Kontroversi 'BUMI MANUSIA': Dari Penokohan Sampai Akurasi Cerita

Senin, 28 Mei 2018 20:07 Penulis: Tyssa Madelina
Kontroversi 'BUMI MANUSIA': Dari Penokohan Sampai Akurasi Cerita Cast 'BUMI MANUSIA' © Bintang.com/Bambang E Ros

Kapanlagi.com - Sutradara handal Hanung Bramantyo kembali memproduksi sebuah film yang sarat akan kontroversi. Setelah PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN yang mengangkat kisah kehidupan pesantren dengan isu poligami dan CINTA TAPI BEDA yang membahas tentang kisah cinta beda agama, kini Hanung dengan berani mengambil adaptasi dari sastra fenomenal karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul BUMI MANUSIA.

Proyek adaptasi BUMI MANUSIA sendiri baru menemukan titik terang setelah 14 tahun terombang-ambing. Sebelumnya, beberapa sutradara seperti Garin Nugroho, Riri Reza sampai Anggy Umbara sempat diisukan akan menggarap novel tersebut ke layar lebar. Bahkan Hanung sendiri mengaku pernah ditolak secara langsung oleh Pramoedya ketika mengungkapkan niat membuat versi layar lebar Bumi Manusia ketika ia masih duduk di bangku kuliah.

"Saya pernah bertemu dengan Pak Pram ketika ada di semester dua kuliah. Saya datang ke rumah beliau bilang mau memfilmkan. Pak Pram cuma ketawa. Saya masih inget banget dia bilang 'Bung ini film sudah dibeli Oliver Stone, jadi mohon maaf kalau saya terkesan tidak mendukung mahasiswa seperti Bung. Saya orang yang hidup dari menulis jadi tolong Bung mengerti saya'," tutur Hanung Bramantyo, saat menirukan ucapan mendiang Pramoedya.

Di bawah rumah produksi Falcon Pictures, Bumi Manusia akan diangkat ke layar lebar. © Bintang.com/Bambang E RosDi bawah rumah produksi Falcon Pictures, Bumi Manusia akan diangkat ke layar lebar. © Bintang.com/Bambang E Ros

Namun pada akhirnya, di tahun 2018 Hanung berhasil mengantongi izin serta menggandeng Falcon Pictures sebagai rumah produksi. Dan sejak BUMI MANUSIA diumumkan rilis pada 2019 mendatang, para penggemar berat sastra Pramoedya melontarkan protes keras. Tentu saja kecaman yang bergulir bukan sebatas tokoh Minke yang diperankan oleh Iqbaal Ramadhan namun juga ketakutan akan akurasi cerita yang ditayangkan dalam durasi terbatas.

Dari bukunya sendiri, Bumi Manusia menceritakan tentang perjalanan tokoh Minke, seorang anak pribumi yang berhasil menempuh pendidikan di HBS (Hogere Burger School). Ia digambarkan sebagai sosok pemuda yang memiliki pola pikir revolusioner. Meskipun kerap diejek oleh teman sebayanya saat itu, Minke berani mengkritisi permasalahan dan ketimpangan di era kolonialisme Belanda.

Bisa kah Iqbaal memenuhi kriteria tokoh Minke di Bumi Manusia?Bisa kah Iqbaal memenuhi kriteria tokoh Minke di Bumi Manusia?

Cerita tak hanya berfokus pada tokoh Minke. Ada Nyai Ontosoroh, seorang perempuan simpanan dari keturunan Belanda bernama Tuan Mellema yang harus merasakan ketidakadilan di sepanjang hidupnya. Ada pula Annelies, putri dari Nyai Ontosoroh yang dicintai oleh Minke.

Pada dasarnya, Bumi Manusia sendiri bukan lah novel genre roman biasa. Ada banyak unsur yang dibahas secara mendalam di setiap tulisannya. Bahkan karena tulisannya, Pramoedya juga sempat menuai protes pada tahun 1981 karena dianggap mengajarkan ajaran Merxisme-Leninisme dan komunisme di dalam novel Bumi Manusia.

Lantas, bagaimana Hanung Bramantyo selaku sutradara menuangkan pesan di dalam novel Bumi Manusia ke dalam audio visual? Untuk menjawab rasa penasaran, ada baiknya siapkan diri untuk menyambut film ini pada tahun 2019 mendatang.

(kpl/tmd)

Editor:

Tyssa Madelina


REKOMENDASI
TRENDING