Jadi Pembunuh Bayaran, Rio Dewanto Belajar Dari Film Mafia

Selasa, 17 Februari 2015 00:30 Penulis: Rahmi Safitri
Jadi Pembunuh Bayaran, Rio Dewanto Belajar Dari Film Mafia Rio Dewanto © KapanLagi.com®/Budy Santoso
Kapanlagi.com - Aktor Rio Dewanto kembali bermain dalam sebuah film yang cukup menantang. Pasalnya perannya kali ini sangat berbeda dari film-film yang sudah ia mainkan sebelumnya. Ceritanya pun lebih serius, yakni mengenai politik yang ada di negara ini, meski juga ada drama percintaannya.

"Mengingat kita sempat ada pemilu presiden pada 2014. Ceritanya fiktif, nggak ada karakter orang yang aslinya, tapi banyak kejadian-kejadian yang memang mirip dengan situasi politik Indonesia. Tapi, juga sebenarnya cerita ini lebih menitik beratkan drama percintaan antara salah seorang anak calon presiden (Rizky Nazar) dan anak dari seorang pengacaranya (Maudy Ayunda). Mereka saling jatuh cinta terus ada konflik yang ada di negara ini," cerita Rio saat datang ke kantor Kapanlagi.com® di Tebet, Jakarta Selatan pada (16/2).

Peran Rio di film ini juga sangat menarik. Ia menjadi seorang pembunuh bayaran. Untuk mendalami perannya, Rio lebih banyak menonton film yang bertemakan action dan mafia.

Atiqah Hasiholan juga ikut berperan dalam 2014 © KapanLagi.com®/Budy SantosoAtiqah Hasiholan juga ikut berperan dalam 2014 © KapanLagi.com®/Budy Santoso

“Sebagai Satria, seorang pembunuh bayaran yang dibayar oleh seorang mafia di negeri ini untuk membunuh salah satu calon presiden yang sebenarnya disukai oleh masyarakat. Tapi, karena lawan politiknya nggak senang jadi, sorry agak spoiler dikit. Pokoknya pembunuh bayaran,” kata suami Atiqah Hasiholan ini.

Rio juga sangat tertantang memerankan tokoh Satria sang pembunuh bayaran ini. Pasalnya, dalam film besutan Hanung Bramantyo dan dan Rahabi Mandra ini, Rio tidak ada dialog sama sekali, seperti orang bisu. "Kebetulan dalam film ini saya tidak ada dialog sama sekali. Bisu," ujarnya.

Rio pun mengaku berakting tanpa dialog itu lebih sulit dibandingkan berdialog. Meskipun kelihatannya lebih mudah karena tidak mengharuskan menghafal skrip. "Nggak juga sih, justru lebih sulit. Ya gimana orang bisa merasakan (sesuatu) tanpa berdialog, itu kan lebih susah," tutupnya.

(kpl/rhm/pit)

Reporter:

Nuzulur Rakhmah


REKOMENDASI
TRENDING