SELEBRITIA

Melirik Keluarga Pongki Barata dan Sophie Navita

Selasa, 27 Juli 2010 15:03  | 

Pongki Barata






KapanLagi.com -
Oleh: Puput Puji Lestari

Dikenal luas sebagai keluarga musisi, Pongki Barata alias Pongki Jikustik dan Sophie Navita tak merasakan ketenaran adalah sesuatu yang harus dibanggakan. Ketenaran adalah hasil sampingan dari kerja keras. Berkarya dan terus kreatif adalah tujuan utama hidup mereka.

Dua buah hatinya, adalah malaikat penjaga titipan Tuhan. Bagi Sophie, mendapat amanat dititipi barang orang lain saja harus bisa bertanggung jawab. Apalagi anak dari Tuhan. Bagaimana mereka mendampingi putra mereka? Simak permbincangan kami di rumah mereka di kawasan Cidodol, Kebayoran Lama, Rabu (21/7).

Pongki, masih sendirian ketika kami datang. Janjian jam 15.00 yang dijadwalkan harus molor karena meeting Sophie belum selesai. Kami disuguhi bakso dan teh sambil berbincang dan mendengarkan lagu baru Pongki yang akan dirilis Agustus nanti.


Sophie Navita dan Pongki Barata

PERSONAL

  • Saat paling membahagiakan dalam hidup?
    Sophie: Saat akhirnya aku menikah dan punya anak. Keluargaku lengkap. Buatku mencari jodoh yang seiman dan sevisi dengan kehidupan aku itu susah. Puji Tuhan aku dikasih keluarga. Anak-anakku lahir normal.
    Pongki: Ya dua malaikat itu. Dulu suka ngebayangin anak gue kayak apa ya wajahnya. Begitu keluar kok ya lucu-lucu.
  • Saat paling mengharukan?
    Pongki: Saat Ayahku meninggal. Ayah itu bukan hanya orang yang dihormati sama keluarga aku, tapi juga keluarga besar aku. Kami semua sayang padanya. Jadi saat Ayah meninggal Februari lalu, semua merasa kehilangan.
  • Saat terberat dalam kehidupan rumah tangga kalian?
    Pongki: Saat Sophie hamil kedua. Itu kehamilan yang di luar prediksi kami. Jadi kesiapan kami belum maksimal untuk mendapat satu anak lagi. Kebetulan saat itu baru investasi di salah satu bidang. Tabungan kami sudah kami alihkan ke investasi tersebut. Kami benar-benar tidak punya tabungan untuk berjaga-jaga.
    Terlebih saat hamil, Sophie stop bekerja. Kami terbiasa dengan dua sumber penghasilan. Tiba-tiba saya sendiri harus bekerja sekuat tenaga untuk menutup semua kebutuhan. Karena usaha saya juga tidak ada yang ditutup. Semua karyawan butuh gaji. Tapi entah bagaimana, pas saat saya butuh uang ada saja tuh.
    Sophie: Puji Tuhan kami dimampukan.
  • Tips saling menguatkan?
    Sophie: Doa, kami selalu percaya Tuhan mampu memberi semua. Kami bersyukur atas kahidupan kami.
    Pongki: Bersyukur yang jelas. Tidak ada alasan untuk tidak ke gereja. Tuhan sudah menjaga kami sehari 24 jam masa' kalau ibadah dua jam saja kita nggak mau. Bersyukur itu juga dengan menjaga hubungan baik. Dengan sebelah kanan kiri kami selalu berusaha menegur.

FAMILY TIME

  • Mengajari anak berdoa?
    Pongki: Oh iya, itu penting. Kami mengajari doa dengan hal-hal kecil. Kami tidak pernah memaksa mereka berdoa dalam kontekstual. Kami memberi contoh misalnya saat makan, kami mengajaknya berdoa terlebih dahulu. Kami mengucap syukur atas makanan yang terhidang. Kami mendoakan yang menghidangkan makanan. Dari situ anak-anak tahu ada Tuhan sebagai tempat meminta. Bahwa di atas kehidupan ini ada penciptanya.
    Sophie: Anakku sudah bisa berdoa, aku senang banget. Ketika dia meminta seuatu, dia meminta lewat doa. Itu tidak kami ajarkan secara langsung. Tapi akhirnya mereka paham pada siapa seharusnya setiap permintaan itu diucapkan.
  • Makanan favorit?
    Sophie: Sebenarnya saya suka seafood. Tapi saya penganut diet yang setiap beberapa bulan kami ganti pola dietnya. Itu supaya tubuh kami seimbang. Diet buah, vegetarian, tanpa garam, semua aku coba. Kenapa? Karena saya menghindari kemapanan rasa. Misal nih, kita makan yang enak-enak terus. Seperti daging. Lama kelamaan sayur itu rasanya nggak enak. Nah, ini yang saya hindari. Saya ingin kalau diberi umur panjang, saat tua nanti saya bisa makan tanpa pantangan. Makanya harus hidup seimbang dari sekarang.
    Tapi anak-anak nggak ikut pola diet saya. Kan mereka dalam tahap pertumbuhan.
    Pongki: Kalau saya sih biasa saja, saya tipikal apapun yang ada di meja ya saya makan. Jadi Sophie bikin apa ya saya makan. Kalau nggak ada ya sudah, buat sendiri. Kan saya dilatih mandiri sejak kecil. Jadi nggak repot.
  • Ada kuatir nggak terhadap data yang dirilis KPAI peningkatan pemerkosaan anak karena video porno Ariel?
    Sophie: Aduh, nggak pakai video Ariel juga pemerkosaan udah meningkat. Itu karena momennya saja. Kupikir media yang mestinya menjadi control social. Ada saatnya memberitakan, ada saatnya memasukkan kasus dalam botol lalu menutup rapat.
    Pongki: Iya, media harus tahu kapan berhenti. Kita nggak bisa menjejali masyarakat dengan opini-opini yang tidak mencerdaskan mereka. Memang sebagian masyarakat masih suka mencerna berita-berita miring. Tapi masak kita yang ngikuti mereka? Harusnya ada saatnya masyarakat diajak belajar.


Keluarga Pongki - Sophie

KARIR

  • Karir nyanyi Sophie, jadi keluarga musisi?
    Sophie: Sebenarnya kami tidak pernah menyebut begitu. Tapi kalau ada orang yang bilang begitu ya kami bersyukur. Banyak orang tidak tahu kalau sebenarnya dunia musik itu sangat dekat dengan saya. Cuma selama ini tertutup oleh karir saya MC.
    Kalau awalnya memutuskan menyanyi itu biar bisa paket lengkap. Maksudnya, kalau ada yang meminta saya menjadi MC, saya bisa sekaligus jadi penyanyi di acaranya. Jadi ada nilai tambahnya.
    Pongki: Ayahnya Sophie itu gitaris, ibunya pelatih paduan suara gereja. Adiknya pemain band, jadi ya memang dari kecil dia sudah bisa nyanyi. Mungkin karena itulah saya dengan mudah bisa diterima keluarga Sophie untuk jadi menantu, hehehehe.
  • Sempat nervous?
    Sophie: Oh iya pasti. Awalnya nyiptain lagu itu, Pongki sama sekali nggak mau bantu. Katanya kalau aku dibantu, karyanya nggak orisinil lagi. Makanya aku dibiarain. Katanya kalau sudah nyiptain lagu lama-kelamaan juga akan tahu celah mana yang harus diperbaiki.
  • Dukungan terbesar?
    Pasti suami ya. Dan keluarga besar juga mendukung.
  • Kalau karir Mas Pongki?
    Pongki : Sekarang lagi nyiapin album untuk The Dance Company Kids, saya senang bisa bergabung dengan teman-teman band ini. Karena band ini lucu ya. Mau buat apa aja jadi. Bedanya dengan band-band lain, di sini kami tidak mau terpasung sama keinginan produser dan pasar. Di sini itu kami buat lagu dulu, baru setelah jadi 90% kami ajukan ke produser. Jadi proses kreatifnya bisa bebas.
  • Emang enggak di Jikustik lagi?
    Pongki: Saya sedang vakum dari Jikustik. Ada vokalis baru. Saya menunggu keluarnya album mereka. Masih ada beberapa kali kontak. Sudah setahun ini proses buat albumnya kok.

DUNIA ANAK-ANAK

  • Apakah anak akan jadi musisi juga?
    Sophie: Enggak pernah mengarahkan ke sana. Mereka kami bekali semua pengetahuan. Yang jelas saat usia masing-masing bertambah mereka harus punya cita-cita. Bingung lho mbak kalau anak nggak punya cita-cita. Nah, terserah mereka mau jadi apa kami ngikutin aja.
    Pongki: Kalau belajar musik mereka sudah belajar dari kecil. Cuma nggak mengharuskan mereka hidup di jalur musik.
  • Belajar di mana anak-anak?
    Sophie: Yang pertama kelas 1 SD, saya ambil sekolah yang sistemnya homeschooling. Jadi, satu hari belajar di sekolah, satu hari belajar di rumah. Kenapa nggak sekalian homeschooling? Karena saya ingin anak saya belajar bersosialisasi di sekolah dengan teman-temannya. Tapi saya juga nggak mau kemudian melepas tanggung jawab belajar anak di sekolah. Makanya ada saat belajar di rumah. Itu tanggung jawab orangtua.
  • Pembatasan media terhadap anak?
    Sophie: Pasti ada. Saya membatasi jam anak nonton TV. Saya juga membatasi film yang boleh ditonton sama anak-anak.
    Pongki: Jujur, saya tidak pernah mengizinkan anak-anak nonton sinetron.
  • Saat paling menyedihkan saat bersama anak?
    Sophie: Kalau anak nggak butuh orang tuanya lagi. Kejadiannya biasanya kalau aku melarang mereka melakukan sesuatu. Mereka minta bantuan perawat dan nenek-kakeknya biasanya. Duh, aku sedih kalau begitu. Padahal aturan itu kan dibuat untuk kebaikan mereka. Tapi biasanya aku kasih penjelasan dan menegaskan pada parawat dan kakek-neneknya, bukan marahin ke anak.
    Pongki: Biasanya kalau mereka mau makan coklat, pas lagi nggak boleh. Dan tidur melebihi jam seharusnya tidur kalau di rumah lagi ramai. Aturannya kan jam 9 malam harus tidur anak-anak.
    Saya sedih kalau meninggalkan anak lama. Pas pulang mereka punya cerita banyak. Rasanya kehilangan waktu dengan anak itu menyedihkan. Kami bukan tipe yang penting komunikasi terjaga, tapi kontak fisik itu penting. Dulu, kan belum punya studio sendiri, waktu saya habis untuk di studio. Untunglah saya diberi rejeki untuk bisa buat studio sendiri, sekarang meskipun di studio, anak-anak bisa tetap melihat saya dan mengganggu saya.
  • Liburan paling seru?
    Sophie: Ke Bandung, di sana sewa hotel yang ada view pemandangan alamnya. Keliling-keliling wisata kuliner. Kalau lagi ada rejeki ya ke luar negeri.
  • Mengajarkan green living ke anak?
    Sophie: Saya paling menegaskan bahwa penggunaan listrik dan air harus hemat. Kalau keluar kamar, AC dan lampu harus mati. Mandi, shower tidak boleh terus mengucur. Itu hal kecil tapi mereka tahu apa pentingnya. Terus pakai baju juga kalau belum kena keringat di-hanger (gantung -red) dulu, biar bisa dipakai lagi. Tujuannya hemat air dan mengurangi detergen ke alam. Buang sampah nggak boleh sembarangan. Saya tegaskan akibatnya bisa banjir.
    Saya nggak bisa mengajarkan menanam pohon karena rumah cuma sepetak. Di belakang rumah ini saya pertahankan selalu punya rumput. Meskipun godaan membesarkan studio itu juga ada.
(kpl/uji/nat)

Lihat Galeri Photo Pongki Barata:

Pongki BarataPongki Barata
Pongki BarataPongki Barata
Pongki BarataPongki Barata

Lihat Galeri Photo Sophie Navita:

Sophie NavitaSophie Navita
Sophie NavitaSophie Navita
Sophie NavitaSophie Navita