SELEBRITIA

Inilah Sepenggal Harapan Shinta Bachir Untuk Ibu

Sabtu, 04 Agustus 2012 12:15  | 

Shinta Bachir


Inilah Sepenggal Harapan Shinta Bachir Untuk Ibu
Shinta Bachir Foto: Budy Juwono




KapanLagi.com - Oleh: Budy Juwono

Kondisi Sumiyati, Ibunda artis Shinta Bachir yang harus merelakan kedua kakinya diamputasi karena menderita penyakit diabetes. Melihat keadaan itu, Shinta merasa keberatan jika sang bunda harus kehilangan kedua kakinya. Bintang film yang melejit lewat layar lebar Suster Keramas (2009) ini, merasakan dilema antara menelantarkan pekerjaan dan menemani sang Ibu terbaring di kediamannya di kawasan Wonosobo, Jawa Tengah.

Segala upaya untuk menyembuhkan sang bunda pun dilakukan Shinta termasuk mendatangkan ahli pengobatan alternatif dan medis. Namun perasaan bersalah selalu menghantui gadis kelahiran Wonosobo, 7 Februari 1986 ini, karena Shinta tidak bisa memenuhi keinginan Ibunya untuk bertemu dengan mantan suami yang berpangkat seorang jenderal di kepolisian.

Tetes demi tetes air mata, Shinta perlahan jatuh dari pelupuk matanya saat KapanLagi.comŽ menginterview bintang film Pulau Hantu 3 (2012) di sebuah cafe di Bilangan Tebet, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Berikut adalah sepenggal doa dan harapan Shinta untuk Ibunda tercinta, yang menarik untuk disimak:


  • Kondisi Ibu sekarang bagaimana?
    Kondisi Ibu sekarang masih seperti itu tapi sudah jauh lebih baik dibandingin saya pertama pulang kampung. Kemarin sempat dirawat dua minggu di rumah sakit di Jogja, sekarang sudah dibawa ke Semarang, dirawat sama Ibu angkat saya. Kita mencoba yang terbaik yah karena dari saya pribadi sebagai anak, saya belum bisa mengikhlaskan, kalau kedua kaki Ibu saya harus diamputasi.

  • Kalau boleh tahu Ibunya sakit apa sih?
    Sakit diabetes selama kurang lebih enam tahun. Tahun 2011 Ibu saya masih bisa jalan, tahun 2012 setelah saya lama nggak pulang, pas pulang kemarin ternyata sakit Ibu saya lebih parah. Sehingga Ibu saya tidak bisa jalan dan jaringan-jaringan kakinya itu sudah mati.

  • Tapi selama kurun waktu 6 tahun, sering ngeluh nggak sih?
    Kalau Ibu itu tipikal yang pendiam yah, yang nggak mau ngerepotin anak, dan saya juga banyak belajar dari Ibu. Jadi Ibu itu tidak mau membebankan ke anak-anaknya. Kalau misalnya by phone itu kalau misalkan lagi kambuh, pasti dia bilangnya lagi masuk angin, ya udah paling ke rumah sakit terus sembuh. Sakit lagi selama lima tahun tapi parah-parahnya di tahun 2012, Ibu benar-benar nggak bisa jalan, dan kalau dulu kan kalau nggak bisa jalan tapi masih pakai kursi roda, sekarang benar-benar nggak bisa sama sekali. Tidur pun kalau miring ya udah miring ke kanan terus, udah nggak bisa duduk, duduk aja udah nggak mampu.

  • Melihat Ibu seperti ini sebagai anak gimana perasaannya?
    Yah sangat sedih yah, apalagi jarak tempat jauh. Di moment ini sih saya pingin di sebelahnya Ibu, pingin memberikan support, tapi di sisi lain saya punya kewajiban untuk bekerja. Kalau saya meninggalkan pekerjaan akan menambah masalah buat saya, jadi ini pilihan yang sangat berat buat saya.

  • Ada perasaan merasa bersalah nggak sih ketika tidak menemani Ibu?
    Sebagai anak pasti kamu melihat kondisi Ibunya seperti ini pasti pingin di sebelahnya dan saya pun merasa bersalah tidak punya waktu untuk Ibu. Saya tahu Ibu itu kangen sama saya, butuh dekat dengan saya, tapi saya membagi waktunya itu yang sangat sulit, dengan pekerjaan dan harus memikirkan keluarga, di sisi lain biaya rumah sakit kan selama ini tanggungan saya. Kalau saya pulang kampung, saya harus di sebelah Ibu, terus siapa yang mau membiayai itu semua, dan saya kan cari uangnya di sini, di Jakarta. Kalau saya tinggalkan Jakarta, saya balik lagi ke kampung. Kalau ibu saya dibawa ke Jakarta, Ibu saya siapa yang ngurus, saya sendiri sibuk. Jadi posisi saya bingung, sebagai anak saya ingin memberikan yang terbaik tapi masih kurang, karena banyak hal yang belum bisa bikin Ibu itu senang.

  • Tapi kalau untuk pengobatan atau terapinya seperti apa?
    Kalau pengobatan semua alternatif sudah saya coba, terus secara medis sudah. Ibu saya pernah sampai tiga bulan dirawat di rumah sakit , Ibu sudah bisa langsung jalan lagi, sekarang kambuh lagi, harus dirawat lagi di rumah sakit, obat-obatan semua sampai orang bilang di daerah sana ada yang bagus alternatif ini, semua sudah saya coba tapi memang Allah belum memberikan kesembuhan buat Ibu saya. Yah mungkin Ibu saya dan saya harus sabar, ini adalah ujian dari Allah yang harus saya lewati.

  • Tapi Ibu sendiri termasuk tipikal yang pemikir nggak sih?
    Yah Ibu itu orangnya pendiam tapi sama anak-anak sih seneng ngobrol, tapi dia itu tidak mau membicarakan sebuah masalah. Terus kalau ada masalah dia dipikir sendiri, nggak mau diceritain ke anaknya tapi mungkin yah perpisahan saya yang membuat Ibu saya sakitnya lebih parah. Saya jadi merasa bersalah banget sama Ibu. Awalnya sih saya pingin membahagiakan Ibu kan. Maaf saya kalau ngomongin ini, merasa bersalah banget yah.

  • Bagaimana Shinta bisa tegar?
    Ibu saya sih nggak pernah cerita apa-apa yah, cuma perasaan saya itu ngerasa bersalah. Tadinya saya sudah tenang, terus Ibu tuh orangnya pendiam, saya pun menunjukkan ketegaran di depan Ibu tapi saya tahu ikatan seorang Ibu dengan anak itu ada ikatan bathin. Di saat Ibu telepon, saya benar-benar merasa lagi kalut, butuh orang yang saya tuh pingin curhat ke siapa. Kalau curhat ke Ibu, tapi Ibu lagi sakit. Itu nggak bisa, saya dan Ibu suka menutupi masing-masing.

  • Tapi dulu dengan mantan suami sempat minta restu?
    Waktu saya menikah, saya minta restu sama orang tua. Walaupun Ibu dan keluarga tidak mendukung, akhirnya karena itu pilihan saya, orang tua akhirnya mengikhlaskan anak gadisnya daripada saya hidup di Jakarta nggak jelas, ada yang tanggung jawab, apalagi anak perempuan, risikonya itu besar, godaannya cukup besar, dan orang yang pertama kali mengizinkan itu adalah Ibu saya. Banyak hal saya dapatkan itu dari Ibu. Ibu berpesan banyak buat saya, ini risikonya, ini manfaatnya. Jadi, baik buruknya sudah dikasih gambaran.

  • Pesan apa sih yang sampai akhirnya menjadi perasaan bersalah?
    Yah Ibu berpesan kalau nikah itu sekali seumur hidup dan saya tidak bisa menjaga itu. Hidup, mati, rejeki itu kan Tuhan yang ngatur, tidak bisa mengubah itu semua jadi perpisahan aja sih. Tadinya Ibu sudah nyaman, saya sudah ada pendamping, tiba-tiba harus berpisah. Tapi yah maaf-maaf saja, saya ini kan tulang punggung keluarga, saya harus hidup sendiri di Jakarta yang pikirannya kan takutnya saya gimana-gimana. Beliau juga sempat menelpon Ibu, itu lah yang bikin Ibu drop.

  • Artinya beliau sempet memberikan penjelasan?
    Penjelasan yang yah saya merasa bersalah sampai saat ini sama Ibu dan belum bisa memberikan permintaan kepada Ibu.

  • Tapi salah satu penyebabnya sakit itu karena pikiran?
    Saya yang belum bisa menepati permintaan Ibu adalah di mana dulu mantan suami saya itu datang dengan baik meminta anak gadisnya, sekarang berpisah dengan beliau. Beliau belum ada silaturahmi ke keluarga saya, perwakilan dari keluarga mereka juga itu belum ada. Ibu suka tanya kapan mantan suami dan keluarganya bersilaturahmi, masa sih mintanya ke sini baik-baik tapi ngembaliinnya by phone. Jadi kan kondisi seperti ini yang membuat saya masih beban berat, itu kayak yah saya harus bisa melakukan itu tapi nggak tahu bisa atau nggak. Pokoknya saya sudah berusaha menghubungi dari pihak keluarga mereka.

  • Reaksi dari keluarga mereka seperti apa?
    Yah saya juga tidak menginginkan kembali cuman permintaan seorang Ibu yang sedang sakit, saya sebagai anak merasa bersalah yah kalau terjadi apa-apa dengan Ibu saya, saya tidak bisa mengabulkan permintaan Ibu itu akan menjadi beban dalam hidup saya dan yang disalahkan adalah diri saya sendiri.

  • Pada saat itu beliau pesan apa?
    Kalau Ibu sih cuma bilang begini "Memang ini pilihan kamu, sebagai perempuan, seorang istri harus berbakti kepada suami, apapun yang terjadi di dalam rumah tangga tidak boleh ada yang tahu, sedikit pun tidak boleh, sama Ibu pun tidak boleh."

  • Bagaimana meyakinkan Ibu?
    Mantan suami sih orangnya baik, dia bisa menjadi pemimpin dan saya membuat Ibu yakin, nggak tahu kenapa kalau ternyata akhirnya seperti ini.

  • Seperti apa sih perjuangannya apalagi Shinta sebagai tulang punggung?
    Banyak yah, dan itu sangat berat terutama kayak sekarang saya hidup sendiri. Hidup sendiri itu godaannya besar, dan banyak cercaan, cacian kepada saya. Di sisi lain mereka nggak tahu apa yang saya lakukan, saya mencari uang dengan kerja keras, dan sekarang posisi saya itu benar-benar berat. Kalau kemarin ada tangan yang menggenggam saya untuk maju, untuk angkat beban bareng-bareng, sekarang saya sendiri. Itu sangat berat banget dan apalagi tanggungan obat yang tidak boleh berhenti. Kalau saya berhenti, rejeki saya berhenti, obat pun berhenti, itu sangat berat buat saya.

(kpl/buj/nat)