Soal Perfilman Nasional, Hanung Bramantyo: 2016 Kita Berjaya

Rabu, 22 Maret 2017 15:52 Penulis: Fitrah Ardiyanti
Soal Perfilman Nasional, Hanung Bramantyo: 2016 Kita Berjaya Hanung Bramantyo/©KapanLagi.com®/Agus Apriyanto

Kapanlagi.com - Hanung Bramantyo adalah salah satu sutradara tanah air yang sudah menderek sekitar 30-an film layar lebar sepanjang karirnya yang dimulai sejak tahun 2000. Puncaknya adalah ketika lewat karyanya, BROWNIES (2004), Hanung dinobatkan sebagai Sutradara Terbaik FFI.

Lebih dari satu dekade berkarya, suami Zaskia Adya Mecca ini makin bahagia melihat perkembangan industri film Indonesia yang sukses lepas dari masa-masa suramnya. Hanung melihat bahwa tahun 2016 adalah salah satu tahun terbaik perfilman nasional.

"Saya senang di tahun 2016 kemarin itu dari sisi non-mainstream, film-film festival dan para pembuatnya itu jumlahnya meningkat, terus dari kualitasnya beragam dan dari sisi penghargaannya pun meningkat. Kita belum pernah mendapatkan penghargaan Cannes Film Festival dari zaman Mas Garin (Nugroho) atau dari zaman Usmar Ismail, setahu saya. Dan Wregas (Bhanuteja) mendapatkan itu di filmnya, PRENJAK," tuturnya saat ditemui di acara media gathering peluncuran Trailer dan Soundtrack KARTINI, Djakarta Theatre XXI, Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (21/3).

Hanung: "Saya senang di tahun 2016 kemarin itu film-film festival dan para pembuatnya itu jumlahnya meningkat."/©KapanLagi.com®/Agus ApriyantoHanung: "Saya senang di tahun 2016 kemarin itu film-film festival dan para pembuatnya itu jumlahnya meningkat."/©KapanLagi.com®/Agus Apriyanto

Selain itu, semakin bertambahnya jumlah sineas muda, maka kita sekarang tak hanya berpatok pada nama lama seperti Garin Nugroho dan Riri Riza. "Sekarang kita mengenal Anggi Noen, Wregas dan banyak lagi. Dan tak hanya di Jakarta, ada di Jogja, Palu, luar biasa lah," pujinya.

Tak hanya di sisi non-mainstream, namun industri perfilman Indonesia di sisi komersil juga mencatatkan prestasi luar biasa. Lebih dari 10 film di tahun lalu mampu mendapatkan angka 1 juta penonton. 

"Bagi saya tahun 2016 film Indonesia berjaya. Nah, tinggal di tahun 2017 apakah momentum ini semakin naik atau menurun. Tapi saya pikir sih naik karena dari sisi non-mainstream itu mencerahkan orang-orang untuk membuat film. Dan dari segi festival film tidak hanya di Jakarta, di Jogja ada, Makassar juga ada, di Purbalingga itu eksis sampai sekarang. Jadi, buat saya 2016 menjadi puncak kesuksesan film nasional, tinggal tahun 2017," ungkapnya.

Lelaki 41 tahun ini pun bersyukur jika kejayaan perfilman nasional mendapatkan perhatian pemerintah, salah satunya adalah dengan pembentukan BPI (Badan Perfilman Indonesia) dan juga Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif). "Tinggal bagaimana Bekraf dan BPI berupaya membangun perfilman nasional," harapnya.

Hanung: ""Tinggal bagaimana Bekraf dan BPI berupaya membangun perfilman nasional,"/©KapanLagi.com®/M. Akrom SukaryaHanung: ""Tinggal bagaimana Bekraf dan BPI berupaya membangun perfilman nasional,"/©KapanLagi.com®/M. Akrom Sukarya

Menurut bapak 4 anak ini, salah satu hal dasar yang paling dibutuhkan perfilman nasional adalah penambahan jumlah layar bioskop. Indonesia hanya punya 1000 layar dengan jumlah penduduk yang lebih dari 250 juta.

"Sementara di India, ada lebih dari 4000 layar. Korea Selatan penduduknya 30 juta aja punya 4000 layar, kita yang penduduknya 250 juta cuma punya 1000 layar. Buat saya itu menyedihkan, mestinya kita punya 10 ribu layar," ujarnya.

"Sekarang kita lihat di Jogja aja bioskop hanya ada di Jogja, nggak ada di Bantul, Imogiri, Wonosari. Coba di setiap kota ada. Tegal aja nggak ada. Di Jepara aja nggak ada, orang Jepara kalau mau nonton film KARTINI (film terbarunya), nggak bisa. Harus naik bus dulu ke Semarang atau ke Kudus," jelasnya.

Masih menurut Hanung, salah satu yang harus disupport pemerintah adalah membangun bioskop baru serta membuka peluang investasi baru. Hal itu sebenarnya sudah dilakukan, namun jarang investor yang tertarik karena pembangunan bioskop selalu seiring dengan pembangunan mall.

Penambahan jumlah layar jadi salah satu faktor penting untuk menunjang perkembangan industri film nasional/©KapanLagi.com®/Bayu HerdiantoPenambahan jumlah layar jadi salah satu faktor penting untuk menunjang perkembangan industri film nasional/©KapanLagi.com®/Bayu Herdianto

"Sementara mall itu sendiri merusak pasar. Tapi masalahnya, bioskop itu tak bisa lepas dari mall. Bukan salah pemerintah juga, tapi pelaku bisnis investasi juga," lanjutnya.

Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah mengubah mindset tersebut. Ia pernah punya ide untuk membangun bioskop di samping toko retail seperti Alfamart dan Indomaret. "Itu sedang kita upayakan. Tapi pemerintah dalam membangun bioskop non-mall itu sudah dilakukan cuma berat sih. Saya kalau punya uang juga kayaknya tidak bisa membuka bioskop di luar mall. Kenapa? Karena sekarang orang kan saking terbatasnya waktu, kalau ke satu tempat harus yang bisa semuanya ada makan ada, mainan anak ada, bioskop juga ada," tandasnya.

(kpl/far/tch)

Reporter:

Fikri Alfi Rosyadi


REKOMENDASI
TRENDING