Dinamika Bumi Manusia Dari Novel ke Film; Dari Oliver Stone, Garin, Hingga Hanung

Jum'at, 25 Mei 2018 20:56 Penulis: Galuh Esti Nugraini
Dinamika Bumi Manusia Dari Novel ke Film; Dari Oliver Stone, Garin, Hingga Hanung Bumi Manusia © Bintang.com/Bambang E. Ros

Kapanlagi.com - Bumi Manusia merupakan novel karangan Pramoedya Ananta Toer yang rilis pertama kali pada tahun 1980. Setahun berselang, bagian pertama dari Tetralogi Buru ini dilarang beredar lantaran dituding mempropagandakan paham komunisme.

Dalam perjalanannya, Bumi Manusia rupanya sempat ditawar oleh sineas asing yakni Oliver Stone sutradara film PLATOON untuk diadaptasi ke layar lebar. Sayangnya Pramoedya membatalkan hal tersebut lantaran ingin karyanya difilmkan oleh sineas tanah air.

"Waktu itu memang ada pihak asing yang mau buat, nilai (pembelian adaptasi) yang fantastis. Tapi kemudian Pram berpikir kenapa orang Indonesia tidak mau membuat film saya? Jadi kalau ada yang membuat film saya, ini dibatalkan. Kemudian ada beberapa tawaran dari sineas tanah air sehingga dibatalkan. Tapi proyek itu tidak berjalan," terang Astuti Ananta Toer selaku anak Pramoedya ditemui di Desa Wisata Gamplong, Yogyakarta, Kamis (24/5/2018).

Pram ingin Bumi Manusia diangkat oleh sineas tanah air © Bintang.com/Bambang E. RosPram ingin Bumi Manusia diangkat oleh sineas tanah air © Bintang.com/Bambang E. Ros

Uniknya saat proses tawar menawar dengan Oliver terjadi, Hanung Bramantyo  yang kala itu duduk di semester dua bangku perkuliahan mengaku dengan percaya diri menawarkan mengadaptasi. Pramoedya pun memberikan kata penolakan dengan halus.

Lama berselang, pada 2004 seperti dirangkum dari berbagai sumber adaptasi Bumi Manusia kembali terdengar. Ialah PT Elang Perkasa dengan Citra Sinema milik Deddy Mizwar menandatangani kontrak adaptasi memasang Garin Nugroho sebagai sutradara dan Jujur Prananto sebagai penulis skenario. Kabar adaptasi ini lalu menghilang di tengah jalan.

Selanjutnya pada 2008 salah seorang produser menawarkan Hanung mengadaptasi Bumi Manusia. Hanung sempat meminta kepada Salman Aristo untuk menulis skenario walau berujung pada penolakan lantaran pria yang akrab disapa Aris itu mengaku belum siap. Kabar adaptasi ini nyaris tak terdengar sebelum ada pengakuan langsung dari Hanung baru-baru ini.

Pada 2010 produser kawakan Mira Lesmana mengungkap rencana adaptasi Bumi Manusia dengan Riri Riza sebagai sutradara. Sama seperti sineas sebelumnya, proyek ini pun gagal terlaksana. Mira mengaku dikarenakan masalah pendanaan yang jelas tidak murah.

Bumi Manusia akhirnya digarap oleh Hanung Bramantyo lewat rumah produksi Falcon Pictures © Bintang.com/Bambang E. RosBumi Manusia akhirnya digarap oleh Hanung Bramantyo lewat rumah produksi Falcon Pictures © Bintang.com/Bambang E. Ros

Tahun 2015 sutradara nyentrik Anggy Umbara membocorkan bila rumah produksi Falcon Pictures telah membeli hak adaptasi Bumi Manusia. Anggy mengaku telah melakukan pembicaraan dengan pihak rumah produksi untuk merancang bakal seperti apa visualisasi film tersebut. Seiring berjalannya waktu nama Anggy dan Bumi Manusia seakan terlupakan.

Pertengahan 2018 Falcon Pictures mengumumkan kalau Bumi Manusia siap menggelar proses syuting pada Juli mendatang. Sutradara yang terpilih bukan Anggy Umbara melainkan Hanung Bramantyo. Kepada awak media, Frederica selaku produser mengeluarkan statement bila Anggy tidak pernah menjadi sutradaranya.

"Kami memiliki lisensi novel ini dari 2014. Selama ini Falcon sebetulnya belum pernah merilis atau mengumumkan sutradara resmi sampai skrip itu jadi. Jadi, baru sekarang kami secara resmi merilis dan sutradaranya adalah Hanung," tegas Frederica.

BUMI MANUSIA dibintangi oleh Iqbaal Ramadhan sebagai Minke, Mawar De Jongh sebagai Annelies dan Sha Ine Febriyanti sebagai Nyai Ontosoroh. Berkisah tentang seorang pribumi bernama Minke yang jatuh hati pada Annelies, gadis berdarah campuran (Indonesia-Belanda). Masalah bermula ketika Annelies harus kembali ke Belanda efek diskriminasi pemerintahan kolonial pada saat itu. Tak mau kehilangan, Minke dan Nyai Ontosoroh melakukan perlawanan agar Annelies tetap di Indonesia.

(kpl/abs/gen)

Reporter:

Adi Abbas Nugroho


REKOMENDASI
TRENDING