Syuting Pakai 28 Kamera, Anggy Umbara Sebut '402 RUMAH SAKIT KOREA' Jadi Film Tersulitnya

Syuting Pakai 28 Kamera, Anggy Umbara Sebut '402 RUMAH SAKIT KOREA' Jadi Film Tersulitnya
Anggy Umbara/KapanLagi.com/Matias Purwanto

Kapanlagi.com - Sutradara Anggy Umbara kembali menghadirkan gebrakan baru di industri perfilman Indonesia melalui film horor terbaru bertajuk 402 Rumah Sakit Korea. Film produksi MD dan Umbara Brothers Films tersebut mengusung konsep found footage, sebuah teknik yang belum pernah digunakan Anggy secara penuh sepanjang kariernya sebagai sutradara. Tak tanggung-tanggung, proses penggarapan film ini bahkan memakan persiapan teknis hingga satu tahun.

Dalam jumpa pers yang digelar di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (6/7), Anggy membeberkan berbagai tantangan di balik proses produksi 402 Rumah Sakit Korea. Ia menjelaskan bahwa sejak tahap awal, tim kreatif dan teknis berjalan beriringan untuk memastikan kualitas visual film tetap terjaga meski menggunakan pendekatan found footage.

Menurut Anggy, film ini bukan sekadar menghadirkan kesan kamera genggam seperti kebanyakan film found footage. Ia bersama penulis naskah berupaya membangun pengalaman sinematik yang autentik sekaligus memiliki standar teknis tinggi. Karena itu, berbagai eksperimen dilakukan, termasuk menciptakan perangkat khusus yang dipasang langsung pada tubuh para pemain.

"Jadi ketika izin gol, bener-bener langsung berjalan bareng antara creativity dan teknis. Kreatif ya ngomong sama Lele (penulis) bahwa harus begini. Jadi kita bener-bener pengen bikin film found footage yang bener-bener prosesnya itu dan hasilnya itu terjaga banget kualitasnya," ujar Anggy Umbara.

1. Hadapi Banyak Tantangan Produksi

KapanLagi.com/Matias Purwanto

Salah satu tantangan terbesar adalah menciptakan body rig yang mampu menopang berbagai perangkat pendukung syuting. Anggy mengungkapkan, proses pengembangan perangkat tersebut memakan waktu hingga satu tahun karena harus melalui berbagai tahap percobaan dan evaluasi.

"Ya itu yang harus kita bedah terlebih dahulu, membuat rigging di badan para pemain. Itu prosesnya satu tahun untuk membuat body rig gitu. Dari mulai kita bubut, desain dulu pakai besi. Ternyata berat sekali kalau pakai besi, kokoh, tapi berat sekali. Kalau untuk adegan berbahaya itu sangat berbahaya," kenang Anggy.

Setelah material besi dianggap terlalu berat, tim produksi beralih menggunakan aluminium. Namun, solusi tersebut ternyata belum mampu menjawab kebutuhan produksi karena materialnya mudah berubah bentuk ketika menopang berbagai perangkat tambahan seperti kamera, lampu, baterai, dan transmitter.

"Kita ganti lagi dengan aluminium. Aluminium lebih ringan, lebih gampang kita bentuknya. Ternyata peyot dan kurang kuat untuk menahan ada kamera, ada lampu, ada transmitter, ada baterai. Semuanya jadi bener-bener harus didesain khusus," jelas Anggy.

2. Manfaatkan Teknologi untuk Mendukung Proses Syuting

KapanLagi.com/Matias Purwanto

Teknologi 3D printing akhirnya menjadi jawaban atas berbagai kendala tersebut. Dengan memanfaatkan material berbasis resin dan campuran bahan khusus, tim berhasil menciptakan perangkat yang kokoh sekaligus cukup ringan untuk digunakan para pemain selama proses syuting.

"Jadi kita bikin dulu secara 3D, terus kita print 3D nya gitu kan dengan bahan resin campur beberapa bahan lainnya agar itu kuat tapi juga nggak lemah," tambah Anggy.

Perangkat tersebut kemudian diintegrasikan dengan tas punggung khusus sepeda gunung yang berfungsi menyimpan baterai dan transmitter. Bobot keseluruhan perangkat bahkan bisa mencapai lebih dari lima kilogram dan diproduksi dalam jumlah puluhan unit untuk mengantisipasi kerusakan saat syuting berlangsung.

"Akhirnya jadilah kesatuan pack itu, makanya agak berat, 5 kg tergantung isinya gitu kan. Kita cetak hampir 20 lebih kita cetak. Sekali rusak, patah, ya udah kita bikin lagi," tutur Anggy.

3. Banyak Tantangan saat Syuting

KapanLagi.com/Matias Purwanto

Tantangan berikutnya datang dari aspek pencahayaan. Sebagai film found footage, kamera tidak boleh menangkap keberadaan lampu syuting, padahal pencahayaan tetap diperlukan untuk membangun atmosfer sekaligus memperjelas bentuk subjek dan lokasi. Situasi ini memaksa tim produksi melakukan pengambilan gambar berulang kali dan melakukan proses masking secara detail pada tahap pascaproduksi.

"Kita enggak boleh kelihatan lampu sama sekali. Sedangkan ya harus, kalau enggak, enggak kelihatan shape body-nya atau lokasinya. Jadi kita ngambil beberapa kali. Satu yang tanpa lampu, satu yang pakai lampu. Yang kelihatan lampunya baru kita masking sendiri, kita ilang-ilangin lampunya," ucap Anggy.

Kerumitan produksi semakin bertambah karena film ini menggunakan total 28 kamera yang merekam secara bersamaan. Anggy mengaku proses penyuntingan menjadi salah satu pengalaman paling menantang sepanjang kariernya karena proses penyusunan gambar memerlukan waktu berhari-hari.

4. Syuting Memakai 28 Kamera

"Biasanya syuting cuma satu atau dua kamera, ini 28 kamera. Itu meng-assemble hasil syutingnya itu berhari-hari. Kalau biasa kan assemble 4 jam atau 6 jam, ini enggak, 3 hari gitu. 24 jam dikali 3," tutup Anggy.

Kerja keras Anggy Umbara dan seluruh tim produksi pun membuahkan hasil membanggakan. Film 402 Rumah Sakit Korea terpilih untuk menjalani World Premiere di Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) 2026. Film horor yang dibintangi Arbani Yasiz, Saputra Kori, Jang Hansol, Diandra Agatha, Lea Ciarachel, dan Aylena Fusil ini dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 9 Juli 2026.

402 Rumah Sakit Korea menghadirkan kisah horor dengan pendekatan found footage yang mengikuti serangkaian peristiwa mencekam di sebuah rumah sakit yang menyimpan misteri kelam. Melalui sudut pandang kamera yang menyatu dengan karakter, penonton diajak merasakan pengalaman teror secara langsung dan intens sepanjang film berlangsung.

(Rizky Billar polisikan enam akun sosial media terkait hoaks cerai dan perselingkuhan.)

Rekomendasi

Trending