untuk privasi. Film dibuat untuk kepentingan penonton. Kalau saya memotret anda telanjang atau tidak telanjang sebagai sebuah seni, saya gelontorkan pada orang lain lantas mereka suka, dan mengalami emosi yang sama.
    Film adalah sebuah pernyataan, sebuah medium untuk berbicara pada msyarakat yang lebih besar. Karena itu, film berhubungan dengan alam bawah sadar masyarakat. Kenapa mereka menyukai film horor. Karena di masyarakat sudah ada sugesti cerita horor yang terjadi. Kedua, cinta. Setiap orang mengalami jatuh cinta mau disadari atau tidak. Jadi film tentang cinta selalu disukai masyarakat.
    Yang ketiga, film adalah sebuah reproduksi. Jadi bukan produksi realitas. Tapi reproduksi masyarakat. Jadi kalau kita melihat film ROBIN HOOD, bukan berarti kita menciptakan tokoh ROBIN HOOD. Tapi film yang sudah ada tokohnya di masyarakat diproduksi ulang, itulah sebabnya kita butuh aktor. Ini yang salah diterjemahkan. Termasuk ketika kita membuat film Ahmad Dahlan. Mereka berpikir bahwa kita menggambarkan Ahmad Dahlan itu suci, jadi aktornya harus suci. Masyarakat kita perlu tahu apa yang tampak tidak boleh disamakan. (kpl/uji/nat)

Lihat Galeri Photo Hanung Bramantyo:

Hanung BramantyoHanung Bramantyo
Hanung BramantyoHanung Bramantyo
Hanung BramantyoHanung Bramantyo