FILM INDONESIA

Telan Biaya 1,2 Miliar Film 'PESANTREN' Ingin Tepis Stigma Negatif Tentang Pesantren

Selasa, 19 April 2022 14:51 Penulis: Dian Eka Ryanti

© KapanLagi.com/Dadan Eka Permana

Kapanlagi.com - Tak lama lagi penikmat film Indonesia akan disuguhkan sebuah film religi berjudul PESANTREN. Rencananya, film yang disutradarai dan diproduseri Shalahuddin Siregar ini akan tayang di bioskop mulai 26 Mei 2022. Shalahuddin mengaku membuat film tersebut berangkat dari keresahannya terhadap stigma negatif yang diberikan pada Pesantren sebagai tempat yang kolot dan tidak berkembang. Bahkan dibilang tempat teroris diajarkan.

"Jadi film Pesantren ini berkaitan dengan film dokementer pertama saya, Negeri di Bawah Kabut. Ada salah satu karakter yang memilih masuk pesantren karena terbentur biaya. Film itu banyak diputar di festival internasional dan Indonesia. Waktu diskusi ada yang komentar 'masuk pesantren itu bakal membuat anak jadi teroris'. Stigma itu yang membuat saya resah," kata pria yang akrab disapa Udin ini di Pondok Pesantren Al-Furqon, Singaparna, Tasikmalaya.

Dengan berbekal ingin mendobrak pandangan keliru tentang pesantren, Udin mulai melakukan penelitian tentang Pesantren dari tahun 2015 dan mulai melakukan kegiatan syuting pada 2017-2018.

1. Dipahami Dengan Santai

Pesantren Kebon Jambu, Cirebon, dipilih Udin sebagai lokasi syuting di antara sekian banyak Pesantren yang berada di Indonesia.

"Poinnya film ini ingin membuat penonton memahami bahwa Islam santai dalam menghadapi persoalan dan perbedaan," tutur Udin.

2. Pemilihan Lokasi

Pemilihan Pesantren Kebon Jambu, Cirebon sebagai lokasi syuting, bukan tanpa alasan. Pesantren tersebut dipimpin seorang wanita dengan jumlah 1.800 santri.

"Kami syuting selama 100 hari dan kami berada di situ. Kami ambil momen momen yang menarik. Kami menghabiskan biaya 1,2 miliar untuk film ini," kata Udin.

3. Bisa Menjadi Spirit

Dengan begitu, Lola Amaria yang menjadi rekanan Udin dalam film tersebut, mengatakan film ini juga bisa menjadi spirit bahwa wanita juga bisa menjadi seorang pemimpin.

"Di film ini seperti membuka jalan bagi santriwati yang memiliki leadership untuk memimpin. Artinya perempuan juga bisa memimpin, terbuka untuk siapapun dan nggak ada yang bilang perempuan nggak boleh memimpin," kata Lola Amaria.

4. Pemutaran Pertama Kali

Film PESANTREN, diedit di Jerman dengan menelan biaya produksi Rp 1,2 miliar. Film ini sudah diputar pertama kali untuk publik di IDFA (International Documentary Film Festival) di Amsterdam pada November 2019.

IDFA adalah festival film dokumenter terbesar dan paling bergengsi di dunia. Film ini disambut dengan antusias, terbukti dengan tiket yang terjual habis untuk dua pemutaran pertama.

5. Memberi Kesempatan

Sebelum tayang di bioskop, Udin dan Lola Amaria memberi kesempatan bagi santri untuk melihat film yang menggambarkan kehidupan pesantren tersebut selama bulan ramadan ini.

"Film ini bagus, misinya juga bagus, konteknya aktual, dan saya merasa banyak orang yang harus nonton film ini agar terbuka bahwa kita menghargai perbedaan dan yang utama Islam itu baik," kata Lola Amaria.

6. Target Pemutaran Film PESANTREN

Ada sekitar 10 Pesantren di Pulau Jawa yang menjadi target pemutaran film PESANTREN, yakni Pesantren Al Islamy Kebon Jambu Ciwaringin Cirebon, Pesantren PDF & Ma'had Aly Walindo Pekalongan, Pesantren Al Mas'Udiyyah Bandungan Semarang, Pesantren Daarussalam Bergas Semarang.

Adapula Pesantren Aisyiyah Batununggal Bandung, Pesantren Amanah Tasikmalaya, Pesantren Attajdi Tasikmalaya, Pesantren AlFurqon Singaparna Tasikmalaya, Pesantren Al Furqon Cibiuk Garut, dan Pesantren Syamsul Ulum Bandung.

(kpl/dan/dyn)

Reporter: Dadan Deva

 

REKOMENDASI
 
TRENDING