'STADHIUS SCHANDAAL' Film Sejarah Dibuat Untuk Para Mlilenial

Selasa, 10 Juli 2018 11:15 Penulis: Rezka Aulia
'STADHIUS SCHANDAAL' Film Sejarah Dibuat Untuk Para Mlilenial Amanda Rigby dan Tara Adia akan bintangi film STADHUIS SCHANDAL. (KapanLagi.com/Fikri Alfi)

Kapanlagi.com - Sutradara senior Adisurya Abdy kembali menghadirkan film terbaru berjudul STADHIUS SCHANDAAL. Berbeda dengan film-film Adisurya sebelumnya, film ini memanfaatkan teknologi terbaru, computer generated imagery (CGI).

Tentu, ini menjadi terobosan baru bagi perfilman Indonesia, membuat film menggunakan kemajuan teknologi. Adisurya mengatakan, dengan menggunakan teknologi tersebut film STADHIUS SCHANDAAL bisa dinikmati oleh kaum milenial.

"Di produksi film saya berjudul STADHUIS SCHANDAAL, saya berusaha maksimal baik dari unsur cerita dan teknologi. Karena hasrat dan selera penonton terus berubah. Ketika film memasuki zaman mileneal, kami juga hadir di era kekinian," kata Adisurya Abdy saat ditemui di Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Jakarta Selatan, Senin (9/7/2018).

STADHIUS SCHANDAAL merupakan film yang mengangkat nilai sejarah dengan pendekatan masa kini. Tentu, ini menjadi film yang menarik untuk ditonton. Mengangkat nilai-nilai sejarah dibuat dengan cara modern. Menurut Adisurya, dengan cara inilah penonton milenial bisa mengerti tentang sejarah.

Film ini bercerita mengenai sejarah, namun dikemas dengan teknologi kekinian. (KapanLagi.com/Fikri Alfi)Film ini bercerita mengenai sejarah, namun dikemas dengan teknologi kekinian. (KapanLagi.com/Fikri Alfi)

"Kelemahan film kita adalah mengangkat kisah nyata sejarah tapi tidak dalam wujud kekinian, dalam artian memakai format pendekatan hiburan dan pop," kata Adisurya.

"Kalau kita bicara sejarah tempo dulu, maka mereka tidak paham. Filmlah yang memiliki ruang dan alat untuk memberi tahu mereka, apa dan siapa yang pernah terjadi di negeri ini. Caranya ikuti selera milenial," lanjutnya.

Film STADHUIS SCHANDAL sendiri mengisahkan tentang Fei (diperankan Amanda Rigby), seorang mahasiswi Ilmu Budaya Universitas Indonesia yang sedang mengerjakan tugas kampus mengenai The Old Batavia.

Saat mencari bahan dan riset di kawasan Kota Tua Jakarta, dia merasa diperhatikan seorang gadis keturunan Belanda dan Jepang yang kemudian dikenal sebagai Saartje Specx atau dipanggil Sarah (Tara Adia).

Sosok Sarah kemudian menghilang dari pandangan Fei saat dering telepon berbunyi. Pertemuan Fei dengan Sarah membuat dia tidak dapat menghilangkan pertanyaan dalam pikiran siapa sosok wanita yang memperhatikannya di Museum Fatahillah yang dulu bernama Stadhuis itu.

Ada dua kurun waktu yang ditampilkan dalam film terbaru karya Adisurya Abdy ini, yakni setting zaman kolonial pada abad ke-16 dan kekinian (modern). Tidak hanya menyutradarai, Adisurya juga menulis skenario film yang mengambil lokasi pengambilan gambar di Jakarta, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah dan Shanghai, Tiongkok. Film ini rencananya akan diputar di bioskop Tanah Air pada pertengahan tahun 2018.

(kpl/far/rna)

Reporter:

Fikri Alfi Rosyadi


REKOMENDASI
TRENDING