Angga Sasongko Minta Masyarakat Fair Soal 'SURAT DARI PRAHA'

Kamis, 04 Februari 2016 12:50 Penulis: Natanael Sepaya
Angga Sasongko Minta Masyarakat Fair Soal 'SURAT DARI PRAHA' Angga Sasongko/©KapanLagi.com®/Budy Santoso
Kapanlagi.com - Jauh-jauh datang ke Malang, sutradara muda Angga Dwimas Sasongko kembali memberikan klarifikasi soal tudingan plagiat film terbarunya SURAT DARI PRAHA. Ia sedikit kecewa dengan banyaknya komentar negatif masyarakat yang akhirnya memicu munculnya petisi boikot SURAT DARI PRAHA.

"Yang bisa kita pahamin kan, sebenarnya ada nggak nih (unsur plagiat dalam filmnya)? Kalau nggak ada kenapa harus dibilang plagiasi? Dua orang bisa punya ide di saat bersamaan atau di waktu dan wilayah yang berbeda. Kita punya 6 miliar manusia di dunia ini. Dan yang punya cerita dengan background eksil itu nggak cuma kita. Ada ribuan. Ada di Kuba. Ada ribuan. Harusnya ini bukan jadi sebuah polemik," tuturnya saat dijumpai di Hotel Tugu, Malang, Jawa Timur, Rabu (3/2).

Menurutnya, kasus ini sudah banyak yang menunggangi. "Pihak yang tendensinya ingin meramaikan aja saya minta menahan diri. Harus melihat ini secara proporsional. Harus mengerti dulu apa sih yang namanya hak cipta, mengerti dulu apa sih plagiasi. Saya pengin dunia kreatif ini layak disikapi dengan mental yang taat hukum, bukan sekadar menghakimi di media sosial, membangun opini publik dan kemudian menjadi polemik. Kita bisa kok," tegasnya.

Suasana diskusi ketika Angga Sasongko datang ke Malang/©KapanLagi.com®/Natanael SepayaSuasana diskusi ketika Angga Sasongko datang ke Malang/©KapanLagi.com®/Natanael Sepaya

Dunia kreatif ini ada aturan mainnya, menurut Angga. "Itu aja dulu diselesein baru kita ngomong soal lain, soal etika dan soal moral. Seperti Iwan Fals bilang, 'Urus saja moralmu'. Maksudnya tiap orang punya standar yang berbeda. Tetapi standar hukum itu sama. Penting untuk menempatkan masalah-masalah seperti di dunia kreatif ini di koridor hukum. Janganlah nuduh-nuduh, bikin petisi, sementara belum ada putusan pengadilan mengenai apa pun itu," ungkap sutradara yang baru saja dikaruniai putra ganteng beberapa bulan silam.

Ia kecewa dengan bullyan masyarakat akan karya yang digarapnya selama bertahun-tahun ini, meski mereka belum nonton atau membaca kumpulan cerpen SURAT DARI PRAHA

"Kami punya misi sebenarnya. Sayang ketika film ini lebih naik kontroversi daripada substansi filmnya. Kami sebenarnya bicara tentang orang-orang yang keadilannya direnggut saat peristiwa 65. Bagaimana kita sebagai bangsa, sebagai generasi hari ini menyikapi hal tersebut. Bagaimana kita bisa membangun konteks dari hal tersebut untuk pelajaran kita ke depannya. Itu kan substansi yang saya ingin tawarkan untuk film ini dengan segala resikonya. Mari bicarakan itu, bukan polemiknya.

Terakhir, ia menitipkan pesan supaya kejernihan tetap ada di dalam diskusi-diskusi mendatang. "Semua orang punya pendapat dan saya menghargai semua pendapat," tutupnya.

(kpl/dka/ntn/tch)

Reporter:

Mahardi Eka


REKOMENDASI
TRENDING