FILM INDONESIA

Tuai Kontroversi, Randy Pangalila Mengira 'KUCUMBU TUBUH INDAHKU' Tak Akan Masuk FFI

Minggu, 08 Desember 2019 07:15 Penulis: Ayu Srikhandi

Randy Pangalila © KapanLagi.com/Daniel Kampua

Kapanlagi.com - KUCUMBU TUBUH INDAHKU mendapatkan 12 nominasi dalam Festival Film Indonesia 2019. Nominasi tersebut meliputi kategori Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik, Penulis Skenario Asli Terbaik, sampai Film Panjang Terbaik.

Randy Pangalila yang dinominasikan sebagai Pemeran Pendukung Pria Terbaik mengaku tak percaya filmnya mendapat banyak apresiasi di ajang bergengsi bagi insan perfilman Indonesia tersebut. Pasalnya ia sempat mengira drama besutan Garin Nugroho itu tidak akan masuk proses seleksi lantaran bertemakan LGBT.

"FFI yang masuk standar tertinggi untuk perfilman Indonesia ternyata welcome banget sama film ini dan itu luar biasa. Aku pikir tadinya FFI bakal takut dicekal, tapi ternyata nggak. Itu yang aku salut, berarti FFI nggak pandang sebelah mata. Semua film punya kesempatan yang sama," kata Randy ditemui di Plaza Indonesia, kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (7/12/2019).

1. Respon Positif di Luar Negeri

Meski mendapat pandangan negatif ketika diedarkan di dalam negeri, KUCUMBU TUBUH INDAHKU justru meraih respon positif dari luar negeri. Tak heran bila langkah FFI memberi apresiasi lebih dari yang diharapkan membuat Randy Pangalila senang

"Film ini ketika diputar di festival luar isunya menjadi sangat menarik. Di sana mereka amazed karena kalian yang mayoritas muslim bisa bikin film begini. Bahkan film ini dapat award dari UNESCO lantaran mewakili keberagaman di Asia Tenggara. Itu (masuk FFI) menurut saya sangat menarik, apalagi dengan pro kontra di negara ini, artinya masyarakat bener-benar diarahkan untuk berdialog. Bahwa pencekalan itu membuka diskusi publik," imbuhnya.

2. Menonton Sebelum Berkomentar

Randy Pangalila sangat paham akan kontroversi yang menghampiri film KUCUMBU TUBUH INDAHKU. Menurutnya, hal tersebut tidak akan terjadi apabila pihak yang mempermasalahkan menonton karyanya terlebih dahulu baru kemudian menelaah.

"Masyarakat kita kan seringnya berita belum bener udah disebar. Biasakan baca, nonton sebelum komentar, pelajari dulu apa yang mau dibicarakan baru berbicara. Jadi jangan baru dengar sedikit langsung gampang tersulut api. Saya berharap masyarakat kita mengubah kebiasaan berkomentar sebelum menonton," tandasnya.


REKOMENDASI
TRENDING