LSF Gaungkan Urgensi Budaya Sensor Mandiri, Libatkan Akademisi dan Ibu

LSF Gaungkan Urgensi Budaya Sensor Mandiri, Libatkan Akademisi dan Ibu
(Ratnaning Asih/ LIputan6,com)

Kapanlagi.com - Lembaga Sensor Film (LSF) kembali menggaungkan Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri (GBSM). Kali ini, melalui sosialisasi di CGV Depok Mall, Depok, Jawa Barat, Selasa (21/7/2026). Kegiatan ini menggandeng pelajar, mahasiswa, komunitas film, hingga kalangan ibu. Acara turut disemarakkan dengan nonton bareng dua film Indonesia yang tayang pada Juli, yaitu Jangan Buang Ibu dan Takkan Kubiarkan Kau Menangis.

“Kami menggandeng kelompok masyarakat yang bisa menjadi ujung tombak literasi tontonan,” tutur Ketua LSF Naswardi saat ditemui di sela acara.

Ia berharap, pelibatan kalangan akademik hingga ibu diharapkan menumbuhkan kebiasaan memilah dan memilih tontonan sesuai kelompok usia. Sensor mandiri disebut masih menjadi kebutuhan, mengingat temuan riset LSF tahun 2023 menunjukkan baru 46 persen anak yang tontonannya memenuhi klasifikasi usia.

Naswardi menyoroti dinamika konsumsi tontonan di era digital. “Potensi anak untuk menonton tayangan dewasa sangat terbuka. Apalagi melalui jaringan informatika dan media sosial, juga smartphone masing-masing,” kata Naswardi.

1. Pengawasan Tontonan Anak di Era Digital

Ketua Sub Komisi Apresiasi & Promosi LSF, Gustav Aulia, memaparkan bahwa pemantauan tontonan anak perlu melampaui televisi dan gedung bioskop. Apalagi platform over-the-top (OTT) dan media sosial kini menyediakan akses konten yang luas dan bebas, termasuk untuk pengguna usia muda.

“Misalnya bisa saja mereka sambil di kamar, tidur-tiduran, dengan pintu ditutup, menonton lewat ponsel mereka. Sementara kita tak tahu anak-anak dan adik-adik kita menyaksikan apa,” kata Gustav.

Ia menegaskan di sinilah GBSM berperan penting. Yakni mendorong kesadaran diri dan peran orang tua dalam membatasi tontonan sesuai klasifikasi umur. “Jadi memang tidak hanya di bioskop saja, tapi juga di ruang privat,” kata Gustav.

Ketua Umum BPI, Fauzan Zidni, mengingatkan risiko yang mengintai ketika anak mengakses konten lewat ponsel secara tanpa pengawasan. Ia menyoroti kemungkinan paparan tayangan ilegal yang tidak sesuai umur dan disisipi muatan yang tidak pantas.

“Jadi sudah nontonnya tidak sesuai umur, terpapar iklan judi online, sampai perangkatnya bisa terkena virus. Hal ini yang mesti diperhatikan, dan juga ikut menjadi tugas orang tua,” kata Fauzan.

(Deswa Dangdut Academy meninggal dunia, wafat usai berjuang lawan sakit.)

2. Dukungan untuk GBSM

Ketua LSF, Naswardi. (Ratnaning Asih/ Liputan6.com)

GBSM mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah. “Gerakan nasional ini patut kita dukung bersama, sebab ini mengajarkan literasi pada penonton untuk mengetahui segmen mana yang menjadi kelompok usianya,” kata Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah, yang menghadiri acara ini.

Chandra juga menekankan fungsi edukatif film bila dipilih sesuai usia. “Dengan memilih film dalam kelompok usia yang tepat, akan memberikan edukasi yang tepat untuk masyarakat,” tuturnya.

Dari kalangan akademisi, Dosen UI, Saraswati Putri, menyoroti posisi film sebagai produk budaya. “Film bukan hanya sekadar hiburan, tapi dia adalah sebuah produk budaya, dan di situ ada praktik budaya yang sangat kompleks dengan melibatkan banyak orang,” ujarnya.

Sejalan dengan itu, menonton tayangan yang sesuai usia dinilai membantu penonton muda untuk mencerna dan mengapresiasi film sebagai produk budaya secara sehat.

(Nycta Gina panen kritikan dari netizen karena postingan Instagram Story-nya.)

(kpl/rtn)

Rekomendasi

Trending