FILM INDONESIA

Bintangi Remake Horror Korea 'WHISPERING CORRIDORS', Amanda Rawles Akui Kaget

Rabu, 13 Februari 2019 03:55 Penulis: Guntur Merdekawan

Amanda Rawles bintangi 'SUNYI' / Credit: KapanLagi - Budy Santoso

Kapanlagi.com - Amanda Rawles diplot sebagai pemeran utama horor bertajuk SUNYI. Film besutan Awi Suryadi ini merupakan adaptasi resmi dari WHISPERING CORRIDORS, sebuah horor fenomenal produk Korea Selatan yang rilis 1998 silam.

Saat ditanya perihal keterlibatannya, Amanda mengaku sempat kaget. Ia tak menyangka bila seri horor yang pernah ditontonnya kini di-remake oleh rumah produksi asal Indonesia.

"Sebelumnya aku udah tahu film ini karana salah satu horor yang nge-hit di Korea Selatan. Begitu ditawari aku kaget, 'Hah mau dibikin versi Indonesianya?'. Aku sendiri excited banget karena yang aku suka dari film ini adalah adanya tema bullying, permasalahan sosial, di situ menjadi nilai plus," kata Amanda dalam jumpa pers di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa (12/2/2019).

1. Lebih Gampang Adaptasi

Remake film Korea Selatan WHISPERING CORRIDORS menjadi inovasi baru MD Pictures di tahun ini. Menurut Manoj Punjabi selaku produser, upaya yang dilakukan dikarenakan susahnya mencari materi cerita asli.

Sementara dengan adaptasi baik dari novel bestseller atau film, menjadi hal yang menguntungkan. Walau mengadaptasi, bisa jadi cerita yang ditawarkan adalah sesuatu fresh sehingga menarik minat penonton.

"Saya kalau dapat konsep yang menarik entah dari buku atau film yang pernah sukses, itu lebih mudah karena udah ada semacam cermin apa yang akan kita buat. Itu jadi poin yang ekstra. Cari cerita baru itu susah sekali, kalau sekadar membuat film itu gampang. Kadang meski kita adaptasi bisa jadi cerita yang original dan fresh," tutur Manoj di tempat yang sama.

2. Ada Penyesuaian

Meski remake, Manoj Punjabi tak mentah-mentah memindah adegan dari film lama. Ia membebaskan penulis skenario dan sutradara untuk bereksperimen menyesuikan situasi dan kondisi.

"Kalau lihat film aslinya cerita tentang para perempuan, di sini kita ganti ada laki-laki. Kita sesuaikan ceritanya asal embrionya sama. Ini yang jadi menarik," bocor Manoj.

Ia melanjutkan, "Mau adaptasi film dari negara mana asal bisa disesuaikan dengan budaya kita, kenapa nggak? Kalau ternyata sesuai selera penonton, saya akan terus ambil adaptasi entah itu buku atau film karena mereka sudah punya dasar, bencmark, itu patokan saya," pungkasnya.


REKOMENDASI
TRENDING