Syuting di Gunung Kidul, Acha Septriasa Jadi Lebih Syukuri Hidup

Rabu, 04 Mei 2016 10:52 Penulis: Fitrah Ardiyanti
Syuting di Gunung Kidul, Acha Septriasa Jadi Lebih Syukuri Hidup Acha Septriasa/©KapanLagi.com®/M. Akrom Sukarya
Kapanlagi.com - Acha Septriasa membuktikan kemampuan aktingnya dalam film berjudul MARS. Ia berperan sebagai Sekar Palupi, seorang gadis asal Gunung Kidul yang mampu kuliah hingga ke Oxford, Inggris.

"Film ini (bercerita) tentang pendidikan, bagaimana pentingnya meraih pendidikan, dan tidak bedakan dari mana kamu berasal," tuturnya saat ditemui di press screening film MARS (Mimpi Ananda Raih Semesta) di XXI Plaza Senayan, Jakarta Pusat, Senin (2/5).

"Saya meneruskan peran Sekar Palupi, anak Tupon (Kinaryosih), dari SMA sampe kuliah di Oxford. Dia tinggal dulunya di desa kecil, Gunung Kidul (Yogyakarta), sampe kuliah di Oxford kemudian pulang dan masih bercocok tanam di rumahnya. Film ini ceritakan perjuangan seorang anak yang tadinya ibu bapaknya hanya kuli batu dan petani tapi dia bisa selesaikan di Oxford pelajari astronomi makanya judulnya Mars," terangnya.

Dalam film arahan Sahrul Gibran ini Acha mengaku kesulitan berbahasa Jawa. Rekannya, Kinaryosih yang berangkat lebih dulu untuk proses reading, makin membuat tantangannya makin besar. 

Syuting di Gunung Kidul dengan fasilitas seadanya, Acha Septriasa makin mensyukuri hidup/©KapanLagi.com®/M. Akrom SukaryaSyuting di Gunung Kidul dengan fasilitas seadanya, Acha Septriasa makin mensyukuri hidup/©KapanLagi.com®/M. Akrom Sukarya

"Aduh saya belajarnya luar biasa. Dikritik banget sama sutradaranya. Saya juga bukan orang Jawa. Jadi bener-bener lembutnya orang Gunung Kidul sama bagaimana terlihat lebih malu-malu polos itu yang perlu aku tonjolkan. Bener-bener menarik sih. Refresh lagi jadi orang yang tinggal di kampung," jelasnya.

Kesulitannya tak hanya sampai di situ karena timnya harus menjalani syuting di Gunung Kidul selama kurang lebih 28 hari. Acha mengakui jika ia harus membiasakan diri untuk hidup jauh dari fasilitas dan kenyamanan di kota.

"Harus lebih bersabar karena hiburan gak ada. Di hotel juga seadanya. Kalo tidur di lokasi juga kadang di tikar aja. Kamar mandi juga gak sebagaimana mestinya. Semua itu pengalaman yang bikin aku lebih hargai hidup," kenangnya.

Namun, hal-hal di atas makin membuatnya bersyukur. "Bersyukur dan punya pengalaman lebih tinggal di desa yang luar biasa indah. Banyak tempat wisata bagus yang bisa dikunjungi. Tapi daerahnya benar-benar pas lagi kemarau ya hutannya banyak yang tandus, tanaman kering, air bersih jarang, listrik juga kayak jaman dulu susah masuk ke situ," tandasnya.

(kpl/hen/tch)


REKOMENDASI
TRENDING